Sabtu, 26 Mei 2018 |
Politik

Bebaskan Cabup Asal Kerinci Hilir Masuk Kerinci Tengah dan Kerinci Mudik

Jumat, 09 Februari 2018 15:57:11 wib

JAMBIDAILY KERINCI - Tensi politik Pilkada Kerinci terus meninggi menjelang penetapan dan pencabutan nomor urut pasangan calon bupati dan calon wakil bupati Kerinci.  Gerakan tim 9 Kerinci Hilir menggalang tokoh Kerinci Hilir didalam dan diluar daerah. Serta mencuatnya nama Kerinci Hilir,  paska terbentuknya tim 9 Kerinci Hilir dengan menanda-tangani fakta integritas ‘Kerinci Hilir Bersatu’  hanya mengusung dan memilih satu calon terus disorot.

Candra Purnama salah seorang tim 9 Kerinci Hilir Bersatu menepis bahwa munculnya Kerinci Hilir bersatu bertujuan untuk mengkotak – kotakan Kabupaten Kerinci. Menurut dia, tujuan awal tim Kerinci Hilir ini untuk mempercepat proses pemekaran Kabupaten Kerinci. Sebab, kata dia, pemekaran Kabupaten Kerinci itu sudah dicita – citakan dan digagas jauh sebelum ini.

“Kita tidak ada mengkotak – kotakan Kerinci. Tujuan kita mempercepat proses pemekaran. Pemekaran itu sendiri sudah dicanangkan sejak zaman Bupati Rusdi Sayuti dan orang tua saya (Bupati Muhammad Daud),” terangnya

Dia menjelaskan, sudah jauh harinya pemekaran Kabupaten Kerinci direncanakan dibagi tiga berdasarkan wilayah Kerinci terdahulu. Sebab, lanjutnya, Kerinci dizaman itu terbagi tiga kecamatan, yaitu kecamatan Kerinci Hulu, kecamatan Kerinci Tengah dan Kecamatan Kerinci Hilir.

“Nah, untuk Kerinci bagian tengah (Sungaipenuh) sudah dimekarkan. Sekarang tinggal lagi Kerinci Hilir,” terangnya
Untuk pilkada Kerinci, lanjutnya, tokoh Kerinci Hilir membebaskan pasangan calon Bupati dan calon wakil Bupati dari daerah hulu dan tengah untuk bersosialisasi di Kerinci Hilir. Demikian juga sebaliknya, dia berharap Kerinci Tengah dan Mudik juga membebaskan cabup dan cawabup Kerinci Hilir (ZA-Arsal) bersosialisasi diwilayah tersebut.

“Didaerah hilir ini demokrasi, tidak ada primodial wilayah. Kita tidak ada mencegah cabup dan cawabup dari Tengah dan Mudik untuk bersosialisasi disini, kita harapkan juga di Tengah dan Mudik juga bertindak sama seperti dihilir ini. Cabup dan cawabup Kerinci Hilir bisa bersosialisasi disana,” terangnya

Pengamat politik pilkada Kerinci Jafar Ahmad juga sepakat apa yang telah disampaikan Candra Purnama tentang, Kerinci Hilir tidak ada primodial wilayah. Menurut dia, berdasarkan survey yang telah dilakukan, masyarakat Kerinci Hilir lebih terbuka dan demokrasi menerima pasangan calon bupati dan wakil bupati diluar wilayahnya. Hal ini berbeda dengan masyarakat Tengah dan Mudik.

“Ini sudah dibuktikan di dua Pilkada. Pilkada 2008, wilayah Semurup mayoritas atau 80 persen suara ke Ami Taher. Wilayah Siulak juga 80 persen memilih Murasman,” terangnya

“Untuk pilkada 2014 lalu, juga sama. Orang Kerinci Mudik memilih calon yang sama asalnya dengan mereka. 2014 lalu, Siulak Mukai memilih Murasman dan Siulak memilih Adirozal,” terangnya
Kemudian, lanjutnya, pada survey Maret 2017 lalu, masyarakat Kerinci Mudik juga tetap memilih calon yang berasal dari wilayah Kerinci Mudik.

“Di Kerinci Mudik kita tawarkan tiga opsi. Misal calon A dan B berasal dari Kerinci Mudik. Calon C berasal dari Kerinci Hilir. Saat ditanya, masyarakat Kerinci Mudik tetap memilih calon yang berasal dari wilayah mereka. Sedangkan masyarakat Kerinci Hilir lebih terbuka menerima calon dari luar,” terangnya
“Salah satu A dan B tidak mencalon (cabup mudik). Pemilih Mudik juga tidak lari memilih calon dari Hilir, mereka tetap memilih calon dari orang mereka,” terangnya

Menyikapi hasil didua pilkada dan survey yang telah dilakukan. Kerinci Mudik dan Kerinci Tengah tebih primodial memilih calon bupati. Berbeda dengan pemilih dari Kerinci Hilir.

“Berdasarkan data-data, Kerinci Hilir ini lebih demokrasi. Sedangkan, Kerinci Mudik dalam memilih calon bupati lebih primodial kedaerahan. Jadi, masyarakat Kerinci Mudik dan Tengah lebih sadar politik dan amat mengerti apa pentingnya memilih calon Bupati untuk kepentingan mereka,” terangnya (gsm/fyo)

KOMENTAR DISQUS :

Top