Senin, 16 September 2019 |
Suaro Wargo

Ditha Kamisahuri: Mengangkat Kembali Sejarah Rangkayo Hitam

Sabtu, 26 Mei 2018 13:27:47 wib
Foto: situsbudaya.id

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Agama Islam adalah agama yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. Dengan inilah Allah SWT menutup agama-agama sebelumnya. Allah SWT telah menyempurnakan agama ini bagi hamba-hamba-Nya. Dengan agama Islam ini pula Allah SWT menyempurnakan nikmat atas mereka. Allah hanya meridhoi Islam sebagai agama yang harus mereka peluk. Oleh sebab itu tidak ada suatu agama pun yang diterima selain Islam. Islam pun berkembang dan menyebar secara luas hingga ke Provinsi Jambi, dan orang pertama yang membawa agama islam masuk ke Provinsi Jambi adalah seorang berkebangsaan Turki bernama Ahmad Salim. Ahmad Salim kemudian menikah dengan salah seorang putri dari raja Aditiawarman yang beragama Budha yang dikenal dengan gelar Putri Selaras Pinang Masak yang kemudian menganut agama Islam, dan Ahmad Salim pun diberi gelar Datuk Paduko Berhalo.

Dari pasangan Ahmad Salim (Datuk Paduko Berhalo) dan Putri Selaras Pinang Masak mempunyai anak yang bernama Sayyid Ahmad Kamil atau yang digelari Rangkayo Hitam. Sebagai seorang raja, ia berhasil menyebarluaskan agama Islam di tanah Melayu Jambi dengan mengembangkan semboyan adat “adat bersendi syara’, syara’ bersendi kitabullah, syara’ mengato adat memakai”,  yang kemudian ia mengislamkan sepupunya dari Pagaruyung yang kemudian dinobatkan sebagai Sunan Pijoan serta Sunan Kembangseri.

Rangkayo Hitam merupakan seorang Raja Melayu Jambi yang sangat pemberani dan sakti. Dan pada saat kakaknya Rangkayo Pingai menjabat menjadi raja, Rangkayo Hitam juga berhasil menggagalkan umpeti yang dikirimkan kakaknya Rangkayo Pingai kepada Kerajaan Mataram. Karena Rangkayo Hitam berpendapat bahwa Kerajaan Melayu Jambi merupakan kerajaan yang berdaulat dan tidak tunduk terhadap kerajaan manapun.

Dan tindakan Rangkayo Hitam tersebut menimbulkan kemarahan besar Raja Mataram dan raja tersebut pun berniat untuk melakukan penyerangan ke Kerajaan Melayu yang disebut dengan serangan Pamalayu, dan beliaupun segera memerintahkan seorang empu yang bernama empu Bajakarti untuk membuat sebuah keris sakti yang pembuatannya harus dari tujuh macam besi yang diawali oleh huruf “P”, dan keris tersebut akan sempurna apabila telah dimandikan ditujuh muara. Yang kelak akan digunakan untuk membunuh Rangkayo Hitam, karna Raja Mataram mengetahui bahwa Rangkayo Hitam adalah orang yang sangat sakti, ia juga memiliki Kerajaan gaib dan memiliki pasukan gaib yang jumlahnya tujuh kali lipat dibandingkan pasukan Kerajaan Mataram.

Dan keris tersebut berhasil direbut Rangkayo Hitam dari empu Bajakarti yang langsung disempurnakan oleh Rangkayo Hitam. Pada saat penyerangan Rangkayo Hitam berhasil memenagkan peperangan terhadap Kerajaan Mataram, dan Raja Mataram pun menyerah, dan menawarkan Rangkayo Hitam untuk menjadi Raja di salah satu kerajaan yang berada dibawah kekuasaan Raja Mataram. Tetapi  Rangkayo Hitam menolak dan lebih memilih pulang ke Kerajaan Melayu Jambi untuk menggantikan kakaknya menjadi Raja di kerajaan peninggalan ayahnya. Dan keris yang tadinya digunakan untuk membunuh beliau malah menjadi miliknya yang dihadiahkan oleh Raja Mataram. Rangkayo Hitam sering meletakkan keris tersebut disanggul rambutnya sehingga orang-orang sering menyebutnya dengan sebutan ginjai yang berarti tusuk konde. Sampai akhirnya keris tersebut diberi nama “Keris Siginjai”. Selain itu satu tombak buatan empu Bajakarti yang diberi nama Sinancan juga dihadiahkan kepada Rangkayo Hitam sebagai tanda persahabatan antara kerajaan jambi dan raja ditanah jawa lainnya menjadikan dua kerajaan tersebut bersekutu.

