Senin, 19 Agustus 2019 |
Hukum

Casidy Dituduh Gelapkan 400 Miliar, Proses Hukum Diduga ada 'Main Mata' Aparat

Selasa, 21 Mei 2019 14:32:40 wib

JAMBIDAILY HUKUM - Perjalanan panjang kasus Casidy Tjuanda yang dilaporkan oleh Istrinya sendiri dengan tuduhan pemalsuan surat dan penggelapan senilai 400 Miliar, menimbulkan pertanyaan besar bahkan Casidy melalui Penasehat Hukum menduga adanya 'Main Mata' Aparat penegak hukum, karena Pelapor adalah orang yang mengetahui dan menikmati hasil dari setiap-setiap perjanjian kerjasama antara PT Bumi Jambi dengan berbagai mitra kerjanya.

"Mereka ini suami istri, Bapak ini melaporkan kasus perzinahan namun karena diduga adanya Intervensi dari Aparat, termasuk CCTV ada rekaman dan kami sudah melihatnya, tentu bisa sebagai bukti tetapi saat kami bawa ke Puslabfor sudah rusak tidak ada data apa-apa, kalau memang tidak salah kenapa CCTV dirusak. Jangan sampai juga terjadi diperkara-perkara lain, kami yang merasakan intervensi itu seperti apa, bagaimana proses penyidikan berjalan dan apa yang kami sampaikan dianggap tidak penting," Kata Leo Irfan Purba, SH selaku penasehat hukum (Selasa, 21/05/2019).

"Bayangkan sampai akhirnya rusak perkara itu disebabkan intervensi. Kenapa begitu,? pada saat laporan Casidy di Polresta Jambi diintervensi bagaimana caranya supaya perkara tersebut tidak bisa naik ke proses penyidikan. Bahkan olah TKP yang dilakukan oleh penyidik Polresta Jambi pun akhirnya gagal karena pada saat dilakukan olah TKP di rumah Elliawati, penyidik dari polresta Jambi mendapat Telepon dari pejabat di Lingkungan Polresta dan memaksa penyidik keluar dari rumah Elliawati padahal baru akan memulai, sehingga tidak jadilah dilakukan olah TKP. Dan sampai hari inipun Enteng Limbara yang kami laporkan bersama Elliawati di Polresta Jambi tidak pernah diperiksa sama sekali dan akhirnya perkara 284 KUP Pidana di Polresta Jambi saat ini telah dihentikan karena tidak cukup bukti," Tambahnya.

Lalu, Leo membeberkan bahwa Casidy Tjuanda dilaporkan di Polda Jambi oleh Elliawati pada tanggal 01 September 2016 dengan laporan Polisi nomor: LP/B-323/IX/2016/Jambi/SPKT dengan dugaan tindak pidana pemalsuan surat atau pengelapan dalam jabatan atau pengelapan sebagaimana dimaksud dalam pasal 263 KUH Pidana atau pasal 374 KUH Pidana Jo Pasal 372 KUH Pidana terkait dengan PT Bumi Jambi.

"Kami telah melaporkan Elliawati di Polresta Jambi tertanggal 01 Juli 2018 dengan pasal 284 KUH Pidana. Bahwa terkait 2 laporan diatas, baik laporan atas nama Elliawati maupun Laporan Casidy Tjuanda melalui Penasehat Hukum, diintervensi oleh perwira Polda Jambi berpangkat AKBP, sehingga perjalanan dua perkara ini keluar dari prosedur proses hukum yang sebenarnya," Beber Leo, pada awak media.

Leo mempertanyakan terkait dengan Laporan Elliawati di Polda Jambi sungguh sangat tidak mencerminkan ke profesionalan Penyidik karena terindikasi sudah berat sebelah "Kami menemukan adanya pemberian uang ke penyidik melalui salah satu karyawan PT Bumi Jambi. Bahkan surat penetapan Tersangka Casidy Tjuanda dkk pun bocor terlebih dahulu ke pihak Elliawati karena Casidy Tjuanda belum menerima surat penetapan dirinya sebagai tersanga sementara Elliawati melalui PH sudah melampirkan Penetapan Casidy Tjuanda sebagai tersangka sebagai bukti di sidang perdata di PN Jambi," Ungkap Leo

"Bahwa sampai dengan hari ini kami menduga penyidik yang menerima uang dari PT Bumi Jambi belum diberikan sanksi dan terkesan sengaja dilindungi oleh Polda Jambi karena dari beberapa kali kami bertanya ke pihak propam polda Jambi selalu mengatakan dalam proses dan kami tidak pernah dimintai keterangan terkait dengan transfer uang tersebut ke penyidik akan tetapi propam hanya memeriksa dari PT Bumi Jambi," Tegas Leo Irfan Purba SH.

Atas dua kejadian diatas, Leo mengaku sudah melaporkan kepada KABARESKRIM melalui surat tertanggal 19 Oktober 2018 dengan tembusan sebagai berikut: Direktorat Tindak Pidana Korupsi Bareskrim Polri, Irwasum Mabes Polri, Kadiv Propam Mabes Polri, Kapolda Jambi, Irwasda Polda Jambi, Kabid Propam Polda Jambi, Kabagwasidik Ditreskrimum Polda Jambi.

