Minggu, 18 Agustus 2019 |
Kesehatan & Olahraga

Berjuang Lawan Tumor, Saidin Seniman Melayu Dul Muluk Muaro Jambi Butuh Bantuan Anda

Senin, 17 Juni 2019 20:01:12 wib

JAMBIDAILY KESEHATAN - Sang Maestro Kesenian Memerlukan Uluran Tangan Kita, Pak Saidin Menderita Tumor Colli di Lehernya. Mari Membantu Pak Saidan berjuang melawan Penyakitnya, penggalangan dilakukan oleh salah satu wartawan Senior di Jambi dari Kompas yaitu Irma Tambunan melalui kitabisa.com

dikutip jambidaily.com (Senin, 17/06/2019) melalui laman kitabisa.com, berikut keterangan terkait Saidin, sang maestro ini. 

Ujian bagi Perawat Kesenian
Sebagaimana yang dilakukan kakek dan ayahnya, Saidin (55) berjuang sekuat tenaga merawat kesenian tradisi Melayu agar tidak mati digilas zaman. Perjuangan itu jauh dari kata mudah. Banyak ujian yang harus ia lalui dan menangi.

Saidin adalah generasi ketiga penerus teater komedi melayu Dul Muluk, kesenian Zikir Beredah, ataupun Lukah Gilo dari Desa Lubuk Raman, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro Jambi. Darah kesenian mengalir dari kakek dan ayahnya. Kakeknya adalah pelakon Dul Muluk, sementara ayahnya penabuh rebana siam dan gendang.

Sejak kecil Saidin tumbuh dengan kesenian khas Muaro Jambi itu. Ia mahir sebagai pelakon dalam teater Dul Muluk. Ia juga piawai sebagai pelakon Zikir Beredah dan Lukah Gilo. Zikir Beredah adalah semacam pertunjukan musik selawat yang melibatkan belasan penabuh rebana siam dan gong.

Seluruh kidungnya dikutip dari ayat-ayat Al Quran. Itu sebabnya Zikir Beredah dibawakan pada acara khusus seperti pernikahan dan syukuran menempati rumah baru. Masyarakat meyakini syair-syair dalam Zikir Beredah jika dinyanyikan dengan tepukan rebana nan lantang serta tabuhan gong yang membahana akan mampu mengusir roh-roh jahat.

Sebagai pelaku kesenian tradisi Muaro Jambi, Saidin sempat mencicipi masa-masa keemasan. Pada era 1980-an, ia tampil dari panggung ke panggung hampir setiap pekan di acara hajatan atau syukuran. Namun, memasuki era 1990-an, eksistensi kesenian tradisi itu mulai tergerus kehadiran aneka hiburan modern.

Saidin dan seniman lainnya baru menyadari ancaman besar itu pada tahun 2000. Ia dan kawan-kawannya pun berusaha membangkitkan kembali kesenian tradisi yang mulai redup itu. Pada saat yang sama, pemerintah daerah berusaha mengangkat potensi seni tradisi untuk mendorong pariwisata lokal. Dari situ, tawaran untuk pentas kembali datang.

Pahatan biola melayu masih terbengkalai di atas lantai. Saidin (55) ingin menyelesaikan pesanan itu, namun tumor colli yang dideritanya kian merapuhkan otot dan persendian. Sepekan lebih ia terbaring di dekat pesanan alat musik tradisional itu.

Di tengah semangatnya untuk terus merawat teater Dul Muluk, Zikir Beredah, dan Lukah Gilo, Saidin didera penyakit tumor colli yang tumbuh di lehernya. Tumor yang enam bulan lalu baru sebesar kelereng terus membesar hingga melebih ukuran bola tenis. Penyakit itu membuat tubuhnya kurus dan merapuhkan otot serta persendiannya. Ketika Kompas menjenguknya di Desa Lubuk Raman, Senin (10/6/2019), ia terbaring lemah di dekat piul pesanan yang belum jadi.

Kalau badan masih cukup kuat, harusnya (biola ini) sudah jadi,” katanya, sewaktu ditemui Kompas dalam pondok sederhana yang ditumpanginya di Desa Lubuk Raman, Kecamatan Maro Sebo, Kabupaten Muaro, Senin (11/6/2019). Benjolan pada bagian kanan lehernya dengan cepat membesar. Awalnya hanya sebesar kelereng. Dalam enam bulan, besarnya bertambah melebihi bola tenis. Penyakit itu pun menggerogoti tubuhnya hingga kurus kering.

Menurut dokter yang memeriksanya di Rumah Sakit Bhayangkara Kota Jambi, Saidin harus segera dioperasi dan dikemoterapi. Namun, operasi hanya dapat dilakukan di Palembang. Rangkaian pengobatan inilah yang menganggu pikirannya. Meskipun operasi diberikan gratis lewat jaminan Kartu Indonesia Sehat (KIS), jaminan hidup untuknya dan istri yang menemani selama perawatan belum terkumpul.

Jangankan untuk menyisihkan uang, memenuhi kebutuhan makan sehari-hari saja sulit. Sang istri, Juliati (50) sehari-harinya menjadi buruh sadap getah karet. Selama Saidin terbaring lemah, Juliati lebih banyak di rumah untuk merawat.

Hampir seluruh barang berharga di rumah itu telah dijual, tak terkecuali alat-alat musik hasil buatannya sendiri, seperti gitar gambus, viul (biola melayu jambi), rebana siam, hingga gendang. “Semuanya sudah habis dijual untuk membeli obat,” katanya.

Untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dan berobat, Saidin terpaksa menjual hampir seluruh barang berharga di rumah itu, termasuk alat-alat musik hasil buatannya sendiri, seperti gitar gambus, piul, rebana siam, dan gendang. ”Semuanya sudah habis dijual,” katanya. Apa pun keadaannya, Saidin tak mau menyerah kalah oleh penyakit. Ia ingin sembuh dan meneruskan mimpinya untuk membangkitkan kesenian lokal yang lama tenggelam.

"Oleh karena itu, Saya Irma Tambunan beserta Kitabisa.com ingin menggalang dana bagi Pak Saidin agar dapat membantu proses pemulihan dan pengobatan dari Tumor yang dideritanya, serta untuk membantu kebutuhan sehari-hari pihak keluarga," Ujar Irma.

Kami tidak pernah memandang nominal, karena niat tulus dari teman semua adalah gambaran bagaimana kepedulian kita semua terhadap pulihnya kondisi Pak Saidin. Berapapun yang terkumpul nantinya, akan secara langsung disalurkan kepada Pak Saidin dan keluarga.

"Apabila tidak keberatan, kami sangat berterimakasih sekali apabila anda berkenan untuk mau menyebarkan & memberitahu orang-orang baik dan peduli lainnya dengan cara menyebarkan kampanye donasi ini ke koneksi sosial kalian. Terimakasih semua yang telah meluangkan waktunya untuk melihat kampanye ini, semoga segala kebaikan selalu menyertai kita semua," Tulis Irma Tambunan, selaku penggalang dana.

Bagi anda yang ingin membantu Pak Saidin, bisa berdonasi melalui tautan ini: kitabisa.com/bantupaksaidin

 

 

(**/Hendry Noesae)

KOMENTAR DISQUS :

Top