Minggu, 18 Agustus 2019 |
Ekonomi

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jambi Agustus 2017

Senin, 18 September 2017 22:36:16 wib
design by.Hendry Noesae/jambidaily.com

JAMBIDAILY EKONOMI - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jambi menerbitkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Jambi Agustus 2017. KEKR merupakan salah satu terbitan periodik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi sebagai sarana diseminasi data dan informasi bagi stakeholders. 

Dengan demikian, para pemangku kepentingan seperti pelaku usaha, perbankan dan terutama Pemerintah Daerah Jambi (provinsi dan kabupaten/kota) diharapkan dapat memperoleh masukan dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi daerah.
 
KEKR mencakup beberapa aspek seperti perkembangan ekonomi makro regional, keuangan pemerintah daerah, inflasi daerah, stabilitas keuangan daerah, pengembangan akses keuangan dan UMKM, penyelenggaraan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, serta ketenagakerjaan dan kesejahteraan. Publikasi ini juga memuat perkiraan pertumbuhan ekonomi dan inflasi daerah.
 
Berdasarkan asesmen atas data dan informasi Triwulan II-2017, PDRB Jambi tumbuh sebesar 4,29% (yoy), lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan triwulan sebelumnya (4,25% yoy). Angka pertumbuhan ini relatif lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional (5,01% yoy).
 
Sejalan dengan melambatnya aktivitas ekonomi, inflasi Jambi tercatat sebesar 3,82% (yoy) lebih tinggi dari triwulan lalu 2,85% (yoy) namun lebih rendah dari inflasi nasional 4,37% (yoy). Sementara itu inflasi Bungo pada triwulan II-2017 tercatat sebesar 4,79% (yoy).
 
Eksposur perbankan pada sektor korporasi relatif masih terkontraksi sebesar 8,46% (yoy) namun semakin membaik dibandingkan triwulan sebelumnya yang terkontraksi cukup dalam sebesar 9,69% (yoy). Non Performing Loan (NPL) menurun menjadi 2,18%, dibanding triwulan sebelumnya 3,20%. Kredit kepada sektor rumah tangga mengalami perlambatan yaitu sebesar 9,0%, (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya 9,5% (yoy). Dana Pihak Ketiga (DPK) Perseorangan rumah tangga tumbuh sebesar 14,32% (yoy), tumbuh melambat dibandingkan triwulan sebelumnya 16,13% (yoy). Sedangkan kredit UMKM mengalami perlambatan dan tumbuh sebesar 2,1% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya 2,6% (yoy). 

Pembenahan sektor rill secara terus menerus diperlukan sebagai upaya akselerasi penyaluran kredit perbankan terutama dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi.

 

Berikut Kajiannya:

EKONOMI MAKRO REGIONAL
Perekonomian Jambi pada Triwulan II-2017 tumbuh sebesar 4,29% (yoy), sedikit meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya (4,25% yoy) namun lebih rendah dibandingkan pertumbuhan ekonomi nasional Triwulan II-2017 (5,01% yoy).

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi provinsi Jambi pada Triwulan II-2017 didorong oleh perbaikan kinerja sektor pertambangan dan penggalian sejalan dengan tren peningkatan harga komoditas batubara internasional serta peningkatan produksi migas Provinsi Jambi. Selain itu, perekonomian Jambi pada Triwulan II-2017 juga ditopang oleh peningkatan kinerja sektor perdagangan besar, eceran, reparasi mobil dan reparasi depeda motor akibat meningkatnya konsumsi bahan makanan, non makanan oleh masyarakat pada periode hari raya.

Dari sisi pengeluaran, cukup stabilnya pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan II-2017 disebabkan meningkatnya konsumsi rumah tangga pada periode hari raya Idul Fitri dengan pertumbuhan sebesar 4,85% (yoy). Selain itu, konsumsi pemerintah dan PMTDB juga memiliki andil dalam menopang pertumbuhan ekonomi Jambi dengan pertumbuhan masing-masing mencapai sebesar 3,62% (yoy) dan 2,26% (yoy). Menurut andil terhadap pertumbuhan ekonomi Triwulan II-2017, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan menyumbangkan andil tertinggi pada pertumbuhan ekonomi sebesar 1,16% diikuti oleh sektor perdagangan besar, perdagangan eceran, reparasi mobil, dan reparasi sepeda motor sebesar 0,54% serta sektor pertambangan dan penggalian sebesar 0,42%.

Pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,13% - 4,53% (yoy) sedikit lebih baik dibandingkan Triwulan II-2017. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih bersumber dari pertumbuhan sektor utama provinsi Jambi yaitu sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan. Pertumbuhan pada sektor utama tersebut akan didorong oleh koreksi positif harga komoditas akibat sentimen global atas perkiraan ketersediaan pasokan komoditas karet yang masih di bawah kebutuhannya tahun 2017 serta masih positifnya kinerja industri otomotif Tiongkok. Prospek perbaikan kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan didukung oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Jambi pada Triwulan II-2017 yang menunjukkan bahwa pelaku usaha di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan memperkirakan akan terjadi perbaikan dalam kegiatan usaha di Triwulan III-2017 dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 11,08%. Dari sisi pengeluaran, sentimen peningkatan harga komoditas internasional diperkirakan akan mendorong peningkatan produksi komoditas karet, sehingga pada gilirannya akan berdampak pada membaiknya kinerja ekspor dan terjaganya daya beli (konsumsi) masyarakat. Selain itu, dimulainya kegiatan fisik proyek pemerintah diperkirakan mampu memberikan andil yang cukup penting dalam pertumbuhan ekonomi triwulan mendatang.

 

KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH
Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Jambi sampai dengan Triwulan II-2017 mencapai Rp1,83 triliun (terealisasi sebesar 43,99% dari APBD 2017). Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp677,44 miliar (36,99% dari total pendapatan), naik 41,55% dibandingkan realisasi PAD Triwulan II-2016 (Rp478,60 miliar).

Pendapatan terbesar disumbangkan oleh pajak daerah yang mencapai Rp553,99 miliar (30,25% dari total pendapatan dan 81,78% dari total PAD), naik 44,06% dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Realisasi pendapatan Triwulan II-2017 secara total mengalami kenaikan sebesar 18% dibandingkan total pendapatan Triwulan II-2016 yang hanya sebesar Rp1,55 triliun. Hal ini sejalan dengan meningkatnya perekonomian provinsi Jambi dari 3,55% (yoy) pada Triwulan II-2016 menjadi 4,29% (yoy) pada Triwulan II-2017.

Realisasi belanja mengalami penurunan dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya, dari Rp1,36 triliun pada Triwulan II-2016 (terealisasi 36,43%) menjadi Rp1,30 triliun pada Triwulan II-2017 (hanya terealisasi 29,96%). Jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun lalu, nilai realisasi belanja mengalami penurunan sebesar 4,32%. Sejalan dengan menurunnya realisasi belanja, diikuti pula dengan menurunnya realisasi belanja modal yang bertujuan untuk pembangunan infrastruktur dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Pada Triwulan II-2017 diketahui belanja modal terealisasi sebesar 15,87% dari APBD 2017, atau menurun sebesar 60,55% dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya.

Penurunan belanja modal ini juga tercermin pada pengeluaran konsumsi pemerintah pada triwulan II-2017 yang hanya tumbuh sebesar 3,62% (yoy), menurun dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya tumbuh sebesar 4,41% (yoy). Masih rendahnya realisasi belanja modal hingga Triwulan II-2017 (15,87% dari APBD 2017) ditenggarai sebagai dampak dari belum kunjung selesainya proses pemilihan Kepala/Pejabat SKPD. Hal tersebut berdampak pada keterlambatan pengambilan keputusan dan penunjukan pemenang tender beberapa program terkait infrastruktur pembangunan seperti jalan, irigasi, dan jaringan.

 

PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH
Pada Triwulan II-2017, inflasi Provinsi Jambi tercatat 3,82% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (2,85% yoy) namun lebih rendah dibandingkan inflasi nasional (4,37% yoy). Inflasi Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi Kota Jambi sebesar 3,72% (yoy) dan inflasi Kabupaten Bungo sebesar 4,79% (yoy).

Kenaikan tingkat inflasi di Provinsi Jambi utamanya disebabkan oleh kenaikan inflasi pada kelompok administered prices menjadi sebesar 7,44% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (2,40% yoy). Kenaikan inflasi juga terjadi pada bahan pangan bergejolak (volatile foods) yang mengalami inflasi sebesar 0,87% (yoy), lebih tinggi dibandingkan triwulan sebelumnya (0,16% yoy).

