Selasa, 19 Juni 2018 |
Pendidikan & Teknologi

Ikhlas Itu Susah karena Hadiahnya Surga

Minggu, 17 Juni 2018 07:03:06 wib
Ilustrasi./Copyright pixabay.com/afik_eleck

JAMBIDAILY PENDIDIKAN - Setiap orang punya kisah dan perjuangannya sendiri untuk menjadi lebih baik. Meski kadang harus terluka dan melewati ujian yang berat, tak pernah ada kata terlambat untuk selalu memperbaiki diri. Seperti tulisan sahabat Vemale yang diikutsertakan dalam Lomba Menulis Vemale Ramadan 2018, Ceritakan Usahamu Wujudkan Bersih Hati ini. Ada sesuatu yang begitu menggugah perasaan dari kisah ini.

***

Bagaimana rasanya jauh dari keluarga dan hidup satu atap dengan orang-orang yang memiliki sifat yang berbeda-beda? Jawabannya jelas tidak mudah. Setidaknya itulah yang saya alami selama menjadi mahasiswa yang tinggal di indekos. Meskipun saya mempunyai kamar sendiri, namun banyak fasilitas indekos yang harus berbagi dengan teman saya yang lain seperti kamar mandi, dapur, ruang tamu, televisi, WiFi, dan lain-lain. Belum lagi adanya perbedaan karakter dan  kepentingan sering menumbuhkan konflik di antara kami yang terkadang membuat saya harus banyak-banyak bersabar.

Salah satu masalah yang cukup serius adalah masalah kebersihan. Di rumah, ibu saya selalu membiasakan saya untuk menyapu rumah setiap pagi dan sore. Awalnya, saya merasa tugas itu adalah beban, kenapa harus menyapu dua kali? Bukankah pagi saja cukup? Pikir saya begitu. Saya tak benar-benar merasakan manfaatnya sampai saya tinggal di indekos.

Berbeda dengan indekos lainnya yang memiliki sosok “ibu peri”, kami sepakat untuk tidak menyewa jasa “ibu peri” untuk menghemat biaya, selain itu kami berpikir masih bisa menangani masalah kebersihan indekos. Jadi kegiatan menyapu, mengepel, mencuci piring, dan membersihkan kamar mandi kami lakukan secara mandiri. Karena saya adalah anggota paling senior (berhubung saya lahir mendahului mereka yang lebih muda) saya memutuskan untuk membuat jadwal piket harian. Tiap harinya ada satu orang yang bertugas menyapu dapur dan ruang tamu serta membuang sampah yang ada di dapur. Selain itu saya juga menyusun jadwal piket kamar mandi. Karena kami hanya empat orang, piket dilaksanakan delapan hari sekali sehingga selama sebulan kamar mandi dibersihkan total empat kali.

Tempat sampah di dapur tentunya tidak langsung penuh dalam sehari, mungkin sekitar 4 atau 5 hari. Akibatnya terkadang yang piket hari itu hanya menyapu saja tanpa membuang sampah, alasannya tanggung, tempat sampahnya belum penuh. Karena saya rasa masuk akal, saya biarkan. Toh, nanti juga akan dibuang oleh yang bertugas piket saat tempat sampahnya sudah penuh. Ternyata yang terjadi tak sesuai perkiraan saya.

Tempat sampah itu penuh (beberapa isinya keluar dari kantong sampah saking overload-nya) lalu muncul tempat sampah baru karena sampah yang itu belum dibuang. Saya mengingatkan petugas piket hari itu (yang tentunya bukan saya sendiri, malu dong). Ia bilang ia akan membuangnya. Hari-hari berjalan seperti biasa.

Minggu selanjutnya terjadi lagi. Saya ingatkan lagi. Petugas piket mengiyakan tapi sampah itu nangkring hingga akhirnya saya buang saat tiba giliran piket saya. Alasan mereka tidak membuang sampah adalah lupa. Mereka sudah menyusun strategi, “Nanti sebelum keluar, kantong sampahnya sekalian kujinjing biar kubuang.” Namun rencana itu hanya jadi wacana karena lupa tidak dilakukan. Akhirnya saya inisiatif memindahkan kresek sampah yang penuh ke depan pintu masuk, agar siapapun yang bertugas piket hari itu akan peka dan membuangnya.

