Kamis, 22 Agustus 2019 |
Ekonomi

Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional Provinsi Jambi Periode November 2017

Jumat, 12 Januari 2018 13:55:05 wib
Ilustrasi/pinggiran sungai batanghari/Foto: jambidaily.com/Hendry Noesae

JAMBIDAILY EKONOMI - Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jambi menerbitkan Kajian Ekonomi dan Keuangan Regional (KEKR) Provinsi Jambi November 2017. KEKR merupakan salah satu terbitan periodik Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi sebagai sarana diseminasi data dan informasi bagi stakeholders. Dengan demikian, para pemangku kepentingan seperti pelaku usaha, perbankan dan terutama Pemerintah Daerah Jambi (provinsi dan kabupaten/kota) diharapkan dapat memperoleh masukan dalam merumuskan kebijakan pengembangan ekonomi daerah.

KEKR mencakup beberapa aspek seperti perkembangan ekonomi makro regional, keuangan pemerintah daerah, inflasi daerah, stabilitas keuangan daerah, pengembangan akses keuangan dan UMKM, penyelenggaraan sistem pembayaran dan pengelolaan uang rupiah, serta ketenagakerjaan dan kesejahteraan. Publikasi ini juga memuat perkiraan pertumbuhan ekonomi dan inflasi daerah.

I. EKONOMI MAKRO REGIONAL ​

Perekonomian Jambi pada Triwulan III-2017 tumbuh sebesar 4,76% (yoy), meningkat dibandingkan pertumbuhan ekonomi triwulan sebelumnya (4,32% yoy), namun relatif lebih rendah dari pertumbuhan ekonomi nasional Triwulan III-2017 (5,06% yoy). ​

Meningkatnya pertumbuhan ekonomi provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 didorong oleh perbaikan kinerja sektor pertambangan dan penggalian dimana terdapat kenaikan produksi migas dan batu bara dibandingkan triwulan sebelumnya yang didukung tren peningkatan harga komoditas migas dan batu bara internasional. Selain itu, perekonomian Jambi pada Triwulan III-2017 juga ditopang oleh peningkatan kinerja sektor konstruksi sejalan dengan meningkatnya realisasi proyek fisik pemerintah dan swasta. Membaiknya kinerja sektor konstruksi didukung juga oleh investasi swasta berupa pembangunan beberapa hotel dan perumahan di Provinsi Jambi. ​

Dari sisi pengeluaran, meningkatnya pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan III-2017 disebabkan meningkatnya ekspor barang dan jasa sebesar 11,94% (yoy) terutama ditopang oleh ekspor komoditas pertambangan sejalan dengan perbaikan harga batu bara internasional dan peningkatan produksi baik dari batu bara maupun minyak dan gas bumi. Sementara itu, pengeluaran konsumsi rumah tangga dan PMTB yang relatif lebih kecil dibandingkan PDRB sedikit menahan laju pertumbuhan ekonomi Jambi dengan pertumbuhan masing-masing mencapai sebesar 4,15% (yoy) dan 2,26% (yoy). ​

Menurut andil terhadap pertumbuhan ekonomi Triwulan II-2017, sektor pertambangan dan penggalian menyumbangkan andil tertinggi pada pertumbuhan ekonomi sebesar 1,46% diikuti oleh sektor pertanian, kehutanan dan perikanan sebesar 0,89%, sektor konstruksi sebesar 0,64% serta industri pengolahan sebesar 0,52% ​

Pertumbuhan ekonomi Jambi pada Triwulan IV-2017, diperkirakan berada pada kisaran 4,74% - 5,14% (yoy) lebih baik dibandingkan Triwulan III-2017. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan masih bersumber dari pertumbuhan sektor utama provinsi Jambi yaitu sektor pertambangan dan penggalian, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, serta sektor industri pengolahan. Pertumbuhan pada sektor utama tersebut akan didorong oleh koreksi positif harga komoditas migas atas terkendalinya pasokan global terutama akibat pembatasan produksi oleh OPEC dan Rusia. Selain itu, meningkatnya permintaan dan terganggunya produksi batu bara di sejumlah negara produsen seperti Tiongkok dan Australia menyebabkan harga batu bara berada di level yang cukup tinggi. Harga komoditas karet dan CPO juga terkoreksi positif seiring dengan sentimen global atas perkiraan ketersediaan pasokan komoditas karet yang masih di bawah kebutuhannya di tahun 2017 serta masih tingginya permintaan CPO dunia. ​

