Jumat, 21 September 2018 |
Suaro Wargo

Dodi Saputra: Dampak Buruk Perceraian Terhadap Anak

Minggu, 27 Mei 2018 06:37:07 wib
ilustrasi/gencil.news

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Dalam sebuah keluarga hubungan antar kedua orang tua tidak selalu baik dan harmonis. Ada saja polemik yang terjadi dalam rumah tangga  membuat hubungan keduanya renggang bahkan tidak sedikit pula yang berakhir pada perceraian atau sering disebut “brooken home”, yang membuat keduanya tidak bisa bersama lagi. Perceraian adalah berakhirnya suatu hubungan pernikahan saat kedua pasangan tidak ingin melanjutkan pernikahan.

Banyak hal yang melandasi perceraian, dari permasalahan ekonomi, perselingkuhan, perbedaan, kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) atau banyak masalah lainya. Perceraian bukan masalah suami dan istri saja tapi,ada kaitannya dengan anak-anak meraka sebagai bukti dari buah cinta keduanya. Sehingga dampak buruk tidak terjadi antara suami istri saja namun anak-anak mereka ikut merasakan.

Usia anak saat perceraian terjadi atau pasca peceraian juga mempengaruhi psikologi anak, mulai dari anak-anak atau balita, remaja dan dewasa. Masing-masing menaggapi perceraian tergantung usia dan daya fikir anak itu sendiri. Anak-anak dan remaja lebih cendrung merasa sedih yang mendalam melihat kedua orang tuanya harus bercerai, ada rasa tidak aman, kesepian, kesal atau marah, merasa kehilangan bahkan ada yang menyalahkan diri sendiri yang mengakibatkan kedua orang tuanya harus bercerai. Dampak tersebutlah yang mengakibatkan psikologi anak berubah hingga usia dewasa. Tak menutup kemungkinan anak akan sering halusinasi, kalau kedua orang tuanya akan bersatu kembali, Perasaan takut gagal kita menjalin hubungan ketika dewasa. Ironinya lagi perceraian ikut mempengaruhi perkembangan akademik anak-anak.

Berbeda pula dampak yang ditimbul pasca perceraian pada anak yang sudah mencapai usia dewasa. Dia dapat menyikapi permasalahan kedua orang tuanya dengan lebih bijak, mereka dapat menerima perceraian kedua orang tuanya meskipun tak semuanya begitu, bukan tidak mungkin akan berakibat sama seperti anak-anak atau remaja.

Setelah resmi bercerai maka kedua orang tua harus berpisah, tidak bisa hidup bersama lagi dalam satu rumah sehingga anak harus tinggal dengan orang tua tunggal, ayah atau ibunya. Sehingga kehidupan akan menjadi berubah drastis dari sebelumnya bersama kedua orang tua hingga hidup terpisah. Banyak perasaan yang dirasa mulai kehilangan sosok pemimpin (bagi anak yang tinggal bersama ibunya), kehilangan kehangatan perhatiaan dan kasih selembut cinta ibu (bagi anak yang tinggal bersama ayahnya). Jadi tidak heran lagi jika banyak anak tersebut mengalami perubahan psikis dan proses belajar anak sehingga mempengaruhi nilai akademiknya.

Merosotnya kemampuan akademik pada anak pasca perceraian ini juga diakibatkan stres sebagai dampak bercerainya kedua orang tua karna tak bisa dipungkiri keharmonisan kelurga akan meningkatkan prestasi akademik anak, bukan berarti anak yang merosot akademiknya ini lebih bodoh hanya saja konsentrasinya dalam belajar akan terganggu  sebab dalam masa stres.

Seiring berjalannya waktu mereka akan bisa menerima bahwa kedua orang tuanya harus berpisah, menyesuaikan diri dengan keluarga yang baru. Untuk mencegah hal negatif diatas maka disarankan kepada kedua orang tua yang resmi berpisah harus menjaga komunikasai yang baik terhadap anak, lebih perhatian berikan penjelasaan yang logis dan jangan menjelekan mantan pasangan masing-masing didepan anak,tidak melarang anak untuk bertemu salah satu orang tuanya. Dengan demikian anak akan merasa lebih dianggap, masih disayang dan dapat perhatian sehingga tidak terlalu berpengaruh pada psikis anak dan fokus anak dalam belajar sehingga prestasi akademik anak tidak menurun.

 

...
Disusun Oleh
Nama: Dodi Saputra
Universitas Islam Negeri Sulthan Thaha Saifudin Jambi

 

 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top