Sementara inflasi inti tercatat mengalami penurunan dari triwulan sebelumnya (4,28% yoy) menjadi sebesar 3,44% (yoy) pada triwulan laporan..

Berdasarkan kelompoknya, tingginya inflasi Kota Jambi utamanya disebabkan oleh inflasi yang terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar 6,96% (yoy) dengan kontribusi inflasi sebesar 1,53%, dari sebelumnya mengalami inflasi 4,07% (yoy) pada Triwulan I-2017, serta secara triwulanan mengalami inflasi sebesar 2,73% (qtq). Kenaikan inflasi kelompok tersebut dipicu oleh inflasi sub kelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 15,32% (yoy) dan secara triwulanan mengalami inflasi sebesar 7,01% (qtq).

Sementara itu, Inflasi tahunan Bungo pada Triwulan II-2017 tercatat 4,79% (yoy), lebih tinggi bila dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya (4,00% yoy), untuk inflasi triwulanan Bungo pada Triwulan II-2017 tercatat 1,39% (qtq), lebih rendah dibandingkan inflasi triwulanan pada triwulan sebelumnya (1,51% qtq).

Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 3,59% - 3,99% (yoy), masih berada pada kisaran target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4 ±1% (yoy). Kenaikan inflasi pada Triwulan III-2017 utamanya berasal dari pemberian gaji ke-13 untuk ASN/TNI/POLRI, sehingga diperkirakan akan akan meningkatkan komoditas inti biaya, selain itu memasuki tahun ajaran pendidikan baru diperkirakan akan meningkatkan biaya komoditas pendidikan dan komoditas yang terkait. Kenaikan administered price akan berasal dari peningkatan tarif angkutan udara serta cukai rokok. Sedangkan kenaikan harga beberapa bahan pangan dan hortikultura seiring momen Idul Adha diperkirakan relatif terbatas. Inflasi Kota Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 2,97% - 3,37% (yoy), sedangkan inflasi Bungo diperkirakan berada pada kisaran 4,84% - 5,34% (yoy).

 

STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM
Stabilitas keuangan daerah Provinsi Jambi tetap terjaga baik dari sisi korporasi dan rumah tangga di tengah perlambatan perekonomian Jambi. Dari sisi korporasi terindikasi dari pertumbuhan positif dunia usaha melalui nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) sebesar 28,88% tumbuh meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 21,60. Namun pertumbuhan positif tersebut tidak serta mempengaruhi kebijakan dunia usaha dalam peningkatan pembiayaan bank yang didorong sikap “wait and see” perkembangan harga komoditas kelapa sawit dan karet. Penyaluran kredit korporasi pada triwulan laporan masih menurun 8,46% (yoy), atau lebih baik dibandingkan triwulan sebelumnya yang turun 9,69% (yoy). Penurunan tersebut didominasi penurunan kredit terhadap sektor pertanian, pertambangan dan industri pengolahan. NPL korporasi masih berada dalam posisi terjaga meskipun menurun menjadi 2,18% dari 3,20% pada triwulan sebelumnya.

DPK dan kredit kepada sektor rumah tangga mengalami peningkatan. DPK rumah tangga pada Triwulan I-2017 tumbuh sebesar 14,32% (yoy) atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (16,13% yoy).

Kenaikan tersebut juga terkonfirmasi dari NTP Provinsi Jambi posisi Maret 2017 yang berada di bawah 100 (98,74) dan rumah tangga memandang pesimis perekonomian terlihat dari rata-rata nilai Indeks Keyakinan Konsumen (IKK) dari 104,25 pada triwulan I-2017 menjadi 89,10 pada triwulan laporan dan pesimis akan perekonomian kedepan yang tercermin dari rata-rata Indeks Ekspetasi Konsumen (IEK) dari 115,67 pada triwulan I-2017 menjadi 99,8.Kredit sektor rumah tangga (RT) tumbuh sebesar 9,0% (yoy) atau melambat dibandingkan triwulan sebelumnya (9,51% yoy) yang didorong penurunan kredit KPR dan KPA. Rasio NPL kredit sektor rumah tangga stabil dengan kecenderungan mengalami sedikit peningkatan dari 1,65% menjadi 1,59% pada triwulan laporan dan berada dalam posisi terjaga.

Kredit UMKM Jambi pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp11,3 triliun, mengalami perlambatan dengan tumbuh 2,1% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh 2,6% (yoy) dan pangsa kredit UMKM terhadap total kredit di Jambi mengalami sedikit penurunan yaitu dari 36,06% di triwulan lalu menjadi 36,04% pada triwulan laporan.