Prospek perbaikan kinerja sektor pertanian, kehutanan dan perikanan didukung oleh hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) yang dilakukan Bank Indonesia Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 yang menunjukkan bahwa pelaku usaha di sektor pertanian, perkebunan, peternakan, kehutanan dan perikanan memperkirakan akan terjadi perbaikan dalam kegiatan usaha di Triwulan IV-2017 dengan nilai Saldo Bersih Tertimbang (SBT) sebesar 7,47%. Sementara itu, sektor industri pengolahan diperkirakan juga mengalami peningkatan seiring dengan kondisi perekonomian yang diyakini semakin membaik dengan nilai SBT sebesar 0,95%. Sektor lainnya yang diperkirakan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di Triwulan IV-2017 adalah sektor konstruksi sejalan dengan realisasi proyek fisik pemerintah daerah berupa jalan dan fasilitas umum hingga akhir tahun. ​

Dari sisi pengeluaran, sentimen peningkatan harga komoditas internasional diperkirakan akan mendorong peningkatan produksi komoditas karet, CPO, migas, dan batu bara sehingga pada gilirannya akan berdampak pada membaiknya kinerja ekspor dan terjaganya daya beli (konsumsi) masyarakat. Selain itu, percepatan realisasi proyek fisik pemerintah diperkirakan mampu memberikan andil yang cukup penting dalam pertumbuhan ekonomi triwulan mendatang. ​

Secara keseluruhan perekonomian Provinsi Jambi di sepanjang tahun 2017 diproyeksikan tumbuh sebesar 4,57% (yoy) lebih baik dibandingkan tahun 2016 sebesar 4,36% (yoy). Pertumbuhan ekonomi masih bersumber dari sektor utama provinsi Jambi yaitu sektor pertanian, kehutanan dan perikanan, sektor pertambangan dan penggalian, serta sektor industri pengolahan. Ekonomi Provinsi Jambi yang ditopang oleh sektor primer sangat bergantung kepada harga internasional komoditas utama seperti karet, CPO, migas dan batu bara. Sementara harga komoditas internasional yang masih berfluktuatif dan cenderung mengalami penurunan di pertengahan tahun 2017, pertumbuhan ekonomi di Triwulan I dan II relatif tumbuh terbatas masing-masing sebesar 4,25% (yoy) dan 4,32% (yoy). ​

II. KEUANGAN PEMERINTAH DAERAH ​

Realisasi pendapatan pemerintah Provinsi Jambi sampai dengan Triwulan III-2017 mencapai Rp3,07 triliun (terealisasi sebesar 72,52% dari APBD-P 2017). Realisasi Pendapatan Asli Daerah (PAD) mencapai Rp1,05 triliun (73,78% dari total pendapatan), naik 16,65% dibandingkan realisasi PAD Triwulan III-2016 (Rp902,38 miliar). ​

Pendapatan terbesar disumbangkan oleh pajak daerah yang mencapai Rp854,82 miliar (27,84% dari total pendapatan dan 81,21% dari total PAD), naik 23,81% dibandingkan periode yang sama tahun 2016. Realisasi pendapatan Triwulan III-2017 secara total mengalami kenaikan sebesar 28,99% dibandingkan total pendapatan Triwulan III-2016 yang hanya sebesar Rp2,38 triliun. Hal ini sejalan dengan meningkatnya perekonomian provinsi Jambi dari 4,01% (yoy) pada Triwulan III-2016 menjadi 4,76% (yoy) pada Triwulan III-2017. ​

Sementara itu dari sisi realisasi belanja meskipun mengalami peningkatan nominal sebesar 10,14% dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya, dari Rp2,18 triliun pada Triwulan III-2016 (terealisasi 60,36%) menjadi Rp2,40 triliun pada Triwulan III-2017 namun hanya terealisasi 54,13%. Realisasi belanja modal, yang bertujuan untuk pembangunan infrastruktur dalam rangka meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pada Triwulan III-2017 hanya terealisasi sebesar 38,99% dari APBD 2017 menurun dibandingkan realisasi periode yang sama tahun sebelumnya sebesar 61,07%, atau menurun sebesar 35,62% dibandingkan triwulan yang sama tahun sebelumnya yang mengakibatkan tertahannya akselerasi perekonomian provinsi Jambi yang tercatat pada Triwulan III-2017 sebesar 4,76% (yoy). ​

