Senin, 21 Oktober 2019 |
Ekonomi

Berita Soal Perang Dagang Tekan Harga Minyak

Jumat, 13 September 2019 08:24:44 wib
Ilustrasi harga minyak. (REUTERS/Edgar Su)

JAMBIDAILY EKONOMI - Harga minyak mentah dunia merosot sekitar 1 persen pada perdagangan Kamis (17/9), waktu Amerika Serikat (AS). Pelemahan dipicu setelah media memberitakan keraguan pada kemungkinan terjadinya kesepakatan perdagangan interim antara AS-China.

Pelemahan harga juga terjadi setelah pertemuan Organisasi Negara Pengekspor Minyak (OPEC) dan sekutunya tidak menghasilkan keputusan untuk memperbesar pemangkasan produksi minyak mentah.

Dilansir dari Reuters, Jumat (13/9), harga minyak mentah Brent berjangka tergelincir US$0,43 atau 0,71 persen menjadi US$60,38 per barel. Pelemahan juga terjadi pada harga minyak mentah berjangka AS West Texas Intermediate (WTI) sebesar US$0,66 atau 1,18 persen menjadi US$55,09 per barel.

Harga minyak juga tertekan setelah Bank Sentral Eropa (ECB) memangkas tingkat depositonya ke level terendah -0,5 persen dari -0,4 persen. ECB juga menyatakan akan memulai pembelian obligasi senilai 20 miliar euro per bulan mulai November untuk mendorong pertumbuhan zona euro.

Berdasarkan pemberitaan CNBC yang dikutip oleh Reuters, pelemahan harga minyak mentah berjangka berlanjut setelah pejabat senior Gedung Putih membantah pemberitaan Bloomberg News yang menyatakan AS tengah mempertimbangkan kesepakatan perdagangan sementara dengan China.

Di awal sesi perdagangan, harga minyak mendapatkan sokongan dari pemberitaan terkait AS dan China yang menemukan satu titik kesepakatan di tengah perang dagang keduanya."Sekarang kita hanya mengayuh ke belakang dan dengan hati-hati menanti perkembangan di pasar, apakah itu data ekonomi, banjir kata-kata dari OPEC, dan kita (pasar) masih akan mengawasi persediaan secara keseluruhan," ujar Analis Senior Komoditas RJO Futures Philip Streible di Chicago.

Harga minyak juga tertekan setelah muncul komentar Menteri Energi Arab Saudi Pangeran Abdulaziz bin Sald yang menyatakan keputusan pemangkasan produksi yang lebih besar tidak akan diputuskan sebelum pertemuan OPEC Desember mendatang.

Rapat Komite Pengawas Pasar OPEC dan sekutunya pada Kamis (12/9) kemarin menghasilkan kesepakatan untuk menjaga produksi sesuai kuota yang telah disepakati dalam kesepakatan pemangkasan produksi. OPEC dan sekutunya menyatakan stok minyak di negara industri tetap di atas rata-rara 5 tahunan.

Menteri Energi Oman Mohammed bin Hamad al-Rumhy menyatakan "Proyeksi tidak begitu baik untuk 2020." Pangeran Abdulaziz menyatakan Arab Saudi akan tetap memangkas lebih besar dari komitmennya dalam kesepakatan OPEC+.

Sebagai catatan, OPEC+ menyepakati pemangkasan produksi sebesar 1,2 juta barel per hari (bph). Turut menambah sentimen yang menekan harga, Badan Energi Internasional (IEA) menyatakan kenaikan produksi minyak AS akan membuat upaya menyeimbangkan pasar menakutkan pada 2020.

"Meledaknya produksi minyak shale membuat AS mendekati, dan melampaui sebentar, Arab Saudi sebagai eksportir minyak terbesar dunia di Juni, setelah ekspor minyak mentah melesat di atas 3 juta bph," ujar IEA dalam laporan bulanannya.

Lebih lanjut, IEA juga mempertahankan proyeksi pertumbuhan permintaan minyak untuk tahun ini dan tahun depan, masing-masing sebesar 1,1 juta bph dan 1,3 juta bph.


(sfr/agt)/cnnindonesia.com

KOMENTAR DISQUS :

Top