Kamis, 27 Juni 2019 |
Suaro Wargo

Fatmawati: Dampak Pengasuhan Orang Tua yang Posesif

Senin, 28 Mei 2018 04:25:48 wib

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Keluarga adalah lingkungan sosial dan hubungan yang pertama ditemui anak. Banyak yang dipelajari anak dalam keluarga, terutama hubungannya dengan orangtua. Pengasuhan orangtua menentukan perilaku perkembangan anak terhadap lingkungan sekitarnya.

Setiap orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, namun tidak sedikit orangtua yang menggunakan alasan tersebut untuk bersikap posesif dan egois terhadap anak. Mereka beranggapan bahwa anak adalah hak milik orangtua, yang bisa diperlakukan sesuai keinginannya. Sikap posesif orangtua terhadap anak justru dapat menghambat pertumbuhan dan perkembangan anak tersebut.

Adakalanya orangtua menginginkan yang terbaik untuk anaknya dan selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Semua perilaku dan sifat anak haruslah sesuai dengan keinginan orangtua, dan semua obsesi orangtua dilimpahkan kepada anak. Orangtua tidak boleh terlalu egois dan bertindak seenak hati tanpa memikirkan si anak, bukankah anak juga memiliki perasaan dan keinginannya sendiri.

Pola asuh oarngtua yang posesif memiliki banyak efek negatif, karena itu sebaiknya dihindari. Penelitian telah membuktikan bahwa anak dalam pola asuh posesif cendenrung mengalami over weight. Karena mereka mengalami terlalu banyak larangan yangmenghambat aktivitas mereka. Akibatnya mereka lebih banyak menghabiskan waktu bermainnya di depan TV atau komputer.

Dalam jangka panjang anak-anak tipe ini akan mudah bergantung pada orang lain, mudah cemas, kurang dewasa, sulit menyelesaikan hal-hal yang mendasar, serta kurang trampil bersosialisasi.

Beberapa efek pola pengasuhan posesif terhadap anak

Anak lebih sering mengambil keputusan secara terburu-buru

Peneliti Jamie Abaied dan rekan-rekannya meneliti hubungan mahasiswa dengan orangtuanya. Hubungan mereka dianalisis berdasarkan seberapa sering orangtua menghubungi anak. Ditemukan bahwa mahasiswa yang orangtuanya sering mengirim pesan merasa lebih mudah cemas dan stres. Hal ini membuat mereka lebih sering mengambil keputusan secara terburu-buru.

Sebaliknya, mahasiswa yang berkirim pesan dengan orangtuanya dalam frekuensi normal memiliki kepribadian yang lebih tenang, dan lebih baik dalam mengambil keputusan dan sering dipilih menjadi pemimpin kelompok.

Anak tak percaya diri karena menganggap orangtua tak mempercayai

Anak terlalu sering diatur orangtua menyebabkan anak tak percaya diri, hal ini terjadi karena anak menganggap orangtua tak mempercayainya. Terlalu banyak diatur orangtua, anak lama kelamaan bisa kehilangan self regulation. Ketidakpercayaan orangtua itulah yang membuat anak tidak percaya pada dirinya sendiri.

Masa depan anak tak bahagia

Penelitian yang dilakukan oleh Dr.Mai Stafford University College London dilakukan pada 5000 orang yang lahir pada tahun 1946, Dr. Stafford melakukan survei terhadap pola asuh orangtua dan bagaimana kehidupan anak bertahun-tahun kemudian.

Penelitian Dr. Staffordmenemukan bahwa orangtua yang mengedepankan kehangatan dan responsif memiliki anak yang lebih bahagia, lebih sehat secara mental dan lebih puas menjalani hidup ketika dewasa.

Sebaliknya, orangtua yang mengekang anak ternyata berpotensi membuat anak tidak bahagia dan tidak puas akan hidupnya. Ada beberapa faktor yang memengaruhi perasaan iini, antara lain ketergantungan yang tinggi terhadap orangtua dan tidak bisa mengambil keputusan sendiri.

Bukankah akan lebih bijak jika orangtua mengarahkan dan membina anaknya sesuai minat dan bakatnya. Namun, bukan berarti mengabaikan aspek lain di luar minat dan bakat anak. Jadikanlah kesukaannya sebagai sarana belajar yang menyenangkan untuk mengembangkan aspek yang kurang pada diri anak. Didiklah anak dengan memberikan kebebasan tetapi harus diikuti aturan, jangan biarkan mereka hancur hanya karena sikap posesif dan keegoisan orangtua sendiri.

 

 

...

Disusun Oleh

Nama: Fatmawati

Semester: II (Dua)

Fakultas: Tarbiyah dan Keguruan

Univ: UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi

 

 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

 

KOMENTAR DISQUS :

Top