III. PERKEMBANGAN INFLASI DAERAH ​

Pada Triwulan III-2017, inflasi Provinsi Jambi tercatat 2,49% (yoy), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (3,82% yoy) dan inflasi nasional (3,72% yoy). Inflasi Provinsi Jambi merupakan komposit dari inflasi Kota Jambi sebesar 2,32% (yoy) dan inflasi Kabupaten Bungo sebesar 4,03% (yoy). ​

Kenaikan tingkat inflasi di Provinsi Jambi utamanya disebabkan oleh kenaikan inflasi pada kelompok administered prices menjadi sebesar 4,46% (yoy), meskipun lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (7,44% yoy). Inflasi juga terjadi pada komoditas inti (core inflation) sebesar 3,38% (yoy), sedikit menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (3,44% yoy). Sementara inflasi bahan pangan bergejolak (volatile foods) tercatat mengalami deflasi 1,83% (yoy) setelah triwulan sebelumnya mengalami inflasi sebesar 0,87% (yoy). ​

Berdasarkan kelompoknya, tingginya inflasi Kota Jambi utamanya disebabkan oleh inflasi yang terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar sebesar 6,12% (yoy) dengan kontribusi inflasi sebesar 1,34%, dari sebelumnya mengalami inflasi 6,96% (yoy) pada Triwulan II-2017, serta secara triwulanan mengalami inflasi sebesar 0,20% (qtq). Tingginya inflasi kelompok tersebut dipicu oleh inflasi sub kelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 12,59% (yoy) meskipun secara triwulanan mengalami deflasi sebesar 0,11% (qtq). ​

Inflasi tahunan Bungo pada Triwulan III-2017 tercatat 4,03% (yoy), lebih rendah bila dibandingkan inflasi triwulan sebelumnya (4,79% yoy) (Grafik 3.7.). Sementara itu, inflasi triwulanan Bungo pada Triwulan III-2017 tercatat 0% (qtq), lebih rendah dibandingkan triwulan sebelumnya (1,39% qtq). ​

Berdasarkan kelompoknya, penyumbang inflasi terbesar Bungo pada Triwulan III-2017 terjadi pada kelompok perumahan, air, listrik dan bahan bakar yang mengalami inflasi sebesar 9,10% (yoy) dengan sumbangan inflasi sebesar 1,68% dan secara triwulanan mengalami inflasi 0,96% (qtq). Inflasi kelompok ini didominasi oleh sub kelompok bahan bakar, penerangan, dan air sebesar 15,26% (yoy), dan sub kelompok perlengkapan rumah tangga sebesar 11,24% (yoy). Inflasi kedua kelompok tersebut utamanya disebabkan kenaikan tarif listrik (17,92% yoy) dan lemari pakaian (19,10% yoy). ​

Sementara itu sub kelompok biaya tempat tinggal mengalami inflasi 3,33% (yoy) sedangkan sub kelompok penyelenggaraan rumah tangga mengalami inflasi 2,39% (yoy). Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan IV-2017 diperkirakan berada pada kisaran 1,21%-1,61% (yoy), masih berada pada kisaran target inflasi nasional 2017 pada kisaran 4±1% (yoy)). Sementara inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan I-2018 diperkirakan berada pada kisaran 1,89%-2,29% (yoy), di bawah kisaran target inflasi nasional 2018 sebesar 3,5±1% (yoy). Inflasi utamanya disebabkan meningkatnya harga komoditas bahan makanan bergejolak (volatile food) setelah selesainya masa panen komoditas bahan makanan utama, meningkatnya harga administered prices setelah kepastian penetapan kenaikan cukai rokok oleh pemerintah di tahun 2018, serta meningkatnya komoditas inti (core) akibat penyesuaian gaji dan pendapatan masyarakat pasca penetapan UMR tahun 2018 oleh pemerintah daerah. ​

Inflasi Provinsi Jambi pada tahun 2018 secara keseluruhan diperkirakan berada pada kisaran 3,42%-3,82% (yoy), lebih tinggi dibandingkan perkiraan inflasi tahun 2017 (1,21%-1,61% yoy). Inflasi tahun 2018 utamanya didorong kenaikan harga beberapa komoditas volatile food seperti daging ayam ras, cabai merah, bawang merah, komoditas administered price seperti rokok dan tarif angkutan udara, kenaikan harga komoditas inti seperti barang-barang kebutuhan rumah tangga (consumer goods) dan biaya pendidikan. ​

