Kamis, 15 November 2018 |
Jurnal Publik

Dag Dig Dug, Campur Aduk Rasa 30 Jam Bersama Sang Prajurit Loreng “Tentero”

Kamis, 08 November 2018 06:29:16 wib
Foto: Hendry Noesae/jambidaily.com

*Catatan Kecil bersama Satgas TMMD

KOPI RAINA - “AYAH BANGUN” Begitu ucapan yang terdengar, serasa berada dalam mimpi namun sepertinya nyata, berputar-putar di kepala diantara setengah sadar dan bertanya-tanya apakah panggilan barusan itu nyata atau mimpi,? “Ayah bangun, katanya mau ke Mendahara, Jam 11 siang harus udah kumpul,” Bisik istri dengan penuh lembut membangunkan tidur (ya eyalah lembut namanya juga istri sendiri, kalau keras itu apel pagi di asrama, hehehehe...).

Saya bergegas bangun dari tidur, menuju kamar mandi (Ngapain,?) iya mandi lah, emank ada pasar malam di kamar mandi, dengan cekatan menyelesaikan mandi dan berpakaian, lalu menjelaskan kepada Raina, anak perempuan saya perihal kepergian pagi ini dan baru pulang keesokan harinya, kebetulan pertanyaan Raina tidak terlalu banyak, bawelnya agak minimalis, tidak seperti biasanya mungkin karena sedang sakit jadi bertanya secukupnya.

Lantas bergegas menuju kediaman nenek yaitu mertua saya, agar Istri yang sedang mengandung calon anak kedua saya dan Raina ada yang mengasuhnya, lumayan menahan rasa mengingat Raina sedang sakit (bukan sok lebay, ya...anak sendiri wajarlah), tetapi luruskan niat dan sambi berdo’a semoga Raina kuat serta sabar menghadapi sakitnya. Langkah berlanjut menuju tempat pusat kuliner dalam kota Jambi (akhirnya saya memesan segelas kopi, walaupun kopinya disini Raina disana) sebagai titik kumpul menuju lokasi Tentara Nasional Indonesia (TNI) Manunggal Membangun Desa (TMMD), saya So...Pasti untuk menjalankan aktifitas selaku jurnalis.

Telah menunggu rekan-rekan jurnalis lainnya bersama seorang kapten infanteri bernama Suseno yang menyandang jabatan sebagai Pasi Intel di Komando Distrik Militer (Kodim) 0419/Tanjung Jabung (Tanjab) dan satu rekannya yang juga seorang TNI (naahh, saya lupa namanya siapa ya, padahal udah kenalan). Tidak seram atau sangar kok perawakan dua orang TNI ini, namun gagah, tegap, rapi, serta sikap seorang prajurit loreng atau kalau bahasa Ibu saya menyebutnya ‘Tentero’ (pengucapan ‘R’ yang agak nyangkut kalau kata guyonan teman-teman ku dulu).

Ehh, sebenarnya udah sangat lama saya tidak berceloteh di kolom kopi raina, terakhir tanggal 5 Maret 2018 sekitar 8 Bulan yang lalu “Kalau Hamil sudah mau melahirkan,” Celetuk istri saya, mungkin itu kalimat kritikan atau sindiran terlalu sibuknya aktivitas belakangan ini (sok sibuk kalii yeee......) ini demi engkau dan si buah hati, Cuit..cuit..cuit....

Setelah makan siang dan lengkapnya rombongan, kami menggunakan dua kendaraan roda empat memulai perjalanan menuju pusat kecamatan Mendahara kabupaten Tanjung Jabung Timur dengan waktu tempuh berkisar 3 Jam lamanya. Saya berada dikendaraan bersama Pak Suseno, awalnya sih biasa saja tetapi beberapa lama perjalanan terpikir bahwa sopir di depan itu seorang Kapten TNI, Wahh ini kebanggaan bagi saya atau kelewatan ya...? (Siap salah komandan).

Perjalanan berlangsung tidak kaku, penuh cerita diiringi juga tawa dan berbagai macam kelakar-kelakar atau candaan, sehingga tidak terasa sudah sampai di kecamatan Mendahara dan kami dibawa pak Suseno menikmati kopi juga makanan ringan di sebuah warung kecil namun nyaman dan satu yang terpenting sajian kopinya enak. Hanya beberapa saat saja, lalu rombongan jurnalis diarahkan untuk menuju sebuah tempat yang disebut Dermaga Unit Pelabuhan Pembantu (UPP) Kuala Mendahara. Nah, jalurnya tidak bisa menggunakan kendaraan roda empat alias mobil, maka hanya bisa kendaraan roda dua alias motor.

