Minggu, 23 September 2018 |
Kesehatan & Olahraga

Diduga Tercemar Limbah Tambang Batubara, Warga Rangkiling Alami Gatal-gatal

Kamis, 21 April 2016 20:32:01 wib
Warga Rangkiling Sarolangun gunakan air sungai yang diduga tercemar Limbah Tambang Batu Bara

JAMBIDAILY KESEHATAN-Diduga terjadi pencemaran sungai dari limbah kegiatan pertambangan Batubara  PT Seluma Prima Coal (SPC) dan Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI), sejumlah warga RT 03 dan RT 04 Desa Rangkiling Kecamatan Mandiangin terserang gatal-gatal setiap usai mandi di sungai.

"Selama ini kami mandi di sungai Semumai ini tidak terjadi apa-apa. Belakangan, sejak beberapa bulan ini, setelah mandi badan terasa gatal-gatal dan setelah digaruk membekas dan memerah,"ungkap warga Rankiling, Aisah yang turut dibenarkan warga lainnya, Zahra, kepada media ini, Kamis 21 April 2016.

Menurut Aisah, kondisi ini juga dialami warga RT 03 dan RT 04 lainnya, dan 80 persen warga masih mengandalkan air sungai untuk digunakan berbagai keperluan sehari-hari.

"Setiap hari kami hanya mandi di sungai ini. Karena 80 persen masyarakat sini masih mengandalkan air sungai untuk mandi, mencuci dan lainya,"tambahnya.

Warga lainnya, menceritakan, timbulnya penyakit gatal-gatal tersebut sejak beberapa bulan ke belakang dan warna air sungai yang biasa digunakan itu berwarna keruh pekat berwarna kecoklatan dan hitam. Kondisi ini terlihat jelas pada saat pagi hari.

"Apalagi pagi hari pak. Air nya keruh sekali. Ini sudah siang saja masih tampak keruh. Dan air sungai ini mengalir dari daerah pertambangan di daerah Rangkiling ini,"ujar warga yang minta namanya tidak ditulis.

Sementara itu, Tokoh Pemuda Setempat, Asmara, membenarkan keluhan warga selama ini karena kondisi sungai tercemar.

"Selama ini warga hanya diam tidak berani bersuara. Tadi kami bersama-sama sudah telusuri aliran sungai Semumai ternyata sungai ini sudah tercemar,"kata Asmara.

Diakuinya, air sungai Semumai yang selama ini menjadi tempat pemandian warga setelah dicek sampai di pertambangan batubara di PT Seluma prima Coal (SPC) yang tak jauh dari lokasi, ternyata limbah dari perusahaan itu dibuang saja ke sungai dengan warna yang keruh.

"Limbah batu bara dibuang saja ke sungai, pantasan sekarang warga kami gatal-gatal setelah mandi,’’ungkap Asmara.

Untuk itu, Dia meminta pihak terkait, seperti, BLHD dan DPRD Sarolangun yang membidangi pertambangan untuk turun segera.

"Salah satu staff perusahaan juga sudah mengakui kalau limbah di perusahanya itu sengaja dibuang ke sungai saat kami temui. Bahkan setelah warga datangi perusahaan baru pihak perusahaan turun dan mengaku akan membantu dengan membangun sumur untuk warga,"tandasnya.

Ia meminta, pihak perusahaan harus bertangungjawab akibat pembuangan limbah mereka. Seharusnya limbah perusahaan itu tidak langsung dibuang ke sungai tetapi melalui proses di dalam tambang didalam kolam-kolam penampungan limbah.

"Mereka harus bertangungjawab (PT SPC-red), terhadap warga Rangkiling," tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan, belum ada klarifikasi dari PT SPC.  Dikonfirmasi melalui KTT perusahaan Sarip tidak menanggapi, baik dihubungi melalui ponselnya maupun pesan singkat.(jambidaily.com/AJI)

KOMENTAR DISQUS :

Top