Aset bank umum Provinsi Jambi pada triwulan laporan mengalami peningkatan yang didorong pertumbuhan DPK. Aset bank umum pada triwulan II-2017 mengalami pertumbuhan sebesar 9,28% (yoy) menjadi Rp41,68 triliun, meningkat dibandingkan triwulan I-2017 (7,69% (yoy)). Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh bank umum sebesar Rp29,2 triliun meningkat sebesar 21,50% (yoy) dan kredit tumbuh sebesar 3,59% (yoy) menjadi Rp31,5 triliun sehingga Loan to Deposits Ratio (LDR) perbankan berdasarkan bank pelapor mengalami penurunan sebesar 110 bps menjadi sebesar 107,8%. Kualitas kredit masih terjaga yang tercermin dari rasio NPL di bawah 5% (2,76%) namun sedikit memburuk dibandingkan dengan triwulan sebelumnya yang berada di posisi 2,93%.

 

PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH
Perkembangan Perkembangan aliran uang kartal di Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 untuk aliran kas masuk (cash inflow) menunjukkan penurunan sebesar 1,54% (yoy) menjadi Rp754,71 miliar, sementara untuk aliran kas keluar (cash outflow) mengalami peningkatan 4,64% (yoy) atau sebesar Rp2,91 triliun, sehingga terjadi net outflow sebesar Rp2,16 triliun setelah pada triwulan yang sama tahun sebelumnya juga mengalami net outflow sebesar Rp2,02 triliun. Meningkatnya net outflow secara umum disebabkan oleh tingginya arus transaksi keluar yang bertepatan dengan momen ramadhan dan hari raya Idul Fitri 1438 H.

Nilai lalu lintas pembayaran non tunai melalui kliring lokal pada triwulan laporan secara nominal tercatat sebesar Rp1,68 triliun atau menurun 29,22%, sementara secara lembar menurun menjadi 47.162 lembar atau sebesar 32,78% (yoy) dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya.

Terjadi peningkatan layanan keuangan digital (LKD) yang dikelola oleh 2 bank umum yaitu PT Bank Mandiri (Persero), Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk dimana jumlah LKD sampai dengan Juni 2017 adalah 2.870 LKD atau meningkat dibandingkan posisi Maret 2017 sebanyak 2.525 agen LKD.

Frekuensi layanan kas keliling dan kas dalam kantor pada Triwulan II-2017 sebanyak 50 (lima puluh) kali. Sementara untuk pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) di Provinsi Jambi sebesar Rp365,48 miliar, atau 48,43% dari total inflow Provinsi Jambi, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (101,81%). Uang rupiah tidak asli yang ditemukan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi pada triwulan laporan mencapai 245 lembar, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (427 lembar).

 

KESEJAHTERAAN DAERAH
Pada bulan Maret 2017, garis kemiskinan Provinsi Jambi mengalami kenaikan 4,77% dari tahun sebelumnya menjadi Rp389.596 per kapita per bulan. Namun demikian, dari sisi jumlah penduduk miskin terjadi penurunan persentase dari 8,41% menjadi 8,19% dari tahun sebelumnya dikarenakan adanya sedikit perbaikan pedapatan akibat dari meningkatnya harga komoditas seperti bokar dan TBS di Triwulan I-2017 sebesar 15,32% dan 0,39%, yang disertai peningkatan jumlah pekerja di sektor pertanian, pengolahan, pertambangan dan perdagangan, serta kenaikan upah buruh di awal tahun 2017.

Nilai Tukar Petani (NTP) pada Triwulan II-2017 mengalami penurunan 225 bps yaitu dari 100,99 pada Triwulan I-2017 menjadi 98,74 pada Triwulan II-2017, sejalan dengan penurunan NTP pada sub sektor perkebunan rakyat (-3.87%), yang disebabkan oleh turunnya harga jual komoditas Tandan Buah Segar (TBS) dan harga bahan olahan karet yang mengalami pelemahan. Penurunan juga terjadi pada NTP tanaman pangan dan NTP hortikultura dikarenakan terjadinya deflasi di komoditas bahan pangan serta mulai melemahnya harga komoditas pada Triwulan II-2017. Sedangkan peningkatan NTP terjadi pada NTP Peternakan dan Perikanan, masing-masing sebesar 1,52% dan 2,46% dari triwulan sebelumnya yang disebabkan oleh naiknya harga hewan ternak serta hasil perikanan di saat hari raya Idul Fitri yang ditandai dengan inflasi beberapa komponen diantaranya daging sapi, daging ayam, telur dan ikan.

