Kamis, 21 Juni 2018 |
Suaro Wargo

Julia Safitri: Sekilas Tentang Kemajuan Pola Pikir Manusia

Senin, 11 Juni 2018 16:01:52 wib

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Kita hidup diZaman yang memberikan penghuninya kesempatan terbaik untuk mendengarkan dirinya. Sekarang manusia bisa mendapatkan apa yang benar-benar dia inginkan. Mulai dari makanan apa yang sedang menarik seleranya, lengkap dengan bagaimana makanan tersebut dimasak. Pekerjaan apa yang dia inginkan. Sampai bagaimana cara dirinya mendidik dirinya sendiri untuk mendapatkan pekerjaan tersebut. Manusia dizaman ini benar-benar mendapatkan kesempatan untuk mengatur hidup dan meraih impiannya. Manusia di Zaman ini mendapatkan kesempatan sebesar-besarnya menjadi bahagia karena dapat menjadi dirinya sendiri. 

Kondisi yang membebaskan ini tidak serta merta dimiliki oleh manusia, tapi juga didukung oleh perkembangan teknologi serta yang lebih penting cara berpikir manusia. Maka, tentu saja pembicaraan mengenai pentingnya mendengarkan diri sendiri harus dimulai dari pembahasan sejarah mengenai bagaimana usaha manusia hingga sampai pada titik dimana mereka menyadari pentingnya mendengarkan diri sendiri. Pembahasan mengenai hal ini penting agar, selain kita mengetahui pentingnya mendengarkan diri sendiri. Kita juga menyadari bahwa kondisi yang membuat kita bebas mendengarkan diri sendiri tidak datang begitu saja, tapi telah melalui perjuangan dan pemikiran yang panjang. 

Kira-kira, masa di dunia berdasarkan kebebasan manusia untuk mendengarkan diri sendiri dapat dibagi kedalam tiga kategori Zaman, yaitu, (1) Zaman dimana manusi harus mencocokkan diri dengan dunia sekitarnya, (2) Zaman dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri, dan mendengarkan diri sendiri, dan (3) Zaman dimana manusia mulai menjadi diri sendiri. Ketiga kategori ini adalah hasil observasi pribadi penulis. Dan mungkin saja di kemudian hari akan terbukti salah. 

ZAMAN PERTAMA
Zaman pertama dimulai sejak pertama kali manusia memiliki pekerjaan sampai pada pertengahan abad ke-20 (yang saya maksud pertengahan abad ke-20 adalah sejak 1990 sampai berakhir di tahun 1999). Tentu saya tidak akan membahasnya semenjak masa hanya ada dua pekerjaan di dunia: berburu dan membesarkan anak. Saya hanya akan membahas akhir Zaman pertama ini. Dalam memperlakukan peneliti psikologi sebagai seorang sejarawan, menurut saya peneliti yang paling mewakili Zaman ini adalah Lev S. Vygotsky (1896-1934).

Vygotsky menemukan bahwa budaya amat mempengaruhi kesuksesan belajar anak. Anak yang sukses adalah anak yang dapat mengikuti keinginan budayanya. Maksudnya, anak yang sukses adalah yang dapat bekerja atau menciptakan sesuatu yang dapat diterima oleh budayanya. Misal, anak yang hidup di pantai akan sukses jika dia dapat menjadi seorang nelayan atau menciptakan sesuatu yang dapat membantu pekerjaan sebagai nelayan. 

Pada Zaman Vygotsky ini, seseorang akan lebih sukses jika mengikuti tuntutan masyarakatnya daripada mengikuti diri sendiri. Orang itu beruntung jika tuntutan masyarakat sesuai dengan keinginannya. Jika tidak pilihannya adalah menyerah pada tuntutan lingkungan, atau memberontak dan harus berani hidup dalam kategori "Tidak sukses" . Zaman ini ditandai dengan adanya pekerjaan yang "sukses" (misal, pengacara, dokter atau insinyur) dan "tidak sukses" (misal, seniman). 

