Kamis, 19 Juli 2018 |
Suaro Wargo

Fathiyyatur Rahmah: Mendidik Bangsa, Membangun Peradaban Dunia dari Gontor untuk Negeri

Minggu, 20 Mei 2018 02:03:06 wib
Foto: marufamir.blogspot.com.jpg

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Banyak sekali sejarah peninggalan Islam yang ada di Indonesia salah satunya ialah lembaga pendidikan yang berbasis Islam, yaitu Ponpes. Menurut data dari kementerian agama RI pada akhir tahun 2017 tercatat 25.938  jumlah Ponpes yang tersebar di penjuru tanah air. Dengan jumlah sebanyak 3.962.700 santri. Angka tersebut menunjukkan peningkatan yang sangat signifikan dibandingkan puluhan tahun silam tepatnya pada tahun 1977 yang mana hanya berjumlah 4.195  Ponpes dan 677.394 santri di Indonesia. Jumlah ini menunjukkan bahwa Ponpes sangat berkembang pesat di Indonesia dan masih mmenjadi daya tarik serta minat masyarakat maupun orang tua untuk menyekolahkan anaknya di Ponpes.

Ponpes sendiri merupakan perpaduan budaya dan tradisi dari masa pra Islam di nusantara. Yang mana penyebaran agama Hindu-Buddha dilakukan dengan membentuk tempat yang dinamakan  asyrama dan mandala. Tempat tersebut digunakan para siswa untuk belajar ilmu agama mereka. Namun,  Walisongo dalam menyebarluaskan agama  Islam pun sering memadupadankan budaya, tradisi, dan agama. Khususnya Maulana Malik Ibrahim yang pertama kali memperkenalkan Ponpes di Nusantara. Sehingga terbentuklah Ponpes di Indonesia yang merupakan perpaduan dari budaya, tradisi, dan agama tersebut. Menurut Dawam Rahardjo bahwa Ponpes adalah hasil penyerapan akulturasi dari masyarkat Indonesia terhadap kebudayaan Hindu-Buddha dan kebudayaan Islam yang kemudian menjelmakan suatu lembaga yang lain dengan warna Indonesia.

Maka dari itu, Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor hadir di tengah masyarakat untuk mendidik bangsa dan membangun pradaban dunia. Cikal bakal Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontorbermula pada abad ke-18, saat Kyai Ageng Hasan Besari mendirikan Pondok Tegalsari di Desa Jetis Ponorogo Jawa Timur (10 KM ke arah selatan kota Ponorogo). Pondok Tegalsari sangat termasyhur pada masanya, sehingga didatangi ribuan santri dari berbagai daerah di pelosok nusantara. Kepemimpinan Pondok Tegalsari berlangsung selama enam generasi. Pada pertengahan abad ke-19, yaitu pada masa Kyai Hasan Khalifah, Pondok Tegalsari mulai mengalami kemunduran. Pada saat itu, dia mempunyai seorang santri kesayangan bernama R.M. Sulaiman Djamaluddin, seorang keturunan Keraton Kasepuhan Cirebon. Kyai Hasan Khalifah kemudian menikahkan putri bungsunya Oemijatin (dikenal dengan Nyai Sulaiman) dengan R.M. Sulaiman Djamaluddin dan mereka diberi tugas mendirikan pesantren baru untuk meneruskan Pondok Tegalsari, yang di kemudian hari pesantren baru ini dikenal dengan Pondok Gontor Lama.

Berbekal 40 santri yang dibawa dari Pondok Tegalsari, Kyai R.M. Sulaiman Djamaluddin bersama istrinya mendirikan Pondok Gontor Lama di sebuah tempat yang terletak ± 3 kilometer sebelah timur Tegalsari dan 11 kilometer ke arah tenggara dari kota Ponorogo. Pada saat itu, Gontor masih merupakan hutan dan kerap kali dijadikan persembunyian perampok, penjahat, dan penyamun. Kepemimpinan Pondok Gontor Lama berlangsung selama tiga generasi. Kyai Santoso Anom Besari menikah dengan Rr. Sudarmi, keturunan R.M. Sosrodiningrat (Bupati Madiun). Kyai Santoso Anom wafat pada tahun 1918 di usia muda dan meninggalkan 7 anak yang masih kecil. Kepemimpinan Pondok Gontor Lama pun akhirnya berakhir, Di kemudian hari, tiga dari tujuh putra-putri Kyai Santoso Anom Besari menghidupkan kembali Pondok Gontor Lama dengan memperbarui dan meningkatkan sistem serta kurikulumnya.

Setelah menuntut ilmu di berbagai pesantren tradisional dan lembaga modern, tiga orang putra Kyai Santoso Anom akhirnya kembali ke Gontor dan pada tanggal 20 September 1926 bertepatan dengan 12 Rabiul Awwal 1345, dalam peringatan Maulid Nabi SAW, mereka mengikrarkan berdirinya Pondok Modern Darussalam Gontor (PMDG). Ketiganya dikenal dengan sebutan Trimurti Pendiri Pondok Modern Darussalam Gontor, yaitu:

  • K.H. Ahmad Sahal (1901–1977)
  • K.H. Zainudin Fananie (1908–1967)
  • K.H. Imam Zarkasyi (1910–1985)

Pada tanggal 12 Oktober 1958 bertepatan dengan 28 Rabi’ul Awwal 1378, Trimurti mewakafkan PMDG kepada umat islam. Sebuah pengorbanan kepemilikan pribadi demi kemaslahatan umat. Pihak penerima amanat diwakili oleh 15 anggota alumni Gontor (IKPM) yang kemudian menjadi Badan Wakaf PMDG.

