Rabu, 18 Oktober 2017 |
Jurnal Publik

Dewan Kesenian Jambi, Kurang daya Dobrak dan ‘Tidak Bertenaga’

Senin, 18 September 2017 09:15:48 wib

KOPI RAINA - TIDAK seperti biasanya kala pagi saya duduk manis sambil menikmati segelas kopi seduhan sang istri, kali ini menikmati Kopi hangat di Taman Budaya Jambi sambil berbincang ceria dengan beberapa penggiat seni yang bergendre berbeda. Obrolan kami bukan terbatas pada dunia seni dan budaya saja tetapi berbagai topik obrolan dari segala penjuru kalah tinggi Gunung Kerinci bahkan berkelok-kelok pokoknya kalah banyak jika dibandingkan dengan kelok sembilan Sumatera Barat yang terkenal itu, hehehehe...

Taman Budaya Jambi (TBJ) atau biasa juga disebut GOS Kambang bukanlah tempat yang baru bagi saya, bahkan dulu terpatok di kepala bahwa TBJ menjadi rumah kedua, tak tanggung-tanggung sampai kepikiran, kebayang di mata, kebawa mimpi, kenapa begitu,? Setiap hari saat pagi rencana apapun itu namun kalau udah sore itu tujuannya ke TBJ walaupun diluar dari jadwal rutin berlatih teater bersama rekan dalam satu sanggar. 

Namun dalam perjalanannya ketika kepala mulai dipenuhi oleh rutinitas, mulai adanya pergelaran drama yang nyata, Teater Hidup yang harus diperankan tanpa jeda tanpa berhenti tanpa tawar-menawar, Opera-opera waktu, segala hal yang mulai menjadi slide-slide dalam otak seperti Popok anak yang sering habis, susu anak makin sedikit, beras tinggal satu canting, Gas sisa sedikit, Listrik yang mulai terlambat bayar, Kopi atau Gula habis, Pulsa masuk masa tenggang, Kuota Internet yang telah memberikan peringatan hanya 100 KB lagi tersisa, bahkan pemilik rumah mulai jarang senyum karena kontrakannya belum dilunasi, Celana dalam sudah pada robek, ehhh keceplosan. Mungkin itu beberapa bagian yang jadi sebab jarang bertandang ke TBJ lagi, saya jadi menganggukkan kepala begitu juga dengan pendahulu saya berarti, ya ini mungkin lho ya...

Hari itu kami berada dalam satu meja dengan sajian yang sama yaitu segelas kopi (maksudnya masing-masing satu gelas kopi bukan satu gelas ramai-ramai, seniman itu tak kere-kere amatlah ya, hahaha...), karena adanya moment seusai menyaksikan Uji Pentas, materi jelang diterbangkan ke Ambon dalam kegiatan Temu Karya Taman Budaya (TKTB) Se-Indonesia. Naaahh, Uji pentas ini bukan hal baru di TBJ namun ini menjadi asing dan langka sebab sudah lama tidak diadakan, sudah lama ya,? Sepertinya seingat saya begitu, Ehmmm mungkin ada, mungkin...kali saja saya tidak tahu.

Obrolan para teman-teman yang ada, Masvil Tomy alias Masngo, Titas Suwanda, Nukman, Putra Agung, Fery Apriyan dan Budayawan yang juga sang Maestro perupa Jambi, Jafar Rassuh, hanya saya dengarkan saja, sesekali turut menimpali tetapi saya lebih banyak ikut tertawa, ikut nyengir dan cengengesan tak jelas, sebab ada yang ingin saya tanyakan dengan seorang Jafar Rassuh namun menunggu waktu yang tepat saat itu, lantas saya pun mendapatkan satu celah untuk bertanya, DKJ kemana,? Mengapa terkesan tidak ada gaungnya saat ini,?

Kata Jafar Rassuh, DKJ ada dan melakukan tugasnya seperti selayaknya, namun DKJ kurang pendobrak. Disini yang dimaksudnya adalah ketika bicara anggaran di dalam pemerintahan seperti Ahli loby lah ya...

“di kita itu kurang pendobrak, siapa orang yang bisa kita harapkan untuk dapat menggedor anggaran untuk DKJ, anggaran itu ada bukan tidak ada, ada payung yang mengaturnya, ada amanat di dalam aturan tersebut, jadi jangan pikir tidak ada alokasi untuk DKJ, itu ada. Bukan saya mengecilkan orang-orang yang berada di kepengurusan DKJ saat ini, namun faktanya memang belum ada, kita butuhkan itu saat ini,” Tutur Jafar Rassuh, (Sabtu,09/09).

