Kamis, 19 Juli 2018 |
Suaro Wargo

Herlina Setianingsih: Pondok Pesantren Sa’adatuddaren, Pondok Pesantren tertua di Jambi

Minggu, 03 Juni 2018 14:13:06 wib

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Pondok Pesantren Sa’adatuddaren merupakan Pondok Pesantren tertua yang didirikan oleh KH. Ahmad Syakur bin Syukur yang merupakan murid dari KH. Abdul Majid. KH. Ahmad Syakur menjadi murid KH. Abdul Majid saat berada di Makkah, dan setelah cukup lama berada di Makkah beliau pun pulang ke negeri asalnya yaitu Indonesia tepatnya di daerah Jambi yang dulu terkenal dengan nama Iskandaria Tahtul Yaman. 

Dengan atas izin Allah pada tahun 1915 M (tahun 1333H) didirikanlah Pondok Pesantren yang diberi nama “Sa’adatuddaren” oleh KH. Ahmad Syakur bin Syukur. Ada nilai filosofi dalam peberian nama Sa’adatuddaren, yang dalam bahasa berarti: kebahagiaan dalam dua negeri, yang menimbbulkan kesan bahwa lembaga pendidikan ini tidak hanya berorientasi pada kehidupan di akhirat saja melainkan didunia tetap mendapat perhatian yang cukup. Di kalanan penduduk  KH. Ahmad Syakur lebih akrab di panggil dengan sebutan Guru Gemuk, karena sebutan kiyai tidak begitu popler dikalangan masyarakat Jambi pada masa itu.

KH.  Ahmad Syakur mendirikan Pesantren ini tidak mempunyai modal yang cukup, beliau menjual beberapa ruko warisan dari orang tuanya dan dibantu oleh krabat dan masyarakat untuk biaya operasional Pondok Pesantren Sa’adatuddaren. KH. Ahmad Syakur sendiri hanya sempat memimpin Pesantren ini kurang lebih 8 tahun. Dan pada tahun 1923 M beliau wafat di usia 47 tahun. Maka tongkat kepemipinan dilanjutkan oleh muridnya yang bernama KH. Abdul Rahman yang hanya dapat memimpin pesantren dalam 2 tahun, dan dilanjutkan oleh muridnya yang bernama Abu Bakar Syaifuddin.

Setelah kembalinya menuntut ilmu di kota Makkah Abu Bakar Syaifuddin mengambil tongkat kepemimpinan pesantren tersebut di tahun 1925 M. Dan dimasa itu Pondok Pesantren Sa’adatuddaren mengalami kemajuan yang sangat pesat hingga jumlah santri pun melebihi kapasitas penampungan, sehingga pemondokan pun tersebar diseluruh Tathul Yaman.

Pada masa pendudukan jepang tidak banyak yang dapat dilakukan di poondok ini, karna keras dan biadabnya pendudukan jepang. Dan KH. Abu Bakar Syaifuddin sendiri lari kedaerah asalnya yaitu Ds. Teluk Rendah Ma Tebo dan akhirnya wafat dalam usia 63 tahu. Setelah jepang menyerah pada sekutu ditahun 1945 pesantren ini pun mulai diaktifkan kebali dan dipimpin oleh: KH. Abdullah  Syargawi tamatan mesir dan merupakan anak dari pendiri pesantren ini. kemudian dilanjutkan oleh KH. Muhammad Zuhdi (Guru Zuhdi) kemudian oleh KH. Abdul Majid menantu dari KH. Ahmad Syukur pendiri pesantren ini lebih kurangselama 3 tahun.

Setelah kembalinya KH. Zaini bin Abdul Qodir pada tahun 1954, kepemimpinan pondok ini deserahka kepada beliau dan beliau memimpin pondok lebih kurang selama satu tahun setengah, dan pada tahun 1956 setelah kembalinya KH. Ahmad Jaddawi dari Makkah kepemimpinan pondok ini pun diserahkan kepada beliau.

KH. Ahmad Jaddawi merupaka anak dari  KH. Abu Bakar Syaifuddin. Bbeliau ikut mengajar disalah satu Universitas yang cukup ternama dinegeri Makkah bahkan beliau diangkat menjadi Qhodi (hakim) oleh pemerintah kerajaan Arab saudi kurang lebih selama 6 tahun. KH. Ahmad Jaddawi memimpin pesantrren selama kurang lebih 25 tahun dari tahun 1956 s/d tahun 1989 M. Ini merupakn pimpinan terlama selama berdirinya pesantren ini. dan beliau wafat ditahun 1991 dalam usia 71 tahun yang kemudian pimpinan pondok pun dipegang oelh KH. Zaini bin Abdul Qodir lebih kurang 6 bulan dikarenakan usia dan kesehatan, kemudian kepemimpinan pondok di serhakan kepada guru Abdul Qodir Mahyuddin yaitu keenakan dari guru Ahmad Syukur, beliau memimpin kurang lebih selama 13 tahun. Dan kemudian di lanjutkan oleh guru H. Helmi Abddul Majid hingga sekarang.

Pondok Pesantren S’adatuddaren terletak di pinggir sungai Batanghari tepatnya dikelurahan Tahtul Yaman kecamatan  Pelayangan Kota Jambi, jaraknya kurang lebih 3 km dari pusat kota Jambi.

 


...
Ditulis Oleh:
Herlina Setianingsih
Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi


 

 


*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top