Senin, 16 September 2019 |
Suaro Wargo

Fitria Rizka: Mengenal Lebih Dekat Istana Kerajaan Peninggalan Raja Sultan Thaha Saifuddin

Minggu, 20 Mei 2018 07:15:28 wib
Patung Sultan Thaha/Foto: Museum Perjuangan Rakyat Jambi

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Merupakan hal yang begitu mulia apabila para pelajar di indonesia bisa menikmati harta warisan budaya bangsa yang di turunkan oleh leluhur. karena dengan mewarisi melalui cara belajar (mengetahui, melihat, memahami, dan menelusuri serta melindungi) maka akan lebih mudah untuk ikut membantu melestarikan warisan budaya bangsa yang cukup beragam. Dengan demikian, berarti juga akan menciptakan dan membentuk rasa ikut memiliki. Ikut memiliki dalam arti sangat luas, bukan berarti benda cagar budaya menjadi milik diri pribadi seseorang. Namun yang di maksud adalah timbulnya empati terhadap benda cagar budaya sehingga menyadari keberadaan serta manfaat dari benda cagar budaya tersebut.

Benda-benda cagar budaya tidak hanya berada dan di simpan di museum saja, melainkan juga terdapat di alam terbuka, baik yang sudah teridentifikasi maupun belum. Perlu di ketahui bahwa benda cagar budaya tidak hanya berasal dari satu jaman saja, seperti jaman Hindu-Budha atau jaman Klasik. Tetapi juga dari jaman islam atau jaman madya dan jaman kolonial. Lokasi tempat di temukan benda cagar budaya tidak hanya di temukan atau berada di dataran saja tetapi beragam.

Jambi adalah sebuah  provinsi Indonesia yang terletak di pesisir timur di bagian tengah pulau Sumatera. Dalam konteks sejarah kebudayaan, wilayah Jambi sejak masa lalu menjadi kawasan yang cukup penting, baik di tingkat ragional mapun internasional. Gambaran ini setidaknya terlihat dari tinggalan kepurbakalaan, terutama di sepanjang daerah aliran sungai batang hari. Salah satu tempat atau barang peninggalan sejarah di jambi yaitu Istana Abdurrahman  Thaha Saifuddin. 

Istana Abdurrahman Thaha Saifuddin merupakan istana kerajaan bekas peninggalan raja Sultan Thaha Saifuddin. Istana ini terletak di Tanah Garo, Muara Tabir Jambi. 

Sultan Thaha Saifuddin adalah salah satu pahlawan nasional asal Jambi, namun sejarah tak banyak mengisahkan tentang perjalanan hidup dan lika-liku perjuangan yang di hadapi Sultan Thaha Saifuddin dalam usaha melawan penjajah demi mempertahankan nusantara. Untuk menghargai dan mengenang jasa Sultan Thaha Saifuddin maka pemerintah Jambi menjadikan Isana Sultan Thaha Saifuddin dan makan Sultan Thaha Saifuddin sebagai cagar alam yang harus di jaga kelestarianya. Selain di teteapkan sebagai cagar alam, pemerintah Daerah Provinsi Jambi juga meletakkan patung Sultan Thaha Saifuddin di depan kantor.

Beliau merupakan raja terakhir dari kerajaan Jambi yang juga di nobatkan sebagai pahlawan nasional. Ia meninggal dalam pertempuran melawan belanda denagan semangat gigih memperjuangkan tanah lahirnya. Nama harum sultan jambi ini juga terkenal sampai ke negri turki. Pada tahun 1298 H Turki menghadiahi Sultan Thaha Saifuddin dengan mendali bersegi tujuh. Penghargaan juga datang dari dalam negri dengan didirikanya patung untuk mengenang Sultan Thaha Saifuddin di depan kantor Gubernur Jambi. 

Sultan Thaha Saifuddin lahir di jambi tahun 1816 di lingkungan istana Tanah Pilih Kampung Gedang Kerajaan Jambi. Ia merupakan putra dari dari Sultan M. Facrudin dengan gelar sultan keramat. Nama asli Sultan Thaha adalah Sultan Raden Toha Jayadiningrat. Ketika kecil ia biasa di panggil Raden Thaha Ningrat. 

Meskipun ia terlahir dari kalangan bangsawan, ia memiliki sikap yang rendah hati, senang bergaul dengan masyarakat dan sangat membenci belanda. Aktivitas melawan belanda makin gencar sejak ia naik tahta menjadi Raja Jambi pada tahun 1855. Usahanya melawan belanda di lakukan dengan mengalang kekuatan masyarakat, dan bekerja sama denga Raja Sisingamangaraja.

Pada tahun 1841 dia diangkat sebagai pangeran Ratu (semacam perdana menteri) di bawah pemerintahan Sultan Abdurrahman. Sejak itu, ia memperlihatkan sikap menentang belanda. Ketika sebuah kapal dagang Amerika berlabuh di pelabuhan Jambi, ia berusaha mengadakan kerja sama dengan pihak Amerika. 

Dan pada tahun 1904, belanda melakukan penyerbuan dan berhasil menyergap pasukan Sultan Thaha di dusun betung bedarah . dalam penyerbuan itu, Sultan Thaha wafat dalam usia ke 88. Jasadnya di kebumikan di Muara Tebo yang kini di jadikan sebagai makam Nasional Sultan Thaha Saifuddin. 

Sultan Thaha Saifuddin di angkat menjadi pahlawan nasional pada 24 Oktober 1977 dengan keputusan Presiden RI No. 97/TK/1977 penganugerahan gelar tersebut sebagai suatu penghargaan atas tindak kepahlawananya dalam membela bangsa dan negara. Penghargaan itu memang layak, karena masa perjuaanga Pahlawan Sultan menentang penjajah belanda berlangsung lama, yaitu 46 tahun (1858-1904). Namanya di abadikan sebagai nama bendara di Jambi. 

Sebagai generasi sekarang hendaklah bersama-sama kita menjaga cagar budaya yang ada di sekitar kita, maupun yang ada di Indonesia dan dunia, karena cagar budaya haruslah dilindungi agar generasi yang akan datang dapat mengetahui dan melihat secara langsung benda-benda atau tempat peninggalan yang bersejarah. Agar dapat menarik perhatian di jaman yang modern ini hendaklah tempat-tempat atau benda-benda bersejarah disiarkan di sosial media karena pada masa sekarang orang lebih terpaku kepada sosial media. Dan juga bagaimana cara agar  tempat atau benda bersejarah dapat menarik perhatian orang-orang banyak. Tempat atau benda bersejarah bukan di jadikan untuk simpanan saja melaikan juga di jadikan sebagai ikon wisata agar orang-orang dapat melihat sendiri dan dapat belajar mengenai benda atau tempat bersejarah. Marilah sama-sama kita jaga dan kita lestarikan benda-benda dan tempat- tempat bersejarah yang ada di Indonesia maupun di Dunia.

 

...

Ditulis Oleh:
Nama: Fitria Rizka Amanda 
Mahasiswi Universitas Islam Negri Sultan Thaha Saifuddin Jambi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam 
Program studi Ekonomi Syariah 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top