Terkait kondisi status hubungan Casidy dan Elliawati, Leo menerangkan bahwa masih sebagai Suami Istri namun untuk semua kepemilikan dan aset PT Bumi Jambi telah diambil alih oleh Elliawati "Mereka masih suami istri hingga saat ini namun semua kepemilikan dan aset PT Bumi Jambi telah diambil alih oleh Elliawati, kalau ditotal sekitar 400 Milliar. Mereka mulai renggang dan mulai kurang harmonis sejak tahun 2015," Sebut Leo.

Perkara bermula, PT Bumi Jambi dalam posisinya Casidy sebagai General Manager (GM) dan Elliawaty sebagai Direktur. Proses perjalanan roda perusahaan tentu membutuhkan pembubuhan tanda tangan GM dan Direktur, sementara Elliawaty tidak aktif di perusahaan tersebut.

"Dari 2002 hingga 2016 Elliawaty tidak aktif di perusahaan, kalau dari keterangan dia percayakan semua kepada suaminya, sekarang dia menyatakan dirugikan kalau ditotal hampir 400 Miliar rupiah. Sementara dia bisa hidup bermewah-mewah di Singapura seperti Apartemen seharga 18 Miliar dan Kantor di Kebon Bohok 12 Miliar dibeli itu dari uang perusahaan ini. Kalau dia berbicara tanda tangan dipalsukan, pertanyaannya dia kemana,? dia direktur. Saat menang tender yang bertanda tangan, seperti kontrak, Invoice tagihan itu harus direktur, kalau direktur nya tidak ada, perusahaan harus jalan dan tender harus dikerjakan. Maka itu sejak tahun 2002 semua tanda tangan direktur itu dipalsukan saja, menjadi kebiasaan. Alasan Elliawaty tidak tau kalau itu dipalsukan," Papar Leo.

Menjadi pertanyaan Leo, Sementara uangnya diambil dan kalaulah dibilang itu uang kejahatan, lantas yang menikmati siapa,? 

"Berarti sudah ada kesepakatan sejak tahun 2002 sampai 2016. Dia sendiri mengakui tidak berada di perusahaan, tahun 2002 sampai 2006 kata dia ada di Jambi namun tidak aktif, kalaupun datang hanya sekedar makan. Tahun 2006 anaknya sekolah di Singapura dia menjaga disana dan menetaplah di Singapura dan dia mengakui beli Apartemen senilai tadi. Sudah berkali-kali kami bilang ke Polda Jambi, tolong ini diaudit karena berkaitan dengan perusahaan bukan pribadi. Bukan sedikit bukti transfer itu pembelian apartemen, hidup di Singapura juga ditanggung, untuk keluarganya, anak, kebutuhan dia lainnya semua dari uang perusahaan ini," Imbuh Leo.
 
Casidy saat ini sedang menunggu keputusan sidang setelah agenda pledoi atau pembelaan, dalam sidang sebelumnya Casidy mendapat tuntutan 4 Tahun penjara di Pengadilan Negeri Jambi. Sementara itu adanya Casidy dihadapan awak media karena 

"Diawal persidangan kita memang sudah mengajukan permohonan penangguhan penahanan kepada Majelis, tapi selalu tidak ada jawaban. Nah, kemarin mungkin ini mungkin terkait masa penahanan sudah mau habis. Kami diberitahukan, makanya hari ini ada diluar menjalani penangguhan penahanan. Bapak ini bukan orang yang mempersulit jalannya persidangan, proses pemeriksaan pun kooperatif," Tukas Leo, menjawab pertanyaan awak media.
 
Pada kesempatan ini, Casidy menceritakan ada kebohongan-kebohongan lainnya yang diungkap Elliawaty bahwa PT Bumi Jambi adalah pertama kali dibeli oleh Ibunya pada tahun 1987 "Mereka satu keluarga besar melakukan pembohongan, katanya perusahaan ini ibunya yang membeli tahun 1987 padahal perusahaan ini yang beli saya pada tahun 2002. Masih ada kwitansi jual beli juga masih ada saksi saat pembelian, saya saat BAP selalu minta diaudit karena akan tau mereka ambil uang saya dan pergunakan ke pihak siapa," Cerita Casidy.

"Menariknya saat ini pak Casidy sudah tidak bisa lagi masuk ke perusahaan bahkan ditulis didepan pagar bahwa Casidy dilarang masuk. Lalu perkembangan terbaru di tahun 2016 diganti dan dijadikanlah abang iparnya sebagai GM yang dulu adalah karyawan dia," Timbal Leo Mengakhiri pembicaraan.

Kemudian hingga berita ini diinformasikan, jambidaily.com belum melakukan konfirmasi kepada pihak-pihak yang terkait.

 

 


(Hendry Noesae)

KOMENTAR DISQUS :

Top