Namun tentu saja karena saya manusia, saya mulai lelah. Dan hampir selama satu bulan saya selalu membuang sampah karena mereka lupa. Saya jadi curiga jangan-jangan selain lupa buang sampah, mereka juga lupa menyapu. Benar saja. Tidak disapu dua hari, ruang tamu kami berdebu, rambut bertebaran di mana-mana. Saya sudah mengingatkan namun kesabaran saya ada batasnya, akhirnya meledaklah amarah saya. Saya menegur mereka secara tegas di grup What's App indekos kami, karena saya pikir jika saya marah secara langsung, suasananya bisa jadi sangat emosional. Mereka meminta maaf. Saya berharap mereka tidak mengulangi lagi.

Nyatanya, semua tidak sesuai harapan saya. Kejadian lupa piket bangkit lagi seperti deja vu. Saya mencoba lihat, mengapa mereka bisa lupa begitu. Ada yang sibuk organisasi, jadi isi kepalanya hanya organisasi dan lebih sering menghabiskan waktu di luar sehingga membuat dia lupa. Ada yang baru ingat di malam hari, lalu tidak jadi piket karena menyapu di malam hari dianggap tabu. Ada yang karena capek kuliah seharian jadi mager. Jadwal piket jadi mundur teratur. Saya pasrah. Masa saya harus marah dua kali? Bahkan keledai tidak jatuh pada lubang yang sama. Saya tidak habis pikir.

Saya memutuskan untuk curhat pada teman-teman dekat dan mereka menyarankan saya untuk pindah indekos. Namun saya menolaknya. Selain karena indekos saya yang sangat nyaman, saya pikir itu bukanlah solusi untuk mengatasi kesadaran tanggung jawab mereka. Saya juga mengatakan, “Tempat sampahnya sudah penuh tapi tak ada yang membuangnya. Besok giliranku piket dan lagi-lagi jadi aku yang harus melakukannya.” Lalu, salah seorang teman menyemangati saya dengan memberi kalimat seperti ini.

“Seingat aku, Rasulullah SAW berdakwah itu sebagai usaha menjadi hamba yang baik untuk mendapat ridho Allah. Bukan karena kebaikan-kebaikan yang rasul punya. Beliau pun sepertinya nggak merasa baik bahkan sampai minta ampun terus agar mendapat ridho-Nya. Jadi, coba kita niat fokus mengejar ridho Allah saja. Bukan berbuat karena orang baik dan menyebar kebaikan.”

Membaca kalimat itu saya seperti ditampar. Bagi saya, piket hanya sekadar piket yang sudah menjadi kewajiban, kalau tidak dilaksanakan harus diingatkan. Namun ternyata Allah meletakkan ridho-Nya di situ jika kita bisa menyikapinya dengan ikhlas dan lapang dada. Saya merenung memikirkan kata-katanya yang ada benarnya juga. Sejak saat itu saya bertekad, saya akan berniat untuk mencari ridho Allah dalam melaksanakan apapun, tidak hanya piket. Semoga dengan begitu beban yang saya terima terasa lebih ringan karena saya melakukannya untuk Allah.

Keesokan paginya, sampah yang penuh itu sudah tidak ada. Saya hanya menyapu saja. Dalam hati saya bersyukur dan berterima kasih pada siapapun yang telah membuangnya, sekaligus merasa malu karena kemarin sempat berprasangka buruk. Lalu di grup What's App keluarga, ayah mengirimkan foto bergambar piring dengan tulisan, “Ikhlas itu susah, karena hadiahnya surga. Coba kalau gampang, paling hadiahnya piring.”

(vem/nda)/vemale.com

KOMENTAR DISQUS :

Top