Rekan-rekan jurnalis berboncengan dengan anggota TNI, sementara saya dibonceng salah satu senior media di Jambi (tidak usah sebutkan nama, nanti katanya jeruk makan jeruk lagi) tetap mengendarai motor operasional Kodim 0419/Tanjab, sepanjang jalan yang kecil dan berbelok-belok, setiap warga yang berjumpa menyapa ‘Pak...Pak...Pak’ (dalam hati saya tertawa, mungkin dipikirnya kami ini TNI) tak lama sampailah di Dermaga yang penuh dengan warga, Oh...rupanya sedang berlangsung kegiatan yang dibuat seperti ajang pencarian bakat di televisi-televisi nasional. Letkol Inf M Arry Yudistira, Komandan Kodim 0419/Tanjab menyambut kedatangan kami.

Tanpa pikir panjang, saya langsung melakukan aktifitas jurnalis tetapi sedikit disela karena saya harus kembali mengambil barang bawaan yang masih tinggal di mobil, adegan yang terjadi Pak Suseno memberikan kunci motor “Itu motornya bawa aja” kata Pak Suseno, saya sempat menolak, bukan tidak bisa tetapi berhadapan dengan dua kegugupan, pertama kurang biasa untuk motor yang ukurannya besar (saya terlalu biasa dengan motor yang ukurannya bebek, tanpa gigi pulak), kedua itu motor TNI (haduuuhh, kalau jatuh gawat ini karena punya TNI).

Akhirnya tetap dibawa tanpa boncengan menuju mobil yang diparkir, sepanjang jalan saya berkeringat dan diam saja saat ditegur warga, palingan ngangguk-ngangguk dak jelas. Dua kegugupan tadi hilang seketika karena motor terasa berat, selain berat juga keras (aduh mak’ beratnya, mungkin sesuai dengan didikan TNI,kata ku dalam hati Piss Pak TNI, hehehe...). Bukan hanya itu, suaranya rame kerontang-keronteng,....saat melewati jalan, kebetulan beton yang sudah mulai tidak rata apalagi masuk lobang.

Setelah kembali lagi ke Dermaga dan melanjutkan kembali mengejar momentum, kegiatan yang diselenggarakan Satgas TMMD bekerjasama dengan Karang Taruna Tembikar Mendahara dan Pihak Kecamatan Mendahara, dalam rangka memperingati hari sumpah pemuda ke-90 tersebut lanjut auitis deh, tidak menoleh kanan kiri hanya terpaku di android, Lumayan menarik pandangan yang mengarah menuju lautan walaupun matahari terbenam tidak terlalu terlihat karena cuaca mendung, tetapi kebiasaan jeprat jepret tidak ketinggalan (Pak Suseno juga ikut) saya agak sedikit tergambar kesan, Ehh TNI itu sangat membaur sebenarnya dengan masyarakat (Ssstt...dulunya saya sangat takut TNI lho, karena yang ada dipikiran, mereka adalah keras, sangar, pemarah, menakutkan, dan tentunya ganas. Upppzzz...itu dulu pikiran saya waktu masih kecil pak, hahahahaha).

Kalau boleh jujur, dulu saya benar-benar merasa tidak ingin dekat-dekat TNI, tidak ada yang mengajarkan saya untuk takut atau menakut-nakutin akan TNI, tetapi itu semua berkumpul sendiri dipikiran karena kalau di dalam film-film, yang namanya Tentara atau prajurit itu adalah Perang, jika bicara perang pasti Tentara itu ganas (mungkin salah satu sisi negatif film yang ditonton belum sesuai umurnya).  Sehingga gambaran seperti itu masih terbawa walau seiring usia bertambah, saat ini lumayan berkurang karena 4 tahun belakangan mengenal beberapa anggota TNI yang terkadang jumpa dan ngobrol sambil ngopi (kalau sambil tidur ngobrol, itu namanya ngigau, iya gak sih,?).

Hemat cerita acara berhenti sementara, mengingat hari sudah menunjukkan waktu mendekati Sholat Maghrib, para warga telah meninggalkan dermaga, nahh...saya melihat makin jelas, ‘banyak’e tentero ruponyo’ hehehe, kalau tadi saat datang tak terlihat.

“Ayo bang, yang mau mandi silahkan, diruangan depan itu ada airnya, kalau sholat diruangan yang ini bisa dan kita istirahat juga disini,” Jelas Dandim yang begitu ramah.