IV. STABILITAS KEUANGAN DAERAH, PENGEMBANGAN AKSES KEUANGAN DAN UMKM ​

Kinerja korporasi di Provinsi Jambi utamanya dipengaruhi oleh harga komoditas pertanian (karet dan kelapa sawit) serta komoditas pertambangan (batu bara dan migas) yang cukup rentan dan berfluktuasi dipengaruhi kondisi perekonomian global. Kegiatan usaha pada Triwulan III-2017 mengalami pertumbuhan sejalan dengan membaiknya kondisi ekonomi di tingkat lokal akibat membaiknya harga komoditas utama Jambi yaitu karet dan kelapa sawit. ​

Hasil Survei Kegiatan Dunia Usaha (SKDU) Bank Indonesia mengindikasikan kegiatan usaha pada Triwulan III-2017 menunjukkan peningkatan meskipun sedikit melambat dibandingkan triwulan sebelumnya yang tercermin pada saldo bersih tertimbang (SBT) kegiatan usaha sebesar 22,55% lebih rendah dibandingkan SBT Triwulan II-2017 sebesar 28,88%. Pertumbuhan pada kegiatan usaha selama Triwulan III-2017 didorong kinerja positif dari Sektor Industri Pengolahan (SBT 12,70%), Sektor Perdagangan, Sektor Pengangkutan dan Komunikasi (SBT 3,65%), sektor pertambangan dan Penggalian (SBT 2,66%), Sektor Pertanian, Perkebunan, Perikanan dan Kehutanan (SBT 1,93%), Sektor Jasa-jasa (SBT 1,36%), serta Sektor Listrik, Gas dan Air Bersih (SBT 0,20%). ​

Kredit korporasi yang disalurkan di Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 tercatat sebesar Rp10,60 triliun atau terkontraksi sebesar 6,37% (yoy). Meskipun pertumbuhan kredit tercatat masih mengalami kontraksi, namun lebih baik dibanding Triwulan II-2017 yang terkontraksi sebesar 8,46% (yoy). ​

Kredit korporasi Triwulan III-2017 masih didominasi oleh 4 sektor utama yaitu sektor pertanian 38,25%, sektor industri pengolahan 18,84%, sektor perdagangan besar dan eceran 15,64% dan sektor pertambangan 7,69%. ​

Sejalan dengan peningkatan penyaluran kredit, kualitas kredit untuk debitur korporasi juga terpantau membaik. Hal tersebut terlihat dari rasio NPL korporasi yang menurun dari sebesar 2,18% (gross) pada Triwulan II-2017 menjadi sebesar 2,15% (gross) pada triwulan laporan. ​

Pertumbuhan DPK Rumah Tangga (RT) Jambi pada Triwulan III-2017 sebesar 22,38% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (21,63% yoy). Kredit RT tumbuh sebesar 10,08% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya 8,99% (yoy). Pertumbuhan DPK perseorangan Jambi pada Triwulan III-2017 mencapai sebesar 15,46% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 14,35% (yoy). Sementara itu, pertumbuhan DPK non perseorangan terpantau sedikit melambat menjadi sebesar 40,54% (yoy) dibandingkan triwulan sebelumnya yang tumbuh sebesar 41,97% (yoy). ​

Kredit rumah tangga (RT) mencapai sebesar Rp15,46 triliun atau tumbuh sebesar 10,08% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 8,99% (yoy). Peningkatan penyaluran kredit tersebut utamanya didorong peningkatan kredit multiguna dan KPR (termasuk KPA dan Ruko/Rukan). ​

Kredit UMKM Jambi pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp11,76 triliun, tumbuh sebesar 8,77% (yoy) meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya yang hanya tumbuh sebesar 3,65% (yoy). Pertumbuhan kredit UMKM tersebut lebih tinggi dibandingkan pertumbuhan total kredit sebesar 4,59% (yoy) . ​

Aset perbankan pada Triwulan III-2017 tercatat sebesar Rp43,14 triliun atau tumbuh sebesar 14,96% (yoy) meningkat dibandingkan Triwulan II-2017 yang mencapai Rp41,68 triliun atau tumbuh sebesar 9,28%(yoy). Pertumbuhan dalam aset perbankan didorong oleh tumbuhnya aset di semua kelompok bank. Bank pemerintah dan bank swasta masing-masing tumbuh 18,02% (yoy) dan 8,07% (yoy) atau meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 12,34% (yoy) dan 2,72% (yoy). Berdasarkan pangsa asetnya, kelompok bank dengan aset terbesar adalah bank pemerintah Rp30,66 triliun (71,06%), diikuti oleh bank swasta Rp12,48 triliun (28,94%). Sementara itu pangsa aset bank menurut kegiatan masih didominasi oleh bank konvensional dengan aset sebesar Rp40,65 triliun (pangsa 94,21%) dan bank syariah dengan aset sebesar Rp2,49 triliun (5,79%). ​

