Selasa, 19 Juni 2018 |
Pendidikan & Teknologi - Jurnal Publik

Harmonisasi Orang Tua dan Guru Demi Terwujudnya Tujuan Pendidikan

Senin, 06 Juni 2016 16:29:57 wib
Siti Mutia (ft: FB Mutia Jurnalis)

Oleh : Siti Mutiah

JAMBIDAILY OPINI-Miris. Rasanya tak ada kata lain yang bisa menggambarkan perasaan saya akan potret pendidikan kita saat ini. Khususnya dalam kaitan kegagalan sistem pendidikan (baca: kenakalan remaja) dan lingkaran terdekatnya yaitu peran keluarga (selanjutnya saya sebut orang tua) dalam optimalisasi proses pendidikan – serta guru tentunya.

Guru dan orang tua, sama-sama pendidik. Bedanya, orang tua menerima tugasnya sebagai pendidik langung dari Tuhan, sedangkan guru menerima tugasnya dari pemerintah (negara). Keterbatasan kemampuan (intelektual, biaya, waktu) orang tua, menyebabkan ia mengirim anaknya ke sekolah.

Orang tua meminta kepada sekolah atau guru agar dapat membantunya untuk mendidik anaknya. Inilah dasar kerjasama antara orang tua dan guru dalam kegiatan pembelajaran. Dasar ini telah disadari sejak dahulu hingga sekarang. Hanya saja, sekarang ini kesadaran sebagian orang tua pada prinsip itu semakin menipis. Peran sekolah yang tadinya hanya membantu orang tua, sekarang dibalik, orang tua malahan merasa membantu sekolah.

Perlu saya tekankan sekali lagi, orang tua adalah pendidik pertama dan utama, sekolah hanyalah pendidik kedua dan hanya membantu. Ini perlu benar disadari kembali oleh orang tua zaman sekarang.

Menilik tujuan pendidikan yang tertuang dalam UUD 1945 (versi Amandemen) pasal 31 ayat 3 dan 5 serta Undang-Undang No. 20, Tahun 2003 dapat disimpulkan tujuan pendidikan bukan hanya bagaimana mencerdaskan kehidupan bangsa, lebih dari itu adalah bagaimana mendidik generasi yang beriman, bertakwa dan berakhklak mulia.

Untuk tujuan yang sangat mulia itu, orang tua menitipkan proses pendidikannya pada guru. Seharusnya, untuk mencapai tujuan pengajaran dan pembelajaran tersebut, guru semestinya diberikan hak yang utuh dan kepercayaan penuh dalam mendidik siswa.

Termasuk saat melakukan proses ‘pembetulan’ melalui teguran bahkan hingga pemberian hukuman atau ‘punishment’ selama yang dilakukan masih dalam kategori yang wajar dan patut.

Sayang, saat ini kebebasan guru untuk mendidik, mengarahkan dan ‘membenarkan’ akhlak siswa seakan dikangkangi. Terlepas dari adanya fakta guru yang melakukan kekerasan pada muridnya, saya percaya, seorang guru memberikan hukuman dan melakukan tindakan mencubit, menghukum secara fisik muridnya yang notabene adalah ‘anaknya juga’, tentu ada alasan yang bisa dipertanggungjawabkan.

Menuntut guru menjadi pesakitan dengan mengatasnamakan menyalahi undang-undang perlindungan anak, jelas bukan tindakan terpuji.

Seperti baru-baru ini yang begitu menghebohkan  yang menimpa salah satu guru SMPN 1 Bantaeng, Nurmayani Salam yang harus mendekam dibalik jeruji hanya karena mencubit salah seorang anak didiknya yang (kebetulan) orang tuanya adalah anggota polisi. Kejadian ini menjadi perbincangan dan perhatian serta menjadi viral didunia maya. Ragam protes, cibiran atas arogansi orang tua sang murid dan dukungan untuk guru Nurmayani mengalir.

Hal seperti ini, sebenarnya tidak perlu terjadi. Jika, ya – hanya jika – antara orang tua dan guru memiliki pandangan visi dan misi yang sama dalam mendidik anak.

Orang tua, seharusnya mempelajari benar kasus yang dialami anak sehingga pemberian hukuman itu terjadi. Mengenali akar permasalahan dan tidak serta merta menerima mentah-mentah apa yang disampaikan, meski itu buah hati sendiri. Taruhlah, pemberian hukuman cubitan tesebut memang tidak layak didapatkan oleh buah hati kita, apakah menyeret sang pendidik ke penjara menjadi solusi terbaik? Lalu dimana ‘rasa menghormati’ (sense of honored)  jasa guru kita? Ini bukan soal pada siapa guru yang melakukan kekhilafan tersebut, tetapi pada profesi guru yang menjadikan kita ‘manusia’.