Kami makan bersama setelah aktifitas mandi (saya tidak mandi, ehhh...jadi keceplosan), ngobrol ringan menjelang perjalanan esok harinya menuju titik utama lokasi TMMD. Beberapa waktu kemudian Kegiatan yang sempat rehat sejenak melewati masuknya waktu Sholat Maghrib yang diberi judul ‘Mendahara Got Talent’ kembali dimulai. Sambil duduk diteras menyaksikan kelanjutan dan menulis beberapa update berita, Pak Arry Yudistira juga turut duduk bersama kami sambil menikmati segelas kopi. Letnan Kolonel ini terlihat santai dan begitu membaur dengan kami yang merupakan masyarakat biasa (saya bersama salah seorang senior jurnalis tadi sempat pergi sesaat mencari rumah warga kalau-kalau saja sedang menonton pertandingan sepakbola U16 antara Indonesia lawan Jepang, namun sayangnya semua dilihat pada nonton sinetron, hadehh tepok jidat).

Jelang tengah malam, acara selesai kami bersiap untuk beristirahat karena esok harus bergegas sejak pagi hari. Saat akan tidur dan mata saya mulai terpejam beberapa detik, tiba-tiba “Ehh...itu kalian tidurnya bagaimana, coba yang benar. Kalau begitu mana muat ini ruangan” Terdengar suara dan saya kaget terbangun dari tidur langsung duduk (dalam hati, waduh tentero marah, dag..dig..dug..jantung). Wajar saja ditegur, kami tidur dengan posisi yang entah kemana-mana arahnya tidak beraturan, hehehe....

Rupanya suara tadi datang dari Danramil 419-01 Muara Sabak (Maaf ya...pak Kapten Inf Sartono ) kami bergegas memperbaiki posisi dan lebih teratur, saya kembali memejamkan mata, tetapi karena barusan kaget sulit tidur, mata terpejam tapi telinga masih mendengar suara-suara sekitaran. Tak lama kemudian terdengar Pak Arry Yudistira masuk, tadi sempat pergi memenuhi ajakan Ngopi dari warga (siapanya saya lupa, mungkin faktor usia, mulai pelupa, wkwkwkwkwkwk). Saya terus saja memejamkan mata, hanya saja terdengar pak Arry Yudistira memberikan kasurnya kepada salah satu rekan jurnalis, sementara dia memiliki tidur yang beralaskan tikar saja “Saya ditikar saja, udah biasa bang” katanya (Wahh, ini seorang komandan tapi tetap low profil).

Kemudian saya tidak mendengar lagi pembicaraan, karena sudah melayang ke alam mimpi, mengembara dalam dunia tidur, sampai pada akhirnya ada suara-suara, ternyata udah pagi dan waktu menunjukkan Pukul 05.30 wib. Bergegas saya bangun dan melihat Pak Arry Yudistira sudah selesai mandi, saya juga harus cepat, bersiap-siap. Lalu sarapan lontong bersama.

Setelah semuanya siap, kami berjalan kaki menuju tempat (tepatnya pos polisi Mendahara) untuk menaiki perahu tradisional bermesin yang biasa disebut pompong oleh warga. Bersama-sama kami menuju lokasi yaitu Dusun Sungai Ayam di Desa Pangkal Duri. Tidak kurang dari 45 menit perjalanan air tersebut dilalui, sambil menyaksikan berbagai burung-burung khas laut dan hutan bakau termasuk aksi-aksi burung elang menangkap ikan sebagai makanannya, bak pemandu wisata Pak Arry Yudistira, Pak Suseno termasuk anggota TNI lainnya menceritakan apa yang tersaji dipandangan kami.

Sesampainya di lokasi, terlihat berjejer TNI yang bertugas disana dan warga menyambut kedatangan kami, serasa tamu agung padahal diantara kami jurnalis yang datang tidak ada bernama Agung (Upppzzzz, Eit dah...). Saya segera siapkan Android kebanggaan padahal kredit dan belum lunas bayarnya, xixixixixi...duhh ngelantur atau curhat ini saya.

Apa yang saya lihat dan menarik, menjadi bidikan foto berita yang nantinya saya tulis untuk jambidaily.com, yang jelas saya tidak mau tertinggal jauh terus mengikuti Pak Arry Yudistira, sukurlah dia tidak risih saya ikutin, tetap ramah menyapa setiap warga di Dusun Sungai Ayam, tetap juga menjawab sesekali pertanyaan jurnalis termasuk saya disela-sela meninjau progres dari program fisik TMMD rehab rumah, sumur bor, alat penyaring air, tanggul-tanggul penahan air pasang, diiringi langkahnya yang begitu jauh dan cepat, saya lumayan ‘menges’ juga namun seru dan menarik.

“Bang minum kopi dulu kita” Ajak Pak Arry Yudistira kepada saya, sambil beristirahat sejenak menjelang meninjau sasaran fisik utama yaitu pembuatan jalan sepanjang 2.550 meter dengan lebar 6 meter yang diharapkan nantinya dapat mempermudah akses warga untuk berbagai aktifitas terutama perekonomian.