ZAMAN KEDUA
Tapi kemudian Zaman bergerak dan memasuki era baru. Era dimana manusia mulai menyadari pentingnya menjadi diri sendiri. Zaman ini diwakili oleh Carl Rogers (1902-1987) dan berkembang di akhir abad ke-20 (1950-an ke atas). Pada Zaman ini Rogers melalui praktek bertahun-tahun menemukan bahwa orang yang memiliki gangguan kesehatan psikologi adalah orang yang menemukan ketidakcocokan antara dirinya (organismic experience) dan gambaran dirinya yang dia dapat dari harapan orang lain(bagian dari self-concept).

Ganguan kesehatan psikologis ini hadir karena tuntutan yang diberikan kepada dia (conditions of worth)  membentuk gambaran diri (self-concept) yang berbeda dari siapa dirinya sebenarnya. Dan saat dirinya harus menjalankan hidup yang berbeda dari keinginannya, dia tidak merasa bahagia. Tapi, mau tidak mau dia harus menuruti tuntutan lingkungannya( misal, perintah orang tua bahwa untuk menjadi sukses, dia harus menjadi dokter dan harus meninggalkannya untuk menjadi pelukis) karena dengan menuruti keinginan lingkungan, baru dia merasa dihargai oleh lingkungannya. 

Zaman ini ditandai dengan manusia yang mulai menerima dirinya sendiri, walau masih dalam bentuk hobi (misal, orang merasa memiliki darah seni akan meluangkan waktu dengan melukis atau karaoke). Orang yang bahagia diZaman ini adalah orang yang mendengarkan dirinya sendiri. 

ZAMAN KETIGA 
Zaman ketiga ini berkembang pada awal abad ke-21. Mungkin mereka yang dapat mewakili Zaman ini adalah martin selligman (peneliti yang membahas mengenai kebahagian diri) dan Howard Gardner (peneliti multiple intelegince).

Selligmam memaparkan bahwa kebahagian akan dimiliki jika manusia menerima dirinya apa adanya. Konsep ini melahirkan pendekatan psikologi positi, yang melakukan perubahan pada manusia dengan cara berfokus pada peningkatan kekuatan orang tersebut, dari pada memperbaiki kekurang-kekurangannya. Hal ini dilakukan karena ditemukannya kenyataan bahwa memperbaiki kekurangannya akan memberikan hasil seadanya, sedangkan meningkatkan kekuatan (bakat) seseorang akan melejitkan potensi orang tersebut, padahal kedua usaha tersebut dilakukan dengan tenaga yang sama (saat ini, sudah mulai ada perusahaan di indonesia yang menerapkan pendekatan ini pada karyawannya). 

Pendekatn psikologi positif ditopang oleh penemuan Gardner bahwa selain kecerdasan intelektual (kecerdasan yang dikategorikan intelektual adalah logis-matematis), masih ada kecerdasan lain (linguistik, spasial, interpersonal, dll). Dan jika seseorang merasa kuat di kecerdasan yang bukan intelektual, maka mengikuti prinsip psikologi positif lebih baik seseorang tersebut berkonsentrasi pada bakatnya daripada memperbaiki sesuatu yang sebenarnya tak akan memberikan hasil yang memuaskan. 

Zaman ini ditandai dengan dihargainya profesi yang tadinya dianggap sebagai profesi yang "tidak sukses" yang disebutkan di atas, serta mulai adanya orang-orang yang berpindah profesi untuk mendapatkan pekerjaan yang mereka dambakan (Carl Rogers sendiri adalah orang yang melepaskan harapan orang tuanya agar dia menjadi seorang petani demi impiannya menjadi praktisi dan peneliti psikologi). 

Sebagai penutup, Zaman ini adalah Zaman dimana menjadi diri sendiri sudah tidak dianggap sebuah pemberontakan, tapi dianggap sebuah kekuatan. Untuk menyadarinya, manusia memerlukan waktu bertahun-tahun (lihat saja pergeseran dari "Zaman satu" ke "Zaman dua" yang memakan waktu lima puluh tahun). Oleh karena itu, kita harus merayakan kemajuan cara berpikir manusia yang pertanda terus berlanjutnya evolusi pemikiran dengan menanyakan pada diri kita "mau jadi apa kita?" dan membiarkan anak kita berkembang sesuai dengan potensianya. 


...
Ditulis Oleh
Nama: Julia safitri 
Program study: Pendidikan matematika
Fakultas: Tarbiyah
Universitas islam negeri sulthan thaha syaifuddin Jambi
 
 

 

 


 
*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top