Jumat, 20 Juli 2018 |
Suaro Wargo

Fitri Sholehah: Faktor Internal Yang Menyebabkan Kurang Terealisasinya Pendidikan Keluarga Bagi Anak

Rabu, 06 Juni 2018 09:10:55 wib

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Pendidikan informal adalah pendidikan dalam keluarga yang berlangsung sejak anak dilahirkan. Pendidikan informal merupakan pendidikan yang paling dasar dan utama dalam perkembangan anak. Melalui pendidikan informal, terbentuk karakter anak dan kemampuankemampuan mendasar bagi anak untuk menjalani proses kehidupannya. Dalam keluarga yang memahami arti penting pendidikan keluarga, maka ia akan secara sadar mendidik anak-anaknya agar terbentuk kepribadian yang baik. Sedangkan dalam keluarga yang kurang mengerti arti penting pendidikan keluarga, maka perilakunya sehari-hari secara tidak sadar adalah pendidikan buat anak . 

Pendidikan orang tua terhadap anak sangatlah penting dimana keluarga adalah figur utama yang menjadi panutan anak dalam berperilaku. Namun, masih banyak orang tua yang kurang sadar betapa pentingnya pengajaran yang baik dan benar yang akan mempengaruhi akhlak anaknya. Faktor internal yang menyebabkan tidak terealisasinya pendidikan keluarga bagi anak yaitu; orang tua bercerai, kualitas hidup taraf rendah, kesibukan orang tua, dan kurang sosialisasi di lingkungan yang akan kita bahas disini. 

Keluarga Bercerai 
Pendidikan orang tua dapat melalui bimbingan, pemberian nasihat atau motivasi, dan perilaku sehari-hari. Dominannya dalam keluarga bercerai anak kurang mendapatkan pendidikan akhlak yang memadai. Orang tua yang bercerai biasanya diawali oleh pertengkaran-pertengkaran yang dilakukan dihadapan anak sehingga dapat mempengaruhi mental anak tersebut. Terlebih lagi jika suami sampai melakukan kekerasan terhadap istri. Orang tua tersebut tidak memikirkan bagaimana akibat yang timbul terhadap anak mereka. Anak akan cendrung mudah marah dan memperlihatkan perilaku berontak terhadap sesuatu yang membuatnya tersinggung. Ia akan mencari-cari tempat yang mereka anggap dapat memberi kenyamanan dan ketenangan dan akan lebih mudah terjerumus kepada pergaulan bebas. 

Orang tua seperti itu sangatlah disayangkan, bagaimana nasib anaknya? Anak yang menjadi korbannya, mereka merasakan tekanan batin, kegoncangan fikiran dan keputusasaan untuk memiliki kebahagiaan hidup. Kesulitan tersebut dapat mempengaruhi pendidikanya, ia akan merasa hidup ini tak berarti. Seharusnya para orang tua memiliki kesadaran yang tinggi akan tanggung jawab mereka sebagai pendidik utama bagi anak. Ketika sudah memutuskan menjadi sebuah ikatan keluarga berarti harus siap untuk menghadapi berbagai macam rintangan yang ada. Dalam keluarga dibutuhkan kenyamanan, keutuhan, perhatian dan saling kelengkapan antar anggota keluarga. Keluarga broken sangat sulit mencapai kondisi yang kodusif lantaran didasari oleh ego masing-masing dalam menjalani kehidupan berkeluarga. 

Keluarga Taraf Hidup Rendah 
Keluarga dengan taraf hidup rendah memiliki pola pendidikan yang kurang efektif. Taraf hidup yang rendah membuat orang tua bekerja keras guna memenuhi penhidupan keluarga sehingga anak kurang mendapat perhatian dan bimbingan dari mereka. Orang tua dalam keluarga ini ada yang memiliki sifat keras dan ada yang lemah terhadap anaknya. 

Pertama, Orang tua yang memiliki sifat keras mendidik anaknya dengan punishmen sehingga anak merasa tertekan dan banyak keterpaksaan menjalankan sesuatu. Didepan orang tuanya, anak memang mengerjakan apa yang diperintahkan tetapi, dibelakang ia akan melakukan sesuatu sesuka hatinya karena ia merasa tidak akan ada yang memarahinya asalkan orang tuanya tidak tahu. Anak akan berfikir bahwa orang tua tidak perhatian, jahat, egois karena tidak pengertian terdahap anaknya. Ia merasa ada batasan antara anak dan orang tua sehingga ia akan lebih suka dan nyaman mengungkapkan isi hatinya kepada temannya yang seharusnya hal tersebut di lakukan anak kepada orang tuanya. 

