Selasa, 16 Oktober 2018 |
Suaro Wargo

Dindri Nurhaliza: Sejarah Sa’adatuddaren, Pondok Pesantren Tertua di Daerah Jambi

Jumat, 18 Mei 2018 15:31:51 wib
JAMBIDAILY SUARO WARGO - Jambi merupakan salah satu pusat Kesulthanan Melayu Islam di Sumatera. Pondok Pesantren Sa’adatuddaren di Tahtul Yaman merupakan salah satu tempat pengajaran Islam tertua di Daerah melayu dan pesantren ini menjadi pesantren tertua di Daerah Jambi. Melintasi Jembatan Auduri yang membelah sungai Batanghari, suasana pedesaan mulai terasa. Beberapa pemuda tanggung bergerombol dipelantaran rumah panggung bercorak khas Jambi. Mereka tak terusik oleh raungan kilang kayu serta bau tak sedap yang menyeruak dari sebuah pabrik pengolahan karet ditepi sungai. 
 
Tampaklah sebuah Pondok Pesantren, halamannya masih sepi. Pesantren ini berlokasi ditepi kota, 10 kilometer dari pusat Kota Jambi. Jika dari sungai Batanghari hanya 2 kilometer. Tepatnya di Jalan Tumenggung Jakpar, Rt.06, Rw.01, Kelurahan Tahtul Yaman, Kecamatan Pelayang, Kota Jambi. Pesantren ini banyak menelorkan ulama tersohor. Pondok Pesantren Sa’adatuddaren adalah pusat pendidikan Islam di Jambi. Dulu namanya kombinasi Bahasa Arab dan Inggris : Sa’adatuddaren Islamic School (Sekolah Islam Kebahagiaan di Dua Negeri). Nama itu disematkan oleh pendiri : Almarhum K.H. Ahmad Syakur bin Syukur alias Guru Gemuk. 
 
Julukan guru gemuk itu diperoleh dari masyarakat. Sebutan kyai kala itu popular dibanding sebutan guru. Tubuh kyai yang memang gemuk. Setelah Sulthan Thaha Syaifuddin gugur zaman Belanda. Seorang ulama Jambi lainnya, K.H. Abdul Majid, merasa jiwanya terancam di Jambi. Ia hijrah ke Mekah, disana ia menjadi guru dan mendidik para santri yang berasal dari berbagai Negara, termasuk Jambi. Kebanyakan para santri asal Jambi pulang dan mendirikan pondok pesantren di kampung halamannya. Salah satunya adalah K.H. Ahmad Syakur bin Syukur alias Guru Gemuk yang kelak mendirikan Pondok Pesantren Sa’adatuddaren Tahtul Yaman. 
 
Sedangkan gurunya tadi setelah pulang ke Jambi mendirikan Pondok Pesantren Nurul Iman di Ulu Gedong sekitar satu kilometer dari Pesantren Sa’adatuddaren. Ikatan persaudaraan antara guru dan murid yang telah terajut di tanah suci itu tetap terjaga. Kemudian pada tahun 1909 kedua kyai tadi mempelopori terbentuknya wadah persaudaraan yang bernama Samaratul Insan. Pada 1915 Masehi atau 1333 Hijriah, Guru Gemuk mendirikan Pondok Pesantren yang dinamakan Sa’adatuddaren Tahtul Yaman. Guru Gemuk wafat pada tahun 1923 dalam usia 47 tahun. Ia sempat memimpin pondok tersebut selama lebih kurang 8 tahun, dari 1915 hungga 1923. Kemudian tampuk pimpinan diserahkan kepada K.H. Abdul Rahman. Namun Dua tahun kemudian, 1925 oleh beliau diserahkan kepada muridnya yang baru pulang dari mekkah : Abubakar Syaifuddin. Dimasa Abubakar inilah pondok mengalami kemajuan pesat, sampai-sampai santrinya melebihi kapasitas pemondokan. 
 
Pada masa  ini (1925-1942) keharuman nama Sa’adatuddaren terdengar hingga mancanegara. Namun roda selalu berputar. Pada 1942 pondok tersebut mulai mengalami berbagai macam cobaan. Masuknya penjajah Jepang membuat aktivitas pondok lumpuh total. Para guru banyak yang tertindas, intimidasi kepada seluruh elemen pondok merajalela. Pimpinan pondok Abubakar Syaifuddin pulang kekampung halamannya di Desa Teluk Rendah, Kabupatrn tebo, dan meninggal disana dalam usia 63 tahun. Setelah itu tampuk pimpinan dipegang K.H Muhammad Zuhdi alias Guru Zuhdi, lalu K.H Madjid (menantu Guru Gemuk). 
 
