Selasa, 19 Februari 2019 |
Hukum

Dihentikan Sementara, Pengikut Beladiri Tapak Wali di Tanjabtim Sudah Capai Ratusan Orang

Selasa, 12 Februari 2019 19:48:12 wib

JAMBIDAILY TANJABTIM - Meski mendapat penghentian sementara, Paguyuban Seni Beladiri Pencak Silat Tapak Wali telah memiliki pengikut yang cukup banyak di Kabupaten Tanjung Jabung Timur (Tanjabtim), yaitu, mencapai ratusan orang.

Kegiatan pencak silat tapak wali tersebut, dihentikan sementara karena diduga telah mengajarkan hal-hal kepercayaan yang menyimpang dari agama. Penghentian sementara itu, berdasarkan hasil rapat forum diskusi dan kesepakatan bersama antara tim yang melibatkan dari Kepolisian, Kesbangpol, MUI dan Pengurus Pencak Dilat Tapak Wali itu sendiri.

Ketua MUI Tanjabtim, KH As'ad Arsyad mengatakan, MUI belum bisa mengeluarkan fatwa apakah kegiatan pencak silat Tapak Wali ini termasuk dalam aliran sesat atau tidak "Kita belum bisa mengeluarkan fatwa karena sebenarnya kalau tarekat hakikatnya itu memang ajaran agama,"kata KH As'ad saat konfrensi pers yang dilakukan di aula Kesbangpol Tanjabtim Selasa (12/2/2019).

MUI lanjutnya, masih menuggu kedatangan guru besar pencak silat Tapak Wali untuk memberikan penjelasan. Yang direncanakan akan dilakukan pertemuan kembali pada tanggal 24 sampai 25 Februari 2019.

Namun begitu menurutnya, aktivitas pencak silat tapak wali perlu dihentikan sementara agar tidak terjadi konflik di masyarakat "Yang masalah disini inikan organisasi sosial kenapa kemudian masuk ke agama. Ini paguyuban beladiri tapi disitu ada perbedaan muridnya diajarkan berwudhu itu diawali dari tangan kiri baru tangan kanan terus kembali lagi ke tangan kiri,"ujarnya.

"Tapi kita tunggu dulu pertemuan selanjutnya dengan guru besarnya untuk mengetahui esestensi dari pada paguyuban ini, apakah memang sekedar beladiri atau dia memang mau mengkombinasikan dengan tarekat,"tambahnya.

Paguyuban pencak silat Tapak Wali didirikan dari Sulawesi Tenggara. Di Kabupaten Tanjabtim, pencak silat ini sudah terbentuk cabang di 7 kecamatan yaitu Kecamatan Geragai, Menhul, Mendahara, Muarasabak Timur, Kuala Jambi, Rantau Rasau dan Dendang.

"Jumlah anggotanya kurang lebih sudah mecapai 130 orang. Kalau hanya sekedar latihan bela diri, pernapasan dan pengobatan tidak ada masalah karena mereka punya legalitas dari Kementrian Hukum dan Ham. Namun yang menjadi persoalan ada tahapan yang harusnya dilalui tapi tidak dilalui contonya, baru kelas satu sudah mau belajar tingkat tinggi ini yang berbahaya,"jelasnya.

 

Penulis : Hendri Rosta
Editor : Hendry Noesae

 

KOMENTAR DISQUS :

Top