“sebelum yang sekarang mungkin DKJ punya satu orang berada di DPRD Provinsi Jambi, sehingga ada geliat yang terlihat, sekarang belum terlihat, mungkin saja saat ini sedang diupayakan,” Tambah Jafar Rassuh.

Saya coba mengintip dari Dewan Kesenian Jakarta yang sudah ada sejak tanggal 17 Juni 1969, Secara umum Dewan Kesenian itu memiliki tugas dan fungsi yaitu merupakan lembaga mitra kerja Pemerintah Provinsi DKI Jakarta yang bertugas ikut merumuskan arah kebijakan guna mendukung pembangunan dalam bidang pengembangan kesenian yang tercermin dalam bentuk program tahunan yang diajukan, dengan menitikberatkan pada skala prioritas masing-masing bidang atau komite yang ada di dalam struktur Dewan Kesenian. Lalu Jenis kegiatan apa yang mereka jadwalkan, yaitu Penelitian, Pengembangan, Pendokumentasian karya dan kegiatan, Kajian seni-budaya (diskusi, seminar, workshop, pelatihan), Festival, Pengiriman duta seni, Kerjasama dengan lembaga-lembaga lain, Penyediaan wahana apresiasi (pertunjukan seni, pemutaran film, pameran/gelar karya).

“Semua bisa dilakukan, dan menyelenggarakan kegiatan sesuai tugasnya DKJ jika secara pendanaan itu ada, saat ini bagaimana karena belum ada kejelasan permasalahan Anggaran untuk DKJ, maka seperti yang saya katakan tadi, kita butuh pendobrak untuk adanya Anggaran itu,” Pungkas Jafar Rassuh.

DKJ saat ini dikomandoi oleh Fahmi Sabki sebagai ketua Umum, Alamsyah Amir sebagai Ketua harian, sebelumnya Azwan Azhari di ketua Umum dan Nazwan Iskandar di Ketua harian. Menanggapi Kopi Raina, Alamsyah Amir tidak menampik akan hal tersebut.

“nahh ini mau kita dobrak lagi, beberapa waktu yang lalu kami sudah melakukan pertemuan dengan kepala dinas kebudayaan dan pariwisata provinsi Jambi, saat ini kami lagi ancang-ancang akan mempersiapkan pertemuan dengan Banggar,” Jawab Alamsyah Amir melalui pesan Whatsapp, sembari meluncurkan ajakan untuk Ngopi, (Jum’at, 15/09).

DKJ kali ini sudah berjalan 2 tahun sejak dilantik, jika merujuk dengan sebelumnya masa kepengurusan selama 3 tahun namun saat ini DKJ bertambah menjadi 5 tahun yaitu Periode 2015 – 2020. “sudah berjalan 2 tahun, untuk masa kepengurusan sekarang 5 tahun kalau yang lama 3 tahun, berarti dari 2015 hingga 2020 mendatang,” Ujar Alamsyah Amir.

Sementara itu Sekretaris Umum yang berada di kepengurusan kali ini, M. Ramond, juga melalui pesan Whatsapp ketika disodorkan hal diatas oleh jambidaily.com (Jum’at, 15/09), belum memiliki sempat waktu untuk menjawab. “Gek La yo, Cari waktu nian kalo nak wawancara, Lagi ado gawean, maaf ya,” Tulisnya. 

Jambi yang notabene kental dengan Adat dan budaya Melayu, tentunya akan menjadi tugas serta pekerjaan yang sangat tampak bagi DKJ terkait Pelestarian dan pengembangan budaya, khususnya Melayu Jambi, seperti yang tercantum, dalam: 

