Selasa, 13 November 2018 |
Suaro Wargo

Dewi: Jejak Peninggalan Sejarah Kesultanan Jambi, Salah Satunya Rumah Batu Olak Kemang

Rabu, 16 Mei 2018 19:11:53 wib
Photo : VIVA.co.id/Ramond EPU

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Jambi tidak hanya dikenal akan kekayaan alamnya. Dari sinilah, perpaduan sejumlah budaya bertemu. Mulai dari budaya China, Eropa hingga Islam di masa kesultanan. Salah satu jejak perkembangan kesultanan Jambi yang dapat Anda lihat adalah di Desa Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Seberang Kota Jambi. Jejak sejarah yang berlokasi dan dimaksud di sini adalah berupa Rumah Batu.

Rumah Batu olak kemang ini menjadi satu bangunan cukup mencolok di tengah permukiman penduduk Desa Olak Kemang. Menurut pengurus Rumah Batu, rumah itu adalah peninggalan seorang penyebar agama Islam di Kota Seberang pada abad ke-18 bernama Sayyid Idrus Hasan Al-Jufri yang dijuluki Pangeran Wiro Kusumo. “Disebut Rumah Batu karena pada waktu pembangunannya, rumah ini merupakan rumah batu pertama yang dibangun di daerah seberang. Di kala masih hidup, Pangeran Wiro Kusumo memiliki kedudukan yang penting pada masanya, yakni sebagai penengah antara Kesultanan Jambi dengan Belanda. Selain itu, dia juga ayah mertua dari Sultan Jambi, Sultan Thaha Syaifuddin.Pangeran Wiro Kusumo wafat pada tahun 1902 dan dimakamkan di Desa Olak Kemang. Tepatnya di depan Masjid Al–Ikhsaniyah yang juga masjid tertua di desa itu. Masjid juga dibangun Pangeran Wiro Kusumo pada tahun 1880.

Desa atau kelurahan Olak Kemang masuk kedalam Wilayah Kota madya Jambi. Antara Olak Kemang dengan Kota Jambi dipisahkan oleh Sungai Batanghari. Rumah Batu dapat ditempuh dengan dua jalan dari kota Jambi, yaitu jalan air dan darat. Jalan air menggunakan perahu kecil, dikenal oleh masyarakat Jambi dengan istilah "Ketek". Berangkat dari pasar "Angsa Duo" di Kota Jambi, Selatan Sungai Batang Hari, naik Ketek menyusuri Sungai Batanghari sepanjang kira-kira 2 kilometer sampai pada tepian sungai Batanghari yang berlainan (Utara Sungai Batanghari). Jalan darat melalui jalan raya.

Rumah Batu berdiri di atas tanah seluas 38 x 60 meter di halaman depan tampak gapura, taman, dan kolam cuci kaki. Di samping kanan dan kiri rumah terdapat kolam tempat mandi. Sekarang kondisi bangunan-bangunan itu sudah banyak yang rusak, di halaman depan dan belakang tumbuh tanaman rumput, pisang, rambutan, ceremai, tanaman merambat dan lain-lain, yang kurang mendapat perhatian dan pemeliharaan.Arsitektur Rumah Batu Olak Kemang, yang pada hakekatnya merupakan perpaduan antara rumah tradisional Jambi yang tidak asli lagi, Cina dan Eropa. Rumah Batu Olak Kemang didirikan langsung diatas tanah. yang rata.

Meski dikenal sebagai cagar budaya Jambi, nyatanya rumah yang biasa disebut juga dengan ‘Rumah Rajo’ ini belum dikelola sebagai aset wisata. Padahal, lokasinya kerap dikunjungi wisatawan baik lokal maupun luar daerah.“Rumah Batu, masjid dan makam Pangeran Wiro Kusumo sudah menjadi cagar budaya. Sudah banyak yang datang, sekedar foto-foto atau untuk foto prawedding,” Meski demikian, perawatan rumah tua ini sampai sekarang masih dilakukan seadanya oleh pihak keluarga dari keturunan Almarhum Said Idrus bin Said Hasan Al Jufri. Dimana saat ini tanggung jawab perawatannya berada di pundak Ibu Syarifah Aulia.

 

...

Ditulis Oleh:

Dewi Wulandari
Mahasiswi Universitas Islam Negeri sultan thaha syarifudin Jambi
Fakultas Ekonomi dan BIsnis Islam
Program studi Ekonomi Syariah

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

 

KOMENTAR DISQUS :

Top