Pada 1955 pondok dipimpin K.H. Zaini bin Abdul Qodir, setahun kemudian dipegang oleh K.H Ahmad Jadawi (anak K.H. Abubakar Syaifuddin). Ahmad Jadawi ini guru yang menguasai empat bahasa: Arab, Inggris, Belanda, dan Jerman. Dia memimpin pesantren sekitar 25 tahun (1956-1989 M). Dialah pemimpin terlama sepanjang sejarah pondok itu. Setelah beliau wafat tahun 1989 M, tampuk pimpinan diserahkan kepada Guru Abdul Qodir Mahyuddin (keponakan Guru Gemuk) selama 13 tahun. Mengingat usianya sedah senja, maka dari 2003-2017 M dipegang oeleg Guru Helmi Abdul Madjid hingga beliau wafat, dan saat ini pimpinan pondok dipegang oleh K.H. Muhammad Daud H.A Kadir Al Hafizh. Pesantren ini mempertahankan kitab klasiknya (kitab kuning). Untuk tingkatan Tsanawiyah dan Aliyah tidak menerima santriwati.
 
Menurut Nazir ( Pengurus Pondok Pesantren Sa’adatuddaren beliau adalah keponakan dari pendiri Pondok Pesantren Sa’adatuddaren), pada zaman dulu guru yang mengajar santriwati biasanya bukan para kiyai. Tapi mereka di didik oleh istri para kiyai dirumah kiyai. Pesantren memang mengupas tentang kitab kuning. Mata pelajaran pada pondok itu meliputi : Qur’an, Tauhid, fikh, syorof, nahwu, dan tareh. Adalagi qowaid, muthala’ah. Khoth dan imlak, ahlak, tajawid serta Tafsif Al-Azhar. Kemudian ditambah lagi dengan bahasa Arab, tahfiz juga mahfuzhah. Tapi jika untuk tingkatan Aliyah, mata pelajaran itu ditambah lagi dengan : Nahwu Wadhih, tasawuf, mantiq dan hadist. Ada juga ekstrakulikuler, seperti belajar mengoperasikan computer, seni letter dan kaligrafi, jama’atul qurro’ (Qur’an Lagu), Barzanji serta angkatan marhaba, sarana dan organisasi. Adalagi kursus menjahit dan pagelaran seni.
 
Para santri dibimbin oleh pengajar yang berasal dari alumnus Gontor, Mesir, dan Mekah sebanyak 60 orang. Tapi 90 persen adalah alumni pondok pesantren itu sendiri. Biasanya setamat dari pondok mereka melanjutkan pendidikan ilmu kitab itu ke pesantren lain yang tersebar diseluruh Indonesia. Bahkan ada yang sampai ke tanah suci Mekkah atau tanah Arab lainnya. Lalu kembali mengajar di Pondok tersebut. Para muridnya pun berasal dari berbagai daerah. Ada yang dari Palembang. Padang, Pulau Jawa. Bahkan dari Malaysia, Singapura, Thailand, Brunei Darussalam dan mayoritas berasal dari provinsi Jambi. Pondok Pesantren Sa’adatuddaren berada dikawasan permukiman penduduk. Luasnya kira-kira 35 x 15 meter. Bangunan utama bertingkat dan terbuat dari beton permanen yang dilapisi cat warna putih. Pondok pesantren dibangun atas tanah wakaf sebesar 2 hektar. Disebelah kanan juga terdapat sebuah masjid. 
 
Masjid Jami Azharussa’adah Tahtul Yaman. Juga terdapat bangunan tua, bekas gedung pondok lama yang sekarang telah beralih fungsi menjadi Kantor Sekretariat Pondok. Disebelah kiri perbatasan dengan rumah penduduk yang dipisahkan oleh pagar besi keliling bercat putih. Dapur umum, sumur, dan WC dibangun semipermanen yang terletak dibelakang gedung lama. Adalagi bangunan menyerupai gudang yang dulunya pernah digunakan untuk ruan belajar. Sedangkan fasilitas lain seperti kantor majelis guru, laboratorium computer, koperasi pelajar. Ruang OPPS (Organisasi Pelajar Pesantren Sa’adatuddaren) serta tempat mencuci pakaian dan tempat setrika juga ada disana. Ada juga kantin, sarana olahraga dan perpustakaan. Pada masa sekarang (2018), dengan majunya teknologi informatika, pesantren beradaptasi dengan zaman. Tapi walaupun majelis guru sepakat menambah kurikulum, tidak memasukkan mata pelajaran tersebut pada kurikulum inti. Ciri khas pondok untuk terus menggali kitab kuning terus dipertahankan hingga saat ini.
 
 
...
Ditulis Oleh
Nama : Dindri Nurhaliza Fadila Sari
Universitas : Universitas Islam negeri sulthan thaha syaifuddin jambi
Fakultas : Ekonomi dan bisnis Islam
Jurusan : Ekonomi Syariah semester 2 
 
 
 
*Isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top