Kedua, Orang tua yang lemah dalam mendidik anaknya cenderung jarang berkomunikasi dengan anaknya. Selain karena kesibukan memenuhi penghidupan, orang tua mendidik sekedarnya dan kurang menanamkan prinsip hidup terhadap anak. Anak akan menjadi bingung bagaimana memulai membangun kreatifitas dan kemampuan yang dimilikinya karena dari awal tidak ada pengarahan. Kondisi ini dapat membuat redupnya kemampuan anak yang seharusnya dapat dikembangkan menjadi skill yang baik. Orang tua yang pendidikannya kurang juga dapat memberi pengajaran dengan metode yang keliru sehingga anak justru membangkang kepada orang tuanya. 

Sebaiknya orang tua mendidik dengan cara yang baik dan benar bukan dengan kekerasan ataupun kelemahan tetapi ketegasan. Ketegasan berbeda dengan kekerasan, anak akan menghormati orang tua nya karena ketegasannya bukan karena kekerasan apalagi terlalu lemah atau memanjakannya. 

Kesibukan Orang Tua 
Sesibuk-sibuknya orang tua harus tetap meluangkan waktu untuk anaknya. Jika orang tua taraf hidup rendah sibuk karena keadaan yang mendesak berbeda dengan orang tua taraf hidup tinggi. Orang tua taraf hidup tinggi cenderung menjadikan kerja sebagai prioritas kesehariannya tak jarang tugas kerjanya dibawa-bawa sampai ke rumah. Mereka tidak menyadari anak akan lebih berpeluang melakukan segala sesuatu yang diinginkannya dibanding anak yang taraf hidup rendah. Anak yang kaya lebih cenderung merasa besar dan berani melakukan sesuka hatinya karena secara materil hidupnya berkecukupan dan keluarga terpandang. Jika pendidikan akhlak kurang diberikan kepadanya maka terjadilah hal-hal yang dapat merugikan dirinya sendiri dan orang tua. Anak sangat membutuhkan perhatian kasih sayang dari orang tuanya sesibuk apapun orang tua luangkanlah waktu untuk anak jika tidak, anak akan beranggapan orang tua tidak sayang kepadanya. Orang tua yang menitipkan anaknya kepada pengasuh kerena kesibukan pekerjaan dalam kesehariannya memang tidak menyalahi aturan tetapi, apakah orang tua tidak ingin dekat dengan anaknya sendiri, mendidik dengan didikannya sendiri, memenuhi kebutuhan perhatian anaknya? Maka ada sebutan anak asuh, ibarat anak asuh yang tidak memiliki orang tua. 

Orang tua yang sibuk pada dunia kerja jangan melupakan tugas sebagai orang tua yaitu mendidik anak dengan baik sehingga perkembangan anak melalui pola didikan yang baik ini dapat menciptakan akhlak baik pula pada anak. Luangkanlah waktu yang diprioritaskan untuk keluarga dan mulai memperhatikan anak dari hal yang terkecil. 

Keluarga Kurang Bersosialisasi 
Keluarga kurang sosialisasi dapat juga berdampak pada anaknya karena sosialisasi itu penting. Manusia adalah makhluk sosial yang saling membutuhkan satu sama lain. Keluarga yang pendiam atau tertutup jarang sekali bersosialisasi dengan masyarakat. Kurangnya sosialisasi bisa diakibatkan karena memang tipe keluarga yang pemalu, keluarga yang tertutup atau keluarga yang sibuk dangan urusan kerjanya sendiri. Anak akan kesulitan dalam bersosial di masyarakat karena kurangnya kebiasaan orang tua dalam betsosialisasi. 

Anak akan sulit mengungkapkan pendapatnya dimuka umum karena takut, tidak kenal dengan masyarakat dan tidak terbiasa bersosialisasi. Mereka cenderung tertutup ditambah lagi jika di dalam keluarga itu sendiri kurang bersosialisasi. 

Keluarga yang strategis dan harmonis sangat mendukung pendidikan anaknya. Anak adalah karunia dari Allah yang telah dititipkan-Nya kepada para orang tua maka dari itu menjaga, menyayangi, memperhatikan, membimbing, memberi pendidikan adalah tugas utama orang tua. 

 


...
Ditulis Oleh
Nama: Fitri sholehah 
Mahasiswi tadris Matematika, Fakultas Tarbiyah dan Keguruan, 
UIN Sultan Thaha Saifuddin Jambi

 

 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top