Rabu, 16 Oktober 2019 |
Hukum

3250 Populasi Burung Liar Sumatera Berkurang Setiap Harinya Akibat Perburuan Ilegal

Jumat, 23 Agustus 2019 10:49:57 wib
Foto: flight protecting birds

JAMBIDAILY HUKUM - Burung liar Sumatera sedang mengalami krisis. Untuk memenuhi permintaan besar dari pasar-pasar burung, terutama di Jawa, perburuan dan penyelundupan burung liar Sumatera menjadi tidak terkendali. Burung-burung bahkan ditangkap dari kawasan lindung, seperti Taman Nasional Bukit Barisan Selatan dan Taman Nasional Kerinci Seblat.

Data FLIGHT: Protecting Indonesia's Birds mengungkapkan bahwa 3250 populasi burung liar Sumatera berkurang setiap harinya akibat perburuan ilegal. Dari jumlah tersebut, 1300 burung diselundupkan untuk memasok kebutuhan pasar-pasar burung di Jawa setiap harinya. Selebihnya untuk memasok kebutuhan di pasar-pasar burung lokal di Sumatera dan mati saat berada di tangan pemburu, pengumpul dan pedagang besar.

Antara Januari 2018-20 Agustus 2019, terdapat 45 kasus upaya penyelundupan yang berhasil digagalkan petugas di Pelabuhan Bakaheuni, Lampung dan Pelabuhan Merak, Banten dengan jumlah 39.600 burung yang disita. Burung burung tersebut disita saat hendak diselundupkan dari Sumatera ke Jawa. Dari 45 Kasus penyitaan, burung seringkali diberangkatkan dari Riau, Jambi, Lampung, Sumatera Selatan dengan tujuan Jakarta, Banten, Jawa Tengah, dan Jawa Barat.

Pelabuhan Bakaheuni di Lampung dan Pelabuhan Merak di Banten adalah pelabuhan yang menghubungkan pulau Sumatera dan pulau Jawa. Jenis burung yang sering ditemukan saat disita adalah ciblek (prinia), pleci (Zosterops), burung madu (Nectariniidae), Gelatik (Parus cinereus), cucak hijau (Chloropsis sonnerati), poksay genting (Garrylax Mitratus), dan srindit (Loriculus).

Manager Kampanye FLIGHT, Tania Bunga Hernandita mengatakan bahwa upaya menyelamatkan burung Sumatera saat ini berfokus pada mencegah penyelundupan mereka dari Pulau Sumatera ke Pulau Jawa di Pelabuhan Bakaheuni, Lampung dan pelabuhan Merak, Banten. Sementara pengawasan terhadap para pengumpul burung dan para pedagang masih sangat lemah. Investigasi FLIGHT menemukan adanya para pengumpul burung yang berlokasi di dekat perbatasan Taman Nasional. Dari para pengumpul, burung burung ini kemudian dikirim ke para pedagang besar yang berada di banyak kota, seperti Pekanbaru, Jambi, Sumatera Selatan, dan Lampung. Sebagian dari pedagang tersebut memiliki ijin usaha pengedar dari Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) setempat.

Tania memberikan apresiasi kepada para petugas di pelabuhan Bakaheuni dan Pelabuhan Merak atas kerja keras mereka untuk menggagalkan maraknya penyelundupan burung Sumatera ke Pulau Jawa. Namun, ia menekankan bahwa Kementerian Kehutanan dan Lingkungan Hidup (KLHK) juga memiliki tugas untuk mengawasi lebih dekat para pedagang dan mencegah burung-burung ini dicuri dari habitat aslinya.

Menurut Tania, mengawasi dengan ketat para pedagang dan mencegah burung diambil dari habitat aslinya meningkatkan peluang mereka untuk bertahan hidup.

"Burung-burung yang disita di pelabuhan dari upaya penyelundupan biasanya telah menempuh perjalanan yang jauh, kadang-kadang mencapai ratusan kilometer. Banyak yang tidak mampu bertahan (mati) karena kondisi buruk di mana mereka disimpan selama menempuh perjalanan. Mereka dijejalkan ke dalam peti atau kotak kecil, seringkali tanpa akses ke makanan dan air “, Kata Tania.

Sementara itu Direktur Eksekutif FLIGHT Marison Guciano menyoroti sejumlah besar pasar burung ilegal yang beroperasi dengan kontrol minimal. “Selama mereka diizinkan beroperasi, permintaan burung akan tetap tinggi ,” katanya.

Selain itu, ia juga menemukan adanya pasar burung yang menjual burung dengan status dilindungi secara terbuka. “Pasar burung Sukahaji di Bandung adalah salah satu pasar yang menjual banyak hewan dilindungi secara terbuka,” tuturnya.

 

Sumber: flight protecting birds

KOMENTAR DISQUS :

Top