Penyaluran rastra mencapai sebesar 14.601 ton, relatif menurun bila dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (3,61% (yoy)). Menurunnya penyaluran rastra selama triwulan II-2017 disebabkan karena BULOG masih melakukan beberapa sosialiasi dan validasi terhadap data Keluarga Penerima Manfaat Rastra.

 

PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH
Laju pertumbuhan tahunan Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 4,13% - 4,53% (yoy), lebih tinggi dibandingkan realisasi Triwulan II-2017 sebesar 4,29% (yoy). Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2017 secara keseluruhan diperkirakan akan berada pada kisaran 4,19% - 4,59%, lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan tahun 2016 (4,37%, yoy).

Pertumbuhan ekonomi tahun 2017 secara keseluruhan masih disumbangkan oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemerintah serta ekspor yang bersumber dari meningkatnya kinerja sektor perkebunan dan industri pengolahan. Investasi juga diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2016.

Sementara itu, pertumbuhan pada sektor utama masih bersumber dari pertumbuhan sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan. Pertumbuhan pada sektor utama tersebut sebagai dampak positif dari perkiraan membaiknya harga komoditas perkebunan, ketersediaan bahan baku yang didukung oleh kondusifnya kondisi cuaca serta faktor eksternal yang dapat menjadi pull factor peningkatan permintaan komoditas perkebunan Provinsi Jambi. Sektor lain yang diperkirakan tumbuh dan menyumbangkan andil bagi pertumbuhan ekonomi Jambi adalah sektor pertambangan dan penggalian, serta Industri Pengolahan. Dari sisi pengeluaran, ekspor akan menjadi sumber utama pertumbuhan ekonomi Jambi didukung oleh perkiraan peningkatan belanja pemerintah daerah di Triwulan III-2017.

Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 3,59% - 3,99% (yoy), masih berada pada kisaran target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4 ±1% (yoy). Kenaikan inflasi pada Triwulan III-2017 utamanya berasal dari pemberian gaji ke-13 untuk ASN/TNI/POLRI, sehingga diperkirakan akan akan meningkatkan komoditas inti biaya, selain itu memasuki tahun ajaran pendidikan baru diperkirakan akan meningkatkan biaya komoditas pendidikan dan komoditas yang terkait. Kenaikan administered price akan berasal dari peningkatan tarif angkutan udara serta cukai rokok. Sedangkan kenaikan harga beberapa bahan pangan dan hortikultura seiring momen Idul Adha diperkirakan relatif terbatas. Inflasi Kota Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 2,97% - 3,37% (yoy) sedangkan inflasi Bungo diperkirakan berada pada kisaran 4,84% - 5,34% (yoy).

Inflasi Provinsi Jambi pada tahun 2017 secara keseluruhan diperkirakan berada pada kisaran 3,16% - 3,56% (yoy), lebih rendah dibandingkan realisasi inflasi tahun 2016 (4,39%). Inflasi Kota Jambi pada Triwulan III-2017 diperkirakan berada pada kisaran 2,97% - 3,37% (yoy) sedangkan inflasi Bungo diperkirakan berada pada kisaran 4,84% - 5,34% (yoy). Inflasi tahun 2017 utamanya didorong kenaikan harga beberapa komoditas administered price seperti tarif listrik, rokok dan tarif angkutan udara, kenaikan harga komoditas inti seperti barang-barang kebutuhan rumah tangga (consumer goods) dan biaya pendidikan.

Ke depan, beberapa potensi risiko yang dapat menyebabkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan (upside risk) antara lain berasal dari menurunnya pasokan bahan pangan dan hortikultura, serta beberapa komoditas yang harus dipenuhi dari luar daerah/luar negeri serta anomali cuaca yang dapat mengganggu hasil panen terutama sayuran. Sementara itu, melemahnya ekspektasi konsumen yang tercermin dalam Survei Konsumen terkini berpotensi menahan laju inflasi (downside risk).