  1. Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1957 Nomor 75) sebagaimana telah diubah dengan Undang-Undang Nomor 61 Tahun 1958 tentang Penetapan Undang-Undang Darurat Nomor 19 Tahun 1957 tentang Pembentukan Daerah-Daerah Swatantra Tingkat I Sumatera Barat, Jambi dan Riau menjadi Undang-Undang (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 1958 Nomor 112, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 1646).
  2. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2004 Nomor 125. Tambahan Lembar Negara Republik Indonesia Nomor 4437). Sebagaimana telah beberapa kali diubah terakhir dengan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2008 tentang Perubahan Kedua Atas Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintahan Daerah. 
  3. Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2010 Nomor 130). 
  4. Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 tentang Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2011 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 5234). 
  5. Peraturan Pemerintah Nomor 38 Tahun 2007 tentang Pembagian Urusan Pemerintah antara Pemerintah, Pemerintah Daerah Provinsi dan Pemerintahan Daerah Kabupaten/Kota (Lembaran Negara Republik Indonesia Tahun 2007 Nomor 82, Tambahan Lembaran Negara Republik Indonesia Nomor 4737). 
  6. Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 5 Tahun 2007 tentang Lembaga Adat Melayu Jambi (Lembaran Daerah Provinsi Jambi Tahun 2007 Nomor 5). 
  7. Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 4 Tahun 2011 tentang Penyelenggaraan Pendidikan (Lembaran Daerah Provinsi Jambi Tahun 2011 Nomor 4).
  8. Peraturan Daerah Peraturan Daerah Provinsi Jambi Nomor 7 Tahun 2011 tentang Pedoman Pemberdayaan Masyarakat di Provinsi Jambi (Lembaran Daerah Provinsi Jambi Tahun 2011 Nomor 7).

Mengingat Hal tersebut maka terbitlah Peraturan daerah Nomor 7 tahun 2013, ditetapkan pada tanggal 20 Mei 2013; klik tautan ini untuk melihat isi lengkapnya...

Pada Masa sebelumnya seingat saya ada Kegiatan Malam Keagungan Melayu, sempat ada juga Berbentuk tabloid, yaitu Seloko Jurnal Budaya (2012-2013), benar tidak ya,? Itu seingat saya. Nahh, Kondisi DKJ tidak bisa kita kotakkan hanya pada periode kali ini, tentunya juga harus ada lontaran kritik, penunjuk jalan, bahkan sentuhan dari tangan-tangan dikepengurusan sebelumnya supaya adanya percepatan dalam pelaksanaan selayak Tugas dan fungsinya, jangan Cuma ditinggalkan begitu saja seolah habis melepas anak macan ke hutan belantara, Uppzzz, salam hormat para senior ini hanya suara hati saya yang awam dan sangat junior karena kerinduan akan ramainya aktifitas para penggiat seni di Jambi, boleh kan,? Jangan marah ya, bawa Ngopi dulu, hehehe...

Jadi teringat kata Raina, suatu ketika dia melihat saya diam saja di depan laptop tanpa ada aktifitas hanya menatap putaran Loading karena rendahnya signal yang diterima. Lalu dia bertanya “ayah kenapa, tidak ada signal ya yah,?” Kata saya “Iya nak, signalnya jelek,” Raina dengan sangat simple menjawabnya “ohhh gitu, makanya ayah beli signal,” Awalnya saya tertawa, wah beli signal ini bisa banyak arti, beli kuota internet atau bisa jadi beli towernya, hehehe...

Misalkan ini misalkan ya, Kalau kita kaitkan dengan kondisi DKJ saat ini, kalau kata Jafar Rassuh kurang pendobrak, atau bisa juga Kurang Signal, Mungkin DKJ belum mengecek isi kuota internetnya, atau Kuota ada tapi masih jalur 3G belum 4G, atau Androidnya kebanyakan beban, atau semuanya aman namun cuaca buruk sehingga Signal menurun.

Gambaran tersebut bisa jadi luas, kalau kita jabarkan mungkin signal DKJ kurang monitor, atau kuota internetnya memang tidak pernah dipertanyakan kepada pihak terkait di pemerintahan, atau Jalur masih yang lama belum menemukan dan dekat dengan pejabat baru, atau tidak punya waktu karena beban lainnya menumpuk, atau semuanya sudah dipersiapkan tetapi situasi politik sedang kurang baik pada akhirnya DKJ terlupakan oleh pengambil keputusan. Ya itu gambaran saja, yang lebih tau bagaimana keadaan rumahnya ya penghuni rumah...

Kini DKJ butuh perhatian dan bantuan agar mereka dapat berjalan sesuai adanya, tetapi yang jelas mari kita berikan dukungan bukan hanya cerita kesana kemari namun sumbangsih juga kosong, apalagi dapat melemahkan semangat dan upaya DKJ. Semangat terus DKJ tetap bekerja tetap berkarya, lalu jangan anggap Kopi Raina menghakimi ya...

Semoga bermanfaat. Salam Kopi Raina,!
 


Penulis : Hendry Noesae

KOMENTAR DISQUS :

Top