Jumat, 24 November 2017 |
Wisata & Budaya

Bantai Adat Ramadhan, Menjaga Tradisi dan Menekan Harga Daging

Kamis, 25 Mei 2017 20:22:03 wib
Bupati Merangin H Al Haris melihat kondisi hewan menjelang prosesi bantai adat

JAMBIDAILY BUDAYA-Bantai adat, merupakan salah satu tradisi turun temurun dan merupakan kekayaan budaya yang diwariskan para leluhur dalam menyambut bulan suci Ramadhan dan Hari Raya.

Bantai adat sendiri merupakan penyembelihan hewan, kerbau atau sapi yang disembelih secara massal sebagai bagian dari kebahagiaan untuk memenuhi kebutuhan daging hewan menyambut Ramadhan.

Tradisi tersebut hingga saat ini masih terjaga dengan baik di Kabupaten Merangin Provinsi Jambi.

"Bantai adat adalah tradisi masyarakat Merangin secara turun temurun dari zaman dahulu kala, menjelang Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri. Dimana hewan yang disembelih hasil pembelian dari beberapa kepala keluarga dan dagingnya dibagi kepada berapa kepala keluarga yang membeli hewan tersebut,"papar Bupati Merangin, H Al Haris, saat bersama bersama Sekda Merangin H Sibawaihi dan Ketua TP PKK Merangin Hj Hesti Haris membuka prosesi bantai adat (penyembelihan hewan massal jelang Ramadhan dan Idul Fitri), Selasa (22/05) di Kecamatan Tabir.

Selain itu terang bupati, ada juga hewan yang tidak dibeli secara kelompok. Hewan itu beli dan disembelih oleh para saudagar (pegadang). Dimana daging dari hewan yang disembelih kemudian dijual kepada masyarakat, dengan harga dibawah  harga pasar.

‘’Biasanya daging yang didapat dari acara prosesi Bantai Adat itu, masing-masing keluarga memasaknya untuk kebutuhan selama Ramadhan, bila Bantai Adat Ramadhan seperti sekarang ini. Apabila Bantai Adat Idul Fitri dagingnya untuk kebutuhan selama Lebaran Idul Fitri,’’terang Bupati.

Bupati sangat memberikan apresiasi terhadap acara prosesi Bantai Adat tersebut, kerena banyak manfaat yang dirasakan. Selain sebagai ajang silaturahmi, Bantai Adat juga sebagai kegembiraan masyarakat menyambut Ramadhan dan Hari Raya Idul Fitri.

Prosesi Bantai Adat juga mampu menekan harga daging di pasaran, sehingga harga daging tidak melambung saat jelang Ramadhan dan Idul Fitri. Selain itu, yang terpenting terjadinya kebersamaan masyarakat bisa menikmati daging saat menjalankan ibadah puasa dan lebaran.

‘’Jelasnya menu beberapa minggu puasa sudah terjamin, ada dagingnya. Tinggal menambahkan sedikit sayuran dan takjil saat berbuka puasa. Pastinya selama puasa baik saat buka maupun sahur, di setiap rumah ada rendang,’’jelas Bupati.

Bantai adat tersebut berlangsung meriah dibanjiri ribuan masyarakat di Lapangan Desa Mampun itu.  Ada sekitar 70 hewan yang disembelih secara massal. Tidak hanya hewan jenis sapi yang disembelih, tapi juga kerbau yang beratnya mencapai lebih dari 600 Kg.(*)


Laporan   : Teguh (HMS)

KOMENTAR DISQUS :

Top