Senin, 19 November 2018 |
Suaro Wargo

Indah Oktavia: Menelusuri Jejak Islam Di Jambi Melalui Menara Gentala Arasy

Jumat, 25 Mei 2018 05:34:21 wib
Foto: http://wisatamycity.blogspot.co.id

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Selain Masjid Seribu Tiang, tempat bersejarah lainnya yang bisa di kunjungi Di Jambi adalah Menara Gentala Arasy. Menara gentala arasy adalah museum Budaya dengan corak arsitektur Arab yang bisa ditemukan ditepi sungai batanghari, Jambi. Menara dengan warna hijau dan kuning yang khas ini terletak di depan jembatan Pedestrian. Selain museum dan ruang terbuka publik, bagian belakang museum ini terhubung dengan daerah seberang sungai.

Terintegrasi dengan menara ini adalah titian Arasy yaitu jembatan khusus pejalan kaki dengan desain berliku menyerupai huruf S jembatan ini dibangun selebar 4,5 Meter dan panjang 503 meter. Yang akan menghubungkan kawasan Taman Tanggo Rajo ke lantai dasar menara dimana akan dapat memasuki museum lengkap dengan ruang teater untuk melihat sejarah masuk berkembangnya Agama Islam di Jambi. Di puncak menara museum ini, terdapat jam besar yang bisa dilihat dari kejauhan.

Gentala arasy adalah singkatan dari genta dan tala yang artinya lonceng dan Penyelaras serta arasy merupakan tempat tertinggi Allah SWT. Menara Gentala Arasy sendiri merupakan sebuah menara ikonik yang menggambarkan mengenai Sejarah penyebaran Agama islam di Kota Jambi. Tidak sekedar menara biasa, Menara ini juga dimanfaatkan sebagai museum islami. Di museum ini pengunjung dapat melihat berbagai macam bukti dan sejarah perkembangan Islam di Kota Jambi. Bentuk Menara Gentala Arasy ini terbilang cukup unik dan tentunya sangat Islami. Bentuknya bahkan menyerupai sebuah bangunan masjid yang di lengkapi dengan menara. Menara Gentala Arasy biasanya dimanfaatkan oleh pengunjung untuk mengambil foto kenang-kenangan. Menara Gentala Arasy, memiliki ketinggian sekitar 80 meter. 

Gentala Arasy juga mempunyai arti tempat tanah lahir Abdurrahman  Sayoeti, mantan Gubernur Jambi yang memang lahir di seberang. Seberang Kota Jambi sendiri mempunyai modal berbagai ke khasan untuk dijadikan sebagai kawasan wisata, selain pusat pembelajaran Agama Islam di Jambi dengan adanya berbagai macam pondok pesantren. Di Seberang juga memiliki adat istiadat yang masih dipegang teguh masyarakat, selain itu juga bangunan, bahasa, dan juga kuliner khas jambi. 

Pada bagian menara, dulunya terdapat jam yang begitu memasuki waktu Shalat akan mengumandangkan adzan. Menara Gentala Arasy dibangun atas inisiatif gubernur kala itu yang diminta oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono untuk membangun sesuatu agar bisa menjadi Kenang-kenangan begitu meninggalkan Jambi. Gentala Arasy dibangun pada tahun 2012 dan selesai selang dua tahun kemudian, Gentala Arasy tadinya hanya menara saja. Namun, belakangan diubah agar tidak lagi Cuma Menara dan bisa memberikan informasi bermanfaat bagi pengunjungnya. Sehingga dibuatlah Museum Gentala Arasy yang berisikan awal mula Kedatangan Islam di Jambi dan benda-benda hasil koleksi sejarah Islam di Jambi.

Koleksi yang ada di Museum Gentala Arasy datang dari seluruh Jambi dan merupakan pemberian dari Ulama-ulama. Penyajian koleksi Menara Gentala Arasy dikelompokkan berdasarkan sistematis, yakni Naskah dan foto para Ulama, seni dan Budaya Islam, arsitektur Islam, pendidikan islam, dan sejarah Menara Gentala Arasy. Di dalam museum, saat Ini terdapat 114 koleksi benda yang diperoleh dari hibah, beli, dan meminjam dari lembaga lainnya yang sewaktu-waktu bisa diambil kembali. Koleksi paling tua sabuk dan jubah yang dipakai Sri Sultan Mangkubumi dari dusun tanah periuk, kecamatan Tanah Sepenggal, Kabupaten Bungo yang berusia 400 tahun. Untuk memasuki Museum Gentala Arasy ini pengunjung cukup membayar Rp 2.000 untuk Anak-anak, Rp 3.000  untuk dewasa, dan Rp 5.000 untuk wisatawan asing. 

Namun, sayangnya kondisi sungai Batanghari dibawahnya masih sangat keruh. Tak sesuai dengan indah dan megahnya jembatan serta menara ini.  Air sungai terlihat berwarna cokelat dan kurang sedap di pandang. Melihat kondisi ini, meminta agar pemerintah setempat bisa Menjaga dan membersihkan sungai tersebut. Tentu mudah apabila kita disiplin terutama dalam menciptakan lingkungan yang baik.

 


...
Disusun Oleh:
Nama: Indah Oktavia
Mahasiswi Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Program Studi Ekonomi Syariah 

 

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

LAINNYA

KOMENTAR DISQUS :

Top