Jumat, 19 Juli 2019 |
Ekonomi

Banyak Drama, SKK Migas: Proyek Masela Selesai 2026

Sabtu, 11 Mei 2019 20:36:28 wib
Foto: CNBC Indonesia TV

JAMBIDAILY EKONOMI - Pembahasan proyek lapangan Abadi Blok Masela sampai saat ini masih terus bergulir. Satuan Kerja Khusus Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (SKK Migas) menargetkan, semester I 2019 ini, rencana pengembangannya (plan of development/POD) rampung.

Kepalas SKK Migas Dwi Soetjipto menuturkan, jika rencana pengembangannya sudah disetujui di tahun ini, maka pada 2020-2021 akan dilakukan tender EPC (Engineering, Procurement, and Construction) atau perancangan sistem yang akan dibangun.

"Saya kira 2021 sudah akan mulai kegiatan procurement, dan sebagainya, dan kami lihat kurang lebih 2022-2027 konstruksi lapangan akan dilakukan," ujar Dwi kepada CNBC Indonesia dalam wawancara di CNBC Indonesia TV, di Jakarta, Jumat (10/5/2019) malam.

Lebih lanjut, Dwi mengatakan, saat ini pihaknya sedang mencoba untuk membuat agar proyek ini bisa selesai dan beroperasi lebih cepat dari waktu yang dijadwalkan. Dwi menyebut, pihak kontraktor, yakni Inpex, menargetkan proyek Masela akan selesai di 2027.

"Tetapi, kami punya keyakinan apabila kami bisa lebih menggenjot dan melakukan kegiatan yang lebih baik pada proyek ini, mungkin bisa selesai di 2026," tutur Dwi.

Beberapa waktu lalu ada kabar tidak enak lagi-lagi datang dari proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela. Setelah peliknya urusan pengesahan rencana pengembangan (POD), kini proyek tersebut terancam ditinggalkan investornya. 

Kabar tersebut muncul dari sumber Reuters yang mengatakan Royal Dutch Shell ingin melego 35% sahamnya dari proyek gas alam cair (LNG) Lapangan Abadi itu. Nilai saham itu setara dengan US$ 1 miliar atau setara dengan Rp 14,2 triliun (asumsi kurs Rp 14.200/US$).

Seperti dilansir dari Reuters, Jumat (3/5/2019), perusahaan migas asal Eropa ini akan menjual sahamnya untuk mendukung pembayaran atas akuisisi BG Group senilai US$ 54 miliar pada 2015.

Terkait hal ini, Dwi pun menegaskan, Blok Masela tidak ada masalah dan sampai saat ini Inpex sebagai lead operator juga terus fokus ke progres pengembangan proyek.

"Secara informal, Shell Indonesia menyatakan tidak ada rencana penjualan. Kalaupun Shell keluar dari blok Masela, tidak begitu menganggu karena masih terdapat Inpex sebagai lead operator," imbuhnya.


Drama di Blok Masela

Di kesempatan berbeda, Dwi pernah mengatakan, kajian pembahasan soal penyamaan asumsi belanja modal (capex) untuk blok Masela sudah semakin mengerucut.

Akan tetapi, memang masih ada gap dan perbedaan persepsi antara keinginan pemerintah dan penawaran investor tidak dapat dipungkiri. Hal ini yang masih mengganjal dan sedang dicari titik temunya.

"Kalau sulit dicapai titik temunya, kami pikirkan apakah bisa kami jalankan dulu sambil melakukan peninjauan-peninjauan kembali. Ya tapi ini masih pola-pola alternatif, sekarang fokus mencari supaya perkecil gap tadi," kata Dwi saat dijumpai di Kantor SKK Migas, Selasa (30/4/2019).

"Bagaimanapun proyek ini harus segera jalan karena kepentingan negara. Kalau bisa jalan, investasi masuk, ada discovery cukup besar yang bisa dimonetisasi, dan multiplier effect yg besar," pungkasnya. 

 

 

(hps)/cnbcindonesia.com

KOMENTAR DISQUS :

Top