Minggu, 17 Desember 2017 |
Peristiwa

Basarnas Kian Awasi Gunung Anak Krakatau, Ada Apa?

Rabu, 06 Desember 2017 04:21:40 wib
Gunung Anak Krakatau/Photo: VIVA/Yandi Deslatama

JAMBIDAILY NASIONAL - Badan SAR Nasional (Basarnas) meningkatkan kewaspadaan terhadap aktivitas Gunung Anak Krakatau seiring  meningkatnya aktivitas gunung yang berada di Selat Sunda itu.

"Saya diingatkan dari teman-teman Basarnas pusat untuk memantau terus status Krakatau," kata Kepala Basarnas Banten, Zaenal Arifin, melalui pesan singkatnya, Selasa 5 Desember 2017.

Zaenal menjelaskan, peningkatan pengawasan ini bertujuan untuk menghindari dampak letusan dahsyat Gunung Krakatau pada 1883.

"Mengingat adanya beberapa gunung api yang sudah mulai beraktivitas dan bahkan meletus seperti Gunung Agung," ujarnya.

Pada 29 September 2017, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) merilis 18 gunung berapi di Indonesia yang naik status menjadi waspada usai meletusnya Gunung Agung dan naik statusnya Gunung Sinabung di Sumatera Utara.

Ke-18 gunung tersebut yakni Gunung Anak Krakatau (Selat Sunda), Gunung Banda Api (Maluku), Gunung Bromo (Jatim), Gunung Dempo (Sumsel), Gunung Dieng (Jateng), Gunung Dukono (Malut), dan Gunung Gamalama (Malut).

Selanjutnya Gunung Gamkoro (Malut), Gunung Ibu (Malut), Gunung Karangateng (Sulut), Gunung Kerinci (Jambi), Gunung Lokon (Sulut), Gunung Rinjani (NTB), Gunung Rokatenda (NTT), Gunung Sangeangapi (NTB), Gunung Semeru (Jatim), dan Gunung Soputan (Sulut).

Indonesia berada dalam jalur Ring of Fire dan pertemuan tiga lempeng bumi, yaki Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik yang terus bergerak memicu magma terdorong dan terseduksi di kedalaman 100 kilometer menuju permukaan.

Dalam sejarahnya, letusan Gunung Krakatau pada 26-27 Agustus 1883 masih menjadi yang terdahsyat. Ledakan besar itu kini menyisakan Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda.

Letusannya pada 1883 menyebabkan tsunami, kepulan asap panas dan menewaskan 36 ribu jiwa. Saking dahsyatnya, letusan Gunung Krakatau terdengar sampai Australia dan Afrika yang berjarak sekitar 4.653 kilometer. Daya ledaknya mencapai 30 ribu kali bom atom Hiroshima dan Nagasaki.

Efek dari kepulan debu vulkaniknya menyebabkan perubahan iklim global dan dunia sempat gelap seperti malam hari selama dua hari.

Tercatat, letusan Gunung Krakatau menjadi bencana terbesar pertama di dunia setelah penemuan telegraf bawah laut.

Akibat ledakan hebatnya itu, tiga perempat tubuh Gunung Krakatau hancur dan menyisakan kaldera di Selat Sunda yang kini dikenal sebagai Pulau Rakata, Pulau Panjang dan Pulau Sertung.

Letusan yang berlangsung selama 10 hari dengan muntahan material mencapai 10 juta ton per detik membentuk perisai di atmosfer setebal 20-150 meter dan menurunkan temperatur bumi sebesar 10 derajat selama 20 tahun.

Kini, dari kawah di dasar laut telah tumbuh Gunung Anak Krakatau dan tingginya mencapai 813 meter dari permukaan laut. (ren)

 


Sumber: VIVA.co.id/ Editor: Hendry Noesae

KOMENTAR DISQUS :

Top