Kurikulum yang diajarkan digontorlah yang tentunya menjadi acuan utama sehingga Gontor dapat menjadi salah satu pionir dalam mendidik bangsa dan membangun pradaban dunia. Materi pendidikan yang berbasis keimanan, keislaman, akhlak karimah, keilmuan, kewarganegaraan, kesenian & keterampilan, kewirausahaan, dakwah & kemasyarakatan, kepemimpinan, manajemen, keguruan, pendidikan jasmani dan kesehatan, pendidikan kewanitaan (khusus pesantren putri). Yang mampu menciptakan program pendidikan yang terbagi menjadi 3 macam, yaitu :

  • Intra Kurikuler: Dirasah Arabiyah (Arabic Studies), Dirasah Islamiyah (Islamic Studies), Keguruan, Bahasa Inggris, Ilmu Pasti, Ilmu Pengetahuan Alam, Ilmu Pengetahuan Sosial, Kewarganegaraan (Keindonesiaan).
  • Ko Kurikuler: Ibadah amaliyah sehari-hari, Extensive Learning (belajar tutorial), kajian kitab, pembinaan bahasa asing, pidato/diskusi 3 bahasa, penerbitan, seminar, dll.), Praktik dan Bimbingan (mengajar, etiket/sopan santun, dakwah)
  • Ekstra Kurikuler: Latihan dan praktik berorganisasi (leadership, administrasi dan manajemen), latihan dan kursus-kursus (kepramukaan, keterampilan, kesenian, kesehatan, pidato/ diskusi 3 bahasa, olahraga, koperasi dan kewirausahaan, & sadar lingkungan), dinamika kelompok wajib & atau pilihan/minat.

Dari kurikulum tersebutlah gontor telah banyak mencetak dan mendidik anak bangsa menjadi ulama dan umara hingga saat ini dan di masa yang akan datang. Beberapa nama-nama tokoh hasil lulusan dari PMDG antara lain, yaitu :

  • Dr. TGH. Muhammad Zainul Majdi, M.A atau yang akrab disapa Tuan Guru Bajang (TGB) (lahir di Pancor, Selong, 31 Mei 1972; umur 45 tahun) adalah Gubernur Nusa Tenggara Barat 2 periode, masa jabatan 2008-2013 dan 2013-2018. Sebelumnya, Majdi menjadi anggota DPR RI masa jabatan 2004-2009 dari Partai Bulan Bintang yang membidangi masalah pendidikan, pemuda, olahraga, pariwisata, kesenian dan kebudayaan (Komisi X). Dengan sejuta prestasi dan penghargaan yang telah beliau raih. Beliau mampu memberikan perubahan dengan menerapkan syariat Islam di masyarakat NTB di masa kepemimpinannya.
  • Lukman Hakim Saifuddin (lahir di Jakarta, 25 November 1962; umur 55 tahun) adalah Menteri Agama Indonesia yang menjabat sejak 9 Juni 2014 di Kabinet Indonesia Bersatu II dan kembali menjadi menteri di Kabinet Kerja sejak 27 Oktober 2014. Ia pernah menjadi anggota DPR RI periode 1999-2004, 2004-2009 dan 2009-2014 dari Partai Persatuan Pembangunan mewakili Jawa Tengah. Ia juga pernah menjabat Wakil Ketua MPR RI periode 2009-2014. Lukman Hakim merupakan tokoh NU dan menjabat sebagai Wakil Sekretaris Pimpinan Pusat Lembaga Kemaslahatan Keluarga NU (LKKNU) 1985-1988. Selanjutnya pada tahun 1988-1999 Lukman berkiprah di Lajnah Kajian dan Pengembangan Sumberdaya Manusia (Lakpesdam) NU sebagai Wakil Sekretaris, Kepala Bidang Administrasi Umum, Koordinator Program Kajian dan Penelitian, Koordinator Program Pendidikan dan Pelatihan, hingga menjadi Ketua Badan Pengurus periode 1996-1999.Pada 9 Juni 2014, Lukman Hakim resmi dilantik oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono sebagai Menteri Agama menggantikan Suryadharma Ali yang mengundurkan diri karena terlibat kasus dugaan korupsi dana haji di Kementerian Agama. Lukman juga merupakan anak dari Menteri Agama ke-9, Saifuddin Zuhri. Beliau merupakan Menteri Agama yang mendapat amanat menjabat selama 2 masa kepemimpinan presiden.

Pesan yang pernah saya dapatkan dari guru saya di Ponpes Modern Ahidayah Kota Jambi yang merupakan alumni dari Pondok Pesantren Modern Darussalam Gontor, yaitu “Apabila kamu menanam padi, rumput akan tumbuh. Namun, apabila kamu menanam rumput, padi tidak akan tumbuh.”  Yang berarti apabila kamu mengejar ilmu akhirat dunia akan mengikutimu. Namun, apabila kamu mencari ilmu dunia akhirat tidak akan mengikutimu.

 

...

Ditulis Oleh:
Nama: Fathiyyatur Rahmah.
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi.
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam.
Jurusan Ekonomi Syariah.


 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top