Jumat, 23 Februari 2018 |
Wisata & Budaya

Berburu Pusaka Satu Suro di Jawa Tengah

Jumat, 08 Mei 2015 06:59:05 wib

JAMBIDAILY BUDAYA-Benteng Srimanganti masih tampak kokoh berdiri mengelilingi lahan seluas 2,5 hektare  bekas lokasi keraton Kartasura. Terletak di Desa Krapyak, Kecamatan Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah. Benteng tersebut menjadi saksi bisu keraton Kartasura yang berdiri pada tahun 1680-1742, oleh Amangkurat II.

Tidak sulit menemukan keberadaan Keraton Kartasura. Berada di bagian barat kota Solo, dan hanya 15 menit perjalanan menggunakan kendaraan. Sekitar 300 meter ke selatan dari jalan utama Slamet Riyadi Kartasura, benteng yang dulu melindungi keluarga kerajaan dari serbuan pemberontak, sudah terlihat.

Benteng setinggi empat meter dengan tebal 2 meter, saat ini berada di tengah perkampungan warga. Di bagian dalam benteng digunakan sebagai makam keluarga dan keturunannya.

Dari 2,5 hektare, dua hektarenya digunakan sebagai makam. Satu di antara makam itu ada makam yang tersohor yaitu pasarean Raden Ayu Adipati Sedah Mirah. Dimakamkan pada tahun 1826.

Sedah Mirah adalah garwa kinasih Paku Buwono IX. Meski seorang perempuan, namun dia ahli silat dan pedang. Sehingga di luar kapasitasnya sebagai garwa ampil, Sedah Mirah juga dianugerahi gelar adipati di depan namanya oleh raja.

“Makam ini yang paling banyak diziarahi oleh masyarakat. Peziarah mencoba ngalap berkah di kompleks pemakamannya,'' kata Slamet, juru pelihara keraton Kartosuro.

Sedang bangunan yang sering didatangi adalah bekas kamar Raja di sebelah timur bagian dalam keraton. Tampak sebuah dua batu diatas lantai berukuran kurang lebih 4x4 meter dengan tinggi 50 centimeter.

Batu ini berada di bawah pohon beringin raksasa, setinggi 20-an meter. Alang-alang, rumput liar yang tumbuh subur di sekelilingnya. Pengunjung di situs ini sebagian besar adalah para pemburu “pusaka” yang sering datang saat malam 1 Suro.

“Saya pernah melihat penampakan di sini berwujud kakek tua pakai surban,” ungkapnya.

Runtuhnya Kartasura diawali dengan pergolakan yang terjadi antara orang-orang Tionghoa yang ditanggapi dengan keras oleh VOC dengan pembantaian.  Peristiwa yang juga dikenal dengan Geger Pacinan itu sebenarnya terjadi jauh di Batavia namun akhirnya meluas hingga ke pelosok Jawa.

Pakubuwana II sebagai penguasa saat itu pada awalnya mendukung sikap orang-orang Tionghoa sebelum akhirnya berbalik melawan mereka dan mendukung Belanda.

Berawal dari sikap Pakubuwana II itulah perlawanan pemberontak justru semakin besar hingga akhirnya menyerbu Kartasura dan memaksa Pakubuwana II mengungsi keluar dari Kartasura.

Meskipun Belanda berhasil merebut kembali Kartasura dari tangan pemberontak, namun peristiwa itu menimbulkan dampak luar biasa termasuk luluh lantaknya Keraton Kartasura. Dan ketika Pakubuwana II kembali dari pelariannya, dirinya memutuskan untuk membangun kerajaan baru di Desa Sala yang kini kita kenal sebagai Kota Solo.

Secara perlahan reruntuhan Kartasura akhirnya ditinggalkan dan segala benda yang masih tersisa dibawa untuk membangun kerajaan baru. Hingga pada akhirnya Kartasura hanya menyisakan reruntuhan tembok benteng yang kini masih dapat dijumpai di Kartasura, Sukoharjo, Jawa Tengah.

Pemberontakan menghiasai keraton Kartasura. Peristiwa yang paling terkenal terjadi pemberontakan mas Garendi pada tahun 1742 yang dibantu etnis Tionghoa menyerbu dan menghancurkan Keraton Kartasura. Saat itu, Pakubuwono II yang bertahta, melarikan diri ke Ponorogo.

Pada tahun 1743, Pakubuwono II kembali ke Kartasura karena pemberontak sudah dikalahkan, namun kondisi keraton yang porak poranda dan rusak, membuat dirinya memilih untuk memindahkan keraton Kartasura ke Sala yang saat ini dikenal dengan Surakarta. Pakubuwana II menempati Kraton Surakarta pada tahun 1745.

Lubang besar berdiameter dua meter di bagian utara benteng, diyakini dilakukan oleh pemberontak mas Garendi yang menerobos ke dalam keraton dengan menjebol benteng bersama sama anak buahnya.

Meskipun lubang tersebut sudah ditutup oleng pengelola, namun warga sekitar menganggap awal kehancuran keraton Kartasura dari lubang yang dibuat para pemberontak saat itu.(Viva.co.id)

KOMENTAR DISQUS :

Top