Minggu, 21 Oktober 2018 |
Suaro Wargo

Fitri Hayani: Menguak Sejarah di Candi Muaro Jambi

Jumat, 25 Mei 2018 04:01:42 wib
Foto: liputan6.com

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Candi Muaro Jambi adalah sebuah komplek candi agama Hindu dan Budha paling luas dan paling terawat di Indonesia yang diperkirakan sebagai candi peninggalan kerajaan Sriwijaya dan kerajaan Melayu di Sumatera. Situs Purbakala Kompleks Percandian Muara Jambi adalah sebuah kompleks percandian agama Hindu-Buddha terluas di asia tenggara, dengan luas 3981 hektar. Komplek candi ini terletak di Kecamatan Muara Sebo, Kabupaten Muara Jambi, Jambi. Tepatnya di tepi Batang Hari atau sekitar 26 km sebelah timur kota Jambi.
 
Dalam kompleks tersebut minimal terdapat 85 buah menapo yang saat ini masih dimiliki oleh penduduk setempat. Selain tinggalan yang berupa bangunan, dalam candi tersebut juga ditemukan arca prajnaparamita, dwarapala, gajahsimha, umpak batu, lumpang/lesung batu. Gong perunggu dengan tulisan Cina, mantra Buddhis yang ditulis pada kertas emas, keramik asing, tembikar, belanga besar dari perunggu, mata uang Cina, manik-manik, bata-bata bertulis, bergambar dan bertanda, fragmen pecahan arca batu, batu mulia serta fragmen besi dan perunggu. Selain candi pada kompleks tersebut juga ditemukan gundukan tanah (gunung kecil) yang juga buatan manusia. Oleh masyarakat setempat gunung kecil tersebut disebut sebagai Bukit Sengalo atau Candi Bukit Perak.

Berdasarkan perkiraan pakar purbakala, candi ini dibangun pada abad ke 11. Dimana pada saat itu masih berada di bawah masa pemerintahan Sriwijaya dan hingga saat ini candi tersebut masih utuh dan dan terawat dengan baik. Tak hanya itu, ternyata Candi ini merupakan salah satu warisan budaya agama Budha yang bernilai sangat tinggi. Dimana pada bagian-bagian yang terdapat pada bangunan Candi tersebut dapat menunjukkan bahwa, zaman dulu Candi Muaro Jambi ini pernah dijadikan sebagai salah satu pusat tempat peribadatan agama Budha Tantri Mahayana di Indonesia. 

Candi muaro jambi juga tempat pusat pendidikan Agama Budha sejak abad 7. Berdasarkan catatan biksu Tiongkok It-Sing, mulai abad itu, kata Borjo, banyak siswa dan biksu dari India, Tibet, dan Tiongkok untuk belajar di Candi Muara. Berdasarkan Catatan It Sing pada abad ke 7, 

“Dia sudah melihat ribuan siswa yang belajar tata bahasa sanskereta. Ini jadi komplek pendidikan dari biksu, Tibet, Tiongkok dan India. Biksu-biksu yang sudah mendapatkan ilmu dari Muara Jambi menyebarkan ilmunya ke negaranya” Dijelaskan juga kalau keberadaban Komplek Muara Candi mulai terhapus karena musibah banjir bandang yang terjadi pada akhir abad 15. Setelah bencana ini, datang lagi wabah penyakit kolera yang menyerang masyarakat setempat termasuk biksu. Akibat dua bencana ini membuat generasi masyarakat saat itu terputus. Mulai awal 16, masyarakat Melayu generasi berbeda menjadi penghuni area yang saat ini menjangkau lima desa itu.Meski demikian, bagi pelancong yang ingin mengunjungi area bersejarah ini perlu memperhatikan mitos yang dipercaya masyarakat sekitar. Menurut sejarah, mitos yang masih diyakini adalah saat mengunjungi lokasi sejarah ini tidak boleh membawa kekasih atau istri.

Akibat semakin banyaknya para wisatawan yang datang. Pada tahun yang lalu 2011, Candi Muaro Jambi ini telah diresmikan oleh Presiden yakni Bapak SBY (Susilo Bambang Yudhoyono) yang mana dalam hal tersebut mengatakan bahwa, Candi Muaro Jambi ini dijadikan sebagai Kawasan Wisata Sejarah Terpadu (KWST) yang terdapat di Sumatera.
Tentunya berkat keberadaan Candi Muaro Jambi yang telah banyak menyedot para pengunjung. Pelestarian serta keamanannya harus tetap dijaga dan dilestarikan agar obyek wisata yang satu ini tetap dijadikan sebagai salah satu tujuan wisata bagi para wisatawan lokal maupun mancanegara

 

 

...
Disusun Oleh: 
Nama: Fitri Hayani
Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Syaifuddin Jambi
Fakultas Ekonomi Dan Bisnis Islam 
Prodi Ekonomi Syariah

 

 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top