Jelang mencapai jalan yang dimaksud, Pak Arry Yudistira menyempatkan mampir ke SD Negeri 64, satu-satunya sekolah disana. Menyapa murid-murid, bercanda, menjadi guru dadakan juga tak terlewatkan oleh sang letnan kolonel ini untuk mewarnai senyum-senyum calon generasi bangsa Indonesia di masa akan datang. Sampailah di ‘Titik Nol’ pembuatan jalan, benar-benar lembek kondisi tanah, berlumpur dan berair (wahhh, ini hampir sama dengan ngeCAT batu es, ckckckckckckckckk...itu kata saya). Salah satu anggota bahkan sempat terperosok kakinya, begitu sulit dia melepaskan kakinya, terlihat untuk lepas butuh waktu beberapa menit barulah berhasil bebas. Kondisi itu membuat Pak Arry Yudistira gunakan Drone untuk melihat kondisi terkini dari jalan.

Kami terhenti disitu, itu tandanya perjalanan usai itu tandanya kembali lagi ke Mendahara karena tidak bisa berlama-lama mengingat air laut akan surut dan jika itu terjadi maka kami baru bisa kembali keesokan harinya. Tapi nanti dulu, kami mendapatkan jamuan segar dari warga, menikmati kelapa muda alias dogan yang langsung dipetik dari pohon lalu makan siang bersama di rumah Kepala Dusun, Pak H Hasan Basri. Sudah segar dan kenyang, hehehehe...kami kembali menaiki pompong menuju Mendahara, namun perbedaannya Pak Arry Yudistira tidak kembali bersama kami, dia bermalam di Dusun Sungai Ayam.

Waww, luar biasa terik dan panasnya saat berada di pompong sebab waktu menunjukkan tepat tengah hari, terbayangkan rasanya sinar matahari diatas kepala dan itu sedang dilautan dengan kondisi terbuka (bekuah jok badan), rasa panas itu berakhir sesaat akan sampai di titik kami menaiki pompong karena kondisi cuaca berubah mendung berhias juga petir membelah langit bahkan terlihat hujan mungkin di daerah yang lain.

“Mari kita berjalan kaki menuju pusat kecamatan, tempat dimana mobil parkir. Kita ngopi sejenak di warung yang kemarin, lalu kembali pulang,” Ungkap Pak Suseno, ini juga langkahnya panjang dan cepat, Duhh...

Setelah menikmati segelas kopi, ada juga yang minum teh dan lainnya, Kami menuju mobil untuk kembali ke kota Jambi. Kali ini Pak Suseno berbaju nuansa loreng beda saat pergi memakai kemeja dan celana panjang biasa, tapi yang jelas kalau saat pergi ramai, bercanda dan cerita, kali ini agak sunyi banyak yang terpejam matanya, terutama yang disebelah saya, Gaspolllllll...(mungkin babang lelah dek, hahahahaha...). “yang disebelah kanan Pak Pasi” Kata satu rekan lainnya, menunjukkan tanda sampai di depan lorong rumahnya, termasuk saya dan satu lagi, kami bertiga turun di titik yang sama.

Pengalaman berharga bagi saya, 30 Jam Bersama Sang Prajurit Loreng “Tentero” Satgas TMMD, debaran Dag...Dig...Dug...jantung itu campur aduk rasa (campur aduk, kalau menurut kamus besar bahasa Indonesia berarti bercampur tidak keruan; campur baur), tetapi pikiran masa kecil saya tidaklah benar. Maju terus TNI, selalu jaya TNI, tetap tangguh TNI, TNI yang terbaik sebagai garda terdepan untuk menjaga keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia.

 

 

Salam santun untuk Warga Dusun Sungai Ayam, Kec Mendahara, Kab Tanjung Jabung Timur, dan semua Pembaca...
Semoga bermanfaat, 
salam Kopi dari Raina untuk TNI, untuk Jambi, untuk Indonesia!

 

...
Salam Hormat saya, Kepada:
Letkol Inf M Arry Yudistira, S.I.P, M.I.POL (Dandim 0419/Tanjab)
Mayor Inf Firdaus (Kasdim 0419/Tanjab)
Kapten Inf Suseno (PASI Intel Dim 0419/Tanjab)
Kapten inf Sartono (Danramil 419-01/Muara Sabak)
Seluruh Anggota Satgas TMMD dan Kodim 0419/Tanjab

 

 

...

Penulis: Hendry Noesae

**Chatting Via Whatsapp Suaro Wargo jambidaily.com, Bergabung Klik Tautan ini: Whatsaap Group, Galery jambidailyDOTcom

 

 

 

 

Kopi Raina, Lainnya:

KOMENTAR DISQUS :

Top