Pada saat Rangkayo Hitam melakukan perjalanan,Rangkayo Hitam tidak sengaja melihat seorang gadis berambut terurai indah yang menimbulkan rasa penasaran, setelah dicari tahu ternyata gadis itu bernama Putri Mayang Mangurai. Putri Mayang Mangurai merupakan anak dari seorang pendekar sekaligus Raja Air Hitam yang bernama Datuk Tumenggung Merah Mato.

Setelah mengetahui identitas gadis tersebut, Rangkayo Hitam pun memberanikan diri untuk mengutarakan niat baiknya untuk mempersunting Putri Mayang Mangurai anak Tumenggung tersebut.  Namun niat baik tersebut tidak diterima begitu saja oleh Tumenggung Merah Mato, banyak persyaratan yang diujikannya. Bukan hanya Tumenggung, Putri Mayang Mangurai juga mengajukan syarat kepada Rangkayo Hitam, dan Rangkayo Hitam menyanggupi semua persyaratan tersebut. Hingga pada akhirnya semua persyaratanyang diberikan oleh Tumenggung Merah Mato maupun Putri Mayang Mangurai berhasil Rangkayo Hitam penuhi dan Rangkayo Hitam pun dapat melaksanakan niat baiknya yaitu menikahi Putri Mayang Mangurai.

Dan pada saat wafatnya Rangkayo Hitam dimakamkan di Des. Simpang Kec. Berbak Kab. Tanjung Jabung Timur yang tepatnya ditepi sungai Batanghari yang mana air sungai tersebut sering sekali menenggelamkan (Banjir) Des. Simpang. Bukan hanya Makam Rangkayo Hitam tetapi makam istri dan kucing kesayangan nya pun dimakamkan di desa Simpangyang tepat disebelah makam Rangkayo Hitam.

Yang mana makam Rangkayo Hitam tersebut berbentuk persegi panjang dengan ukuran 5,2 Meter x 1,5 Meter, sedangkan makam istrinya Putri Mayang Mangurai berukuran 3,7 Meter x 1,4 Meter. Ukuran dua makan tersebut terbilang besar untuk makam manusia kini yang umumnya hanya memiliki panjang 1,5 Meter sampai 2 Meter saja. Dan yang mengejutkan nya lagi , makam kucing kesayangan Rangkayo Hitam juga memiliki ukuran yang besar dan panjang dari ukuran makam kucing pada umumnya, yaitudengan ukuran  3,2 Meter x 1,2 Meter.

Pada hari-hari tertentu, kita dapat menjumpai para peziarah datang ke pemakaman itu. Selain berdoa, ternyata banyak peziarah yang juga meminta-minta sesuatu di makam itu, termasuk memanjatkan niat dan bernazar untuk hal-hal tertentu.

Salah satu situs bersejarah di Jambi adalah makam Raja Melayu Jambi (Rangkayo Hitam), yang mana pada saat ini kondisi makam tersebut sangat memprihatinkan. Karena Situs bersejarah tersebut kini terancam rusak akibat abrasi Sungai Batanghari. Lokasi makamRaja Melayu Jambi itu memang berjarak hanya beberapa meter dari tepi Sungai Batanghari.

Kepala Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jambi, Muhammad Ramli mengakui kondisi makam Rangkayo Hitam yang terancam abrasi. Ia merekomendasikan agar Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Tanjung Jabung Timur segera memperbaikinya, khususnya di pinggiran Sungai Batanghari, agar abrasi tidak sampai menjangkau lokasi situs makam raja tersebut.

 

...

Disusun Oleh
Nama: Ditha Kamisahuri As
Kelas: II J
Jurusan Ekonomi Syariah
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifudin Jambi

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top