Saat kita merendahkan martabat seorang guru, jelas yang terluka bukan hanya guru si empunya diri, tetapi semua guru dimuka bumi akan terluka. Masyarakat juga terluka. Setiap yang berhati-nurani terluka. Tetapi menjadi tak berdaya karena ada undang-undang perlindungan anak yang penerapannya saya kira begitu kebablasan.

Betapa, undang-undang yang mengatasnamakan hak asasi ‘anak’ telah merobohkan tatanan moral anak bangsa. Hasilnya? Dekadensi moral yang luar biasa merosot. Anak-anak kita saat ini harus berjibaku dengan permasalahan yang lebih kompleks.

Tidak saja bagaimana harus siap berdaya saing ditengah kemajuan zaman yang tanpa batas, lebih dari itu mereka juga harus mampu membentengi diri dari masalah kenakalan remaja yang demikian kompleks.

Permasalahan kenakalan remaja saat ini, tidak hanya menjadi tanggung jawab guru di sekolah, tapi yang paling utama peran orangtua dan semua elemen masyarakat. Ironisnya, kenakalan remaja saat ini sudah mencapai tahap  yang sangat memprihatinkan. Dalam mengontrol peserta didik atau remaja yang memiliki keingintahuan sangat besar, harus ada kerja sama antara pihak orangtua siswa, guru dan stakeholder lainnya.

Guru tidak bisa menjaga seutuhnya,  karena anak-anak di sekolah hanya tujuh jam, selebihnya anak-anak kembali ke rumah. Masalah kenakalan remaja, jelas bukan hanya menjadi tanggung jawab guru sepenuhnya. Butuh kerja sama yang solid antara guru dan orang tua.

Selanjutnya, hubungan timbal balik antara orangtua dan guru yang benilai informasi tentang situasi dan kondisi setiap murid akan melahirkan suatu bentuk kerja sama yang dapat meningkatkan aktivitas belajar murid baik di sekolah maupun di rumah.

Hubungan kerja sama yang harmonis antara guru dan orangtua murid sangatlah penting. Jika tidak, rasanya mustahil bisa mewujudkan tujuan mulia pendidikan seperti yang diamanatkan dalam undang-undang. Jangan salah, jika kemudian dekadensi moral terjun bebas.

Saat guru merasa posisinya ‘terancam’ atau tidak aman, karena adanya kekhawatiran akan dipolisikan hanya gegara mencubit atau menghukum fisik yang saya percaya sepenuhnya masih dalam tahap yang wajar, seperti mencubit atau menggunting rambut siswa yang kedapatan gondrong, misalnya, menjadi wajar  jika kemudian guru bersikap apatis atau ‘enggan’ melakukan tugas ‘pembetulan’ saat siswa melakukan penyimpangan – baik moral atau akhlak.

Padahal guru menyadari sepenuhnya, melihat kenyataan sebenarnya, bagaimana seorang murid melakukan kesalahan dan kenakalan diluar batas seperti merokok, ngelem bahkan terlibat pergaulan bebas. Tetapi guru menjadi tidak berdaya untuk menegur apalagi menghukum lantaran ‘enggan’ atau lebih tepatnya ‘takut’ berurusan dengan polisi.

Bisa dipahami jika guru akhirnya memilih melakukan pembiaran kenakalan remaja tersebut terjadi bahkan merajalela. Bisa dipahami jika kemudian guru berpandangan, untuk apa repot-repot mengurusi anak orang, menegur bahkan menjatuhkan hukuman bagi anak orang lain saat mereka melakukan kesalahan jika kemudian apa yang dilakukan oleh guru tersebut diadukan ke polisi.

Sedikit-sedikit diadukan ke polisi. Ah, mau dibawa kemana pendidikan bangsa kita? Saya jadi begitu rindu jaman masa kecil saya sekolah dulu, betapa guru menjadi sosok yang dihormati – terkadang jauh lebih dihormati daripada orang tua sendiri. Setiap nasehatnya begitu berharga dan didengarkan seksama, setiap petuahnya seakan tak terbantahkan, setiap hukuman yang diberikan diterima dan dijadikan cermin untuk introspeksi diri, gerangan kesalahan apa yang sudah kita lakukan sehingga kita layak mendapatkan hukuman tersebut.

Saya percaya, guru memiliki pemikiran yang jauh lebih waras yang tentu memiliki pertimbangan saat menjatuhkan hukuman. Intinya, tidak akan memberikan hukuman tanpa ada kesalahan yang dilakukan. Peran keluargalah yang saat ini sangat diperlukan dalam menanamkan rasa hormat kepada guru.

Bagaimana menciptakan kondisi yang kondusif agar tujuan pendidikan yang tidak hanya menitikberatkan pada prestasi akademis dan tujuan menjadikan anak pintar, lebih dari itu bermoral dan berakhlak mulia bisa terlaksana.

