Kamis, 17 Oktober 2019 |
Suaro Wargo

Ismi Zuharti: Masjid Tertua di Kota Jambi Masjid Batu Al-Ikhsaniyah

Sabtu, 19 Mei 2018 05:03:55 wib
Foto: Wikipedia

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Kawasan seberang memang tak ada salahnya diidentikkan dengan unsur dan nuansa Islam. Sebagaimana pesantren-pesantren tua ada disana, di kawasan tepian sungai Batanghari itu juga berdiri masjid yang disebut-sebut sebagai masjid tertua di Kota Jambi yaitu Masjid Al-Ikhsaniyah. Masjid ini terletak di jalan KH Ibrahim, RT 05, Olak Kemang, Danau Teluk, Kota Jambi. Tak jauh dari tepian Sungai Batanghari, masjid ini ternyata menyimpan sejarah yang teramat panjang. Sepanjang usianya yang sudah menginjak 138 tahun. 

Masjid ini didirikan pada tahun 1880 oleh seorang Datuk Shin Thai, seorang muslim China yang juga menyebarkan islam ke jambi. Berdua dengan seorang ulama arab keturunan yaman yakni habibi atau yang bernama Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus adalah sultan atau raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar pengeran Wiro Kusumo. Masjid batu ini didirikan Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota Jambi. Masyarakat kota jambi pada waktu itu yang sudah fanatik keislamannya memanfaatkannya sebagai tempat ibadah dan kegiatan sosial lainnya.

Habib Idrus bin Hasan Al Jufri wafat tahun 1902 dan dimakamkan di depan masjid ikhsaniyah yang didirikannya. Kini sekali dalam setahun keluarga besar beliau menyelenggarakan peringatan wafatnya Habib Idrus Bin Hasan Al Jufriyang dipusatkan di masjid ini. Peringatan tersebut di agendakan sekali dalam setahun, oleh pihak keluarga dan masyarakat muslim sekoja (Seberang Kota Jambi) sebagai bentuk penghormatan atas jasa-jasa beliau. Peringatan tersebut setiap tahun turut juga dihadiri oleh tokoh agama, alim ulama, cendikiawan, gubernur dan undangan lainnya. 

Bangunan dalam masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi berbagai rupa. Mimbar asli berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peniggalan terdahulu berada dibagian belakang ruang shalat. Ciri mencolok dari masjid ini adalah banyaknya jendela. Jendela-jendela yang dipasang berpasangan itu mengelilingi masjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela. Kubahnya besar, bernilai arsitektur yang hebat. Sebab masjid ini dijuluki sebagai masjid batu karna masjid ini adalah masjid yang pertama kali dibangun dengan susunan batu atau beton.

Di tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan keislaman di Jambi yang ditandai dengan berdirinya empat Pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, PesantrenSaadatuddarein, Pesantren Jauharein, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.
Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah Masjid itu semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada shalat jum’at. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui Mesjid dikumpulkan dari sedekah dan infak masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar Mesjid pada tahun 1935.

Masjid ini diyakini memiliki keramat tersendiri karena jika ada yang berani bersumpah palsu di dalamnya, maka dia aakan mengalami bala atau hal lainnya. Karenanyalah, pada masa itu Mesjid Batu amat masyhur dan tak ada seorang pun yang berani mengambil resiko bersumpah palsu di dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, setelah sampai mereka tak berani dan mengakui perbuatannya. Jika ada yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya sampai diambil sumpahnya, orang itu akan mengelepar tak sadarkan diri. Dan jika ia sudah sadar biasanya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya. Namun sayang tradisi itu sudah hilang sama sekali, tak ada lagi orang yang menjadikan mesjid itu sebagai sarana mempertemukan kebenaran dan mencari keadilan. Tradisi sumpah itu mulai terlupakan, hanya kalangan tua saja yang mengetahui kisah tersebut.

 

 

...
Ditulis Oleh
Nama: Ismi Zuharti
Kelas: 2 J (Ekonomi Syariah)
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Islam
Universitas Islam Negeri Sultan Thaha Saifuddin Jambi

 


*isi sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top