Menyikapi kondisi ekonomi dan inflasi terkini, beberapa hal yang perlu diperhatikan oleh Pemerintah Pusat dan Daerah adalah:

 

Akselerasi pertumbuhan ekonomi daerah:
Percepatan pembangunan ekonomi daerah dalam jangka pendek melalui:

  • Pembuatan payung hukum untuk menjamin pelaksanaan program-program pemerintah daerah berjalan dengan efektif selama periode reorganisasi belum selesai serta masa transisi perubahan pejabat di tiap SKPD.
  • Percepatan realisasi APBD terutama anggaran belanja modal pemerintah untuk pembangunan infrastruktur (jalan, jembatan, saluran irigasi dan pelabuhan) dalam rangka mendorong konektivitas dan perdagangan antar daerah.
  • Intervensi pemerintah untuk mendorong kinerja perkebunan karet melalui penciptaan pasar domestik, perluasan pasar ekspor, peraturan pemanfaatan karet lokal untuk industri dan restrukturisasi kredit/pembiayaan di sektor perkebunan karet.
  • Perumusan mapping potensi perekonomian desa dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan dana transfer pemerintah pusat (dana desa) dan dana bantuan Pemerintah provinsi dengan mempertimbangkan:
  1. Potensi komoditas unggulan desa seperti pemanfaatan sit angin (unsmoked sheet) dalam pengolahan hasil karet.
  2. Pemenuhan kebutuhan pokok masyarakat desa dan kota terdekat seperti bantuan budidaya sayuran, bumbu-bumbuan, ternak ayam dan telur, kolam perikanan dll.
  3. Pemerintah Daerah sebaiknya mulai menyusun petunjuk teknis dan pelaksanaan (guidance) manajemen proyek untuk disosialisasikan kepada desa dalam rangka pemanfaatan dan pertanggungjawaban dana transfer ke desa.
  • Mendorong investasi dan penciptaan aktivitas ekonomi baru melalui:
  1. Meminimalisir hambatan investasi (peraturan/perizinan, pajak/retribusi, infrastruktur).
  2. Insentif bagi investor dan pelaku usaha/wirausaha baru seperti relaksasi pajak/retribusi, penyediaan tata ruang, bantuan permodalan, bantuan promosi, penyediaan SDM yang unggul melalui kerjasama dengan SMK dan perguruan tinggi.
  3. Insentif khusus bagi calon investor yang membangun industri hilir penunjang komoditas unggulan di Jambi.
  • Meningkatkan produktivitas dan nilai tambah produk pertanian, perkebunan dan kehutanan melalui.
  1. Program revitalisasi/replanting tanaman kelapa sawit dan karet rakyat;
  2. Program edukasi kepada petani dalam rangka pemanfaatan tanaman dan lahan serta penggunaan teknologi tepat guna;
  3. Membangun jaringan kelembagaan petani dengan industri pengolahan untuk mengurangi rantai perdagangan yang tidak sehat;
  4. Sosialisasi dan penguatan kelembagaan pasar komoditas (pasar lelang spot dan forward untuk tanaman perkebunan dan pasar agribisnis untuk tanaman hortikultura)
  5. Membangun pusat informasi harga karet dan komoditas utama lainnya yang mudah diakses sampai ke level petani.
  6. Mengembangkan industri karet yang terintegrasi meliputi industri inti, penunjang, dan industri terkait lainnya dengan memberikan kemudahan izin, pembiayaan, dan pengembangan;

 
Menyikapi pengendalian Inflasi
Pemerintah perlu memperhatikan proyeksi kenaikan inflasi selama triwulan mendatang serta potensi risiko yang perlu diwaspadai dengan:

  1. Pengamanan stok bahan pokok melalui sidak dan pemantauan rutin serta mendorong pelaku usaha untuk bekerjasama dengan daerah pemasok kebutuhan.
  2. Pengamanan produksi di sektor hulu mengantisipasi potensi La Nina.
  3. Penguatan TPID sebagai forum untuk mematangkan konsep dan koordinasi pelaksanaan program kerja pengendalian inflasi antar SKPD.
  4. Pengembangan database TPID mencakup kondisi surplus defisit komoditas pangan daerah, pengawasan arus keluar masuk barang, perkembangan stok dan pemantauan harga.
  5. Meningkatkan sosialisasi kepada masyarakat terkait program kerja TPID dan himbauan-himbauan menyangkut pengendalian inflasi di Jambi.

 
 

Sumber: Rilis/Bank Indonesia

KOMENTAR DISQUS :

Top