Saya jadi ingat, tulisan menarik yang pernah ditulis ‘Mas’ Menteri Anies Baswedan yang berjudul VIP-kan Guru-Guru Kita. Beliau menulis soal guru adalah soal masa depan bangsa. Di ruang kelasnya, ada wajah masa depan Indonesia. Gurulah kelompok paling awal yang tahu potret masa depan dan gurulah yang bisa membentuk potret masa depan bangsa Indonesia. Cara sebuah bangsa memperlakukan gurunya adalah cermin cara bangsa memperlakukan masa depannya.

Ya, penyesuaian kurikulum itu penting, tetapi lebih penting dan mendesak adalah menyelesaikan masalah-masalah terkait dengan guru. Guru merupakan ujung tombak. Kurikulum boleh sangat bagus, tetapi bakal mubazir andai disampaikan oleh guru yang diimpit sederetan masalah. Tanpa penyelesaian masalah-masalah seputar guru, kurikulum nyaris tak ada artinya.

Guru juga manusia biasa, dengan plus-minus sebagai manusia yang tak lepas dari khilaf. Guru menempati kedudukan terhormat di masyarakat.

Jika orangtua dan guru bisa saling mengenal dan mempercayai, maka anak-anak tidak akan menentang salah satu dari mereka. Adanya pengertian di antara orangtua dan guru menjadikan masalah kecil tidak berkembang menjadi besar, dan masalah besar bisa diselesaikan dengan lebih baik, bukan dipolisikan. Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan agar terjalin hubungan baik antara orangtua dan guru.

Salah satunya adalah senantiasa berprasangka baik kepada guru. Anda dan guru sama-sama menginginkan yang terbaik untuk pendidikan anak-anak. Jika Anda mendengar kabar yang buruk tentang guru, apakah ia galak, jahat, atau tidak obyektif, maka tetap pertahankan hubungan baik Anda dengan sang guru. Cari tahu masalah yang sebenarnya dengan menghubungi guru itu secara sopan. Jangan mengeluarkan kata-kata yang buruk mengenai guru di depan anak Anda. Tetap fokus terhadap masalah yang dihadapi, jadikan itu latihan bagi anak untuk bersikap terbuka.

Keadaan saling mendukung itulah yang menuntut adanya hubungan interaksi harmonis antara guru dengan orangtua.

Karena sistem pendidikan Indonesia tidak terlepas dari dukungan dan pantauan orangtua. Guru dan orangtua harus benar-benar memperhatikan setiap hubungan yang terjalin.

Fenomena yang terlihat seolah-olah antara guru dan orangtua seperti ada pengotakan-pengotakan. Artinya guru seperti membatasi ruang gerak orangtua dan orangtua membatasi ruang gerak guru. Belum lagi ditambah bila ada permasalahan pribadi antara guru dan orangtua.

Kenyataan inilah yang sebenarnya perlu diluruskan karena sebenarnya kedudukan orangtua dan guru dihadapan anak adalah panutan atau teladan. Jadi, posisinya sama. Sebagai orang tua, berusahalah untuk selalu hadir dalam setiap pertemuan orang tua dan guru, seperti pertemuan awal tahun ajaran baru. Jangan menunggu waktu hingga Anda dipanggil ke sekolah karena anak bermasalah. Anda juga bisa mencari cara kreatif lainnya jika memang kemungkinan waktu untuk bertemu sangat terbatas, intinya adalah tunjukkan bahwa Anda sangat perhatian dengan pendidikan anak-anak.

Guru juga manusia biasa, yang kadang mengalami hari dan waktu yang buruk. Kadang kehidupan pribadinya dilanda krisis dan masalah, dan bisa jadi mereka tidak bisa mengatasinya dengan baik.

Jika guru membentak anak Anda dan melakukan hal di luar kewajaran, tanyakan kepadanya apakah ia baik-baik saja. Sedikit memberikan dukungan kepada guru, akan membuat keadaan pulih dengan segera. Ujian berat bagi guru dalam hal kepribadian ini adalah rangsangan yang memancing emosinya. Kestabilan emosi amat diperlukan, namun tidak semua orang mampu menahan emosi terhadap rangsangan yang menyinggung perasaan, dan memang diakui bahwa tiap orang rnempunyai temparamen yang berbeda dengan orang lain.

Jalinlah hubungan yang harmonis dengan pendidik anak Anda. Meminjam kalimat Mas Anies Baswedan, mari bangun kesadaran kolosal untuk menghormat-tinggikan guru.

Pemerintah harus berperan, tetapi tanggung jawab besar itu juga ada pada diri kita setiap warga negara, apalagi kaum terdidik. Guru pantas mendapat kehormatan karena mereka selama ini menjalankan peran terhormat bagi bangsa. Karena itu, VIP-kan guru-guru dalam semua urusan! (*)

KOMENTAR DISQUS :

Top