Jumat, 23 Februari 2018 |
Peristiwa

Gerah, Polres Merangin Kembali Sisir PETI

Selasa, 20 Oktober 2015 17:43:50 wib
Kapolres Merangin AKBP Munggaran Kartayuga Sik.

JAMBIDAILY MERANGIN-Menjamurnya aktivitas Pertamabangan Tanpa Izin (PETI), di Kabupaten Merangin tiga tahun terakhir ini membuat Kapolres Merangin semakin gerah.

Kapolres berjanji akan menertibkan kegiatan tersebut sampai keakar-akarnya. Bahkan sejauh ini pihaknya sudah tiga kali melakukan rapat untuk memutuskan aktivitas liar tersebut.

Hal ini dikatakan lansung Kapolres Merangin, Munggaran Kartayuga Sik. ketika dijumpai awak media, di ruang kantornya Selasa (20/10).

"Ya, kita sudah tau bahwa akhir-akhir ini aktivitas PETI kembali menjamur di Kabupaten Merangin," ungkap Kapolres.

Untuk menumpas gembong-gembong pencuri kekayaan alam tersebut, pihaknya sangat butuh dukungan dari elemen yang terkait seperti Pemerintah Daerah(Pemda), Tentara Nasional Indonesia (TNI) supaya di saat penertiban nanti dipastikan tuntas dari aktivitas haram tersebut.

"Kita harapkan dalam penertiban nanti Pemda dan TNI akan ambil andil agar kegiatan itu tidak lagi berlansung seperti yang kita harapkan," sambung Kapolres

Kapolres menuturkan, lokasi yang bakal ditertibkan nanti di Desa Tiga Alur Kecamatan Panggakalan Jambu, dan kawasan Kecamatan Tabir Barat.

" Ada dua titik yang bakal ditertibkan, diantaran Desa Tiga Alur Kecamatan Panggkalan Jambu dan di Kecamatan Tabir Barat," bebernya.

Kemudian kata Kapolres, dalam operasi ini pihaknya akan menyisir kawasan Taman Nasional Kerinci Seblat (TKS) yang menurut informasi sudah puluhan alat berat yang mengais kekayaan negara disana.

" Operasi pertama kita, akan di fokuskan ke kawasan TNKS, saat ini sudah puluhan alat berat yang merusak keasrian untuk mengais kekayaan negara tanpa izin," timpalnya.

Namun, kata Kapolres, sebelum melakukan penertiban pihaknya akan memanggil tokoh-tokoh dan Kepala Desa yang berada di kawasdan PETI, untuk mencari informasi kawasan yang harus ditretibkan.

" Ada dua langkah yang kita ambil, Preventif, memanggil tokoh dan Kepala Desa dikawas tersebut. Langkah kedua represif (penindakan), menutup paksa kawasan yang disinyalir tempat penambang," tuntasnya.(jambidaily.com/NZR)

KOMENTAR DISQUS :

Top