Jumat, 24 Mei 2019 |
Hukum

Ditpolairud Polda Gerebek Rumah JN diduga Gudang Penampungan Benih Lobster di Jambi

Selasa, 14 Mei 2019 15:00:26 wib

JAMBIDAILY HUKUM - Jajaran Ditpolairud Polda Jambi menggerebek gudang penampungan benih lobster (BL) di kota Jambi, berhasil mengamankan warga negara Tiongkok dan barang bukti 81.000 ekor (BL) jenis Pasir dengan Estimasi nilai: Rp. 12.150.000.000, Senin (13/05/2019) malam di Jalan Sari Bakti Kelurahan Beliung Kecamatan Alam Barajo RT 9 Kota Jambi.

Aksi ini merupakan gerak cepat jajaran Ditpolairud polda Jambi setelah menangkap pada Senin (13/05/2019) dinihari, 13 box tersebut berisi 78.000 Baby lobster jenis pasir, jika dirupiahkan nilainya mencapai Rp 12 miliar lebih dan 8 box berisi 46.500 ekor, dengan rincian 45.000 jenis mutiara dan 1500 jenis baby lobster pasir, senilai Rp 6 miliar.

Penggerebekan selain 81.000 ekor (BL), juga berhasil mengamankan pelaralatan penampungan BL yaitu: 2 Unit Pompa Air (berbagai merek), 2 unit tabung oksigen, galon berisi air laut, 4 unit pompa celup (berbagai merek), 3 unit plastic sealer. Lalu Enam orang pelaku KH (Warga Tiongkok), LC (Warga Rokan Hilir, Riau) dan HR (Warga Jakarta) selaku penerjemah, lalu ZI (Warga Batanghari, Jambi) PA (Warga Jambi) dan AI (Warga Tulang Bawang, Lampung) sebagai pekerja Packing.

Dalam keterangan pers Ditpolairud polda Jambi bersama Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu dan Keamanan Hasil Perikanan provinsi Jambi (Selasa, 14/05/2019), diterangkan modus operandinya ialah, Orang inisial TN (DPO) warga negara Tiongkok berhubungan dengan JN (DPO) untukmencarikan lokasi dan pekerja kemudian TN mengutus KH untuk mengawasi kegiatan Packing serta penerimaan pengiriman BL di kota Jambi selanjutnya KH mengajak LC dan HR sebagai penerjemah.

BL diduga datang dari pulau Jawa diterima oleh JN di gudang tersebut untuk dilakukan penampungan sementara dan packing ulang, selanjutnya BL akan dikirim melalui laut menuju ke Singapura, dalam pengiriman BL dikendalikan oleh TN (DPO).

Atas perbuatannya ketiga tersangka di jerat dengan pasal 88 Jo pasal 16 ayat 1 junto pasal 100 Jo Pasal 7 ayat 2 undang-undang RI no 31 tahun 2004 tentang perikanan sebagaimana telah dirubah dengan UU RI nomor 45 tahun 2009 Jo pasal 55, 56 KUHPidana, dengan ancam maksimal 6 tahun penjara dan denda sebesar Rp.1,5 miliar.

 


(Hendry Noesae)

 

 

 

 

 

 

 

 

Berita Terkait:

KOMENTAR DISQUS :

Top