Pada triwulan laporan, jumlah Dana Pihak Ketiga (DPK) yang dihimpun oleh perbankan mencapai Rp30,12 triliun tumbuh sebesar 22,38% (yoy) lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya 21,63% (yoy) Pertumbuhan DPK tersebut didorong peningkatan tabungan, sementara pertumbuhan deposito dan giro masing-masing mengalami perlambatan. Pada Triwulan III-2017, jumlah tabungan sebesar Rp14,60 triliun tumbuh 18,17% (yoy) lebih tinggi dibanding triwulan sebelumnya sebesar 13,95% (yoy). Deposito pada triwulan laporan sebesar Rp10,96 triliun atau tumbuh sebesar 33,44% (yoy) melambat dibandingkan triwulan sebelumnya sebesar 36,79% (yoy). Sama halnya dengan deposito, pertumbuhan giro tercatat mengalami perlambatan dari sebesar 15,70% (yoy) di Triwulan II-2017, menjadi 12,75% (yoy) pada Triwulan III-2017. ​

Penghimpunan dana giro pada triwulan laporan tercatat sebesar Rp4,55 triliun. Berdasarkan pangsanya, dana pihak ketiga pada triwulan laporan didominasi tabungan sebesar 48,49%, deposito sebesar 36,40% serta giro sebesar 15,11%. ​

Risiko kredit di provinsi Jambi tergolong masih cukup baik. Hal tersebut terlihat dari menurunnya rasio NPL dari sebesar 2,76% (gross) pada Triwulan II-2017 menjadi sebesar 2,66% (gross) pada triwulan laporan, selain itu rasio NPL tersebut masih cukup jauh dari batas kritis NPL 5%. ​

V. PENYELENGGARAAN SISTEM PEMBAYARAN DAN PENGELOLAAN UANG RUPIAH ​

Perkembangan aliran uang kartal di Provinsi Jambi pada Triwulan III-2017 untuk aliran kas masuk (cash inflow) menunjukkan peningkatan sebesar 12,45% (yoy) menjadi Rp1,81 triliun, sementara untuk aliran kas keluar (cash outflow) mengalami penurunan 20,80% (yoy) atau sebesar Rp359,70 miliar, sehingga terjadi net inflow sebesar Rp436,34 miliar setelah pada triwulan yang sama tahun sebelumnya mengalami net outflow sebesar Rp122,78 miliar. Secara umum net inflow disebabkan oleh mulai bergeraknya arus transaksi masuk pada triwulan III-2017 pasca hari raya Idul Fitri dan sekaligus bertepatan dengan masuknya momen hari raya Idul Adha 1438 H. ​

Nilai lalu lintas pembayaran non tunai melalui kliring lokal pada triwulan III-2017 secara nominal tercatat sebesar Rp1,74 triliun atau menurun 24,39%, sementara secara lembar menurun menjadi 46.104 lembar atau sebesar 25,81% (yoy) dibanding triwulan yang sama tahun sebelumnya. Terjadi peningkatan layanan keuangan digital (LKD) yang dikelola oleh 2 bank umum yaitu PT Bank Mandiri (Persero), Tbk dan PT Bank Rakyat Indonesia (Persero), Tbk dimana jumlah LKD sampai dengan September 2017 adalah 3.266 LKD atau meningkat dibandingkan posisi Juni 2017 sebanyak 2.870 agen LKD. ​

Frekuensi layanan kas keliling dan kas dalam kantor pada Triwulan III-2017 sebanyak 34 (tiga puluh empat) kali. Sementara untuk pemusnahan Uang Tidak Layak Edar (UTLE) di Provinsi Jambi sebesar 37,29% dari total inflow Provinsi Jambi, menurun dibandingkan triwulan sebelumnya (48,43%). Uang rupiah tidak asli yang ditemukan di wilayah kerja Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jambi pada triwulan laporan mencapai 377 lembar, meningkat dibandingkan triwulan sebelumnya (245 lembar). ​

VI. KETENAGAKERJAAN DAERAH DAN KESEJAHTERAAN ​

Pada bulan Agustus 2017, jumlah angkatan kerja di Provinsi Jambi mengalami peningkatan sebesar 96,1 ribu orang menjadi 1,72 juta orang dibandingkan Agustus 2016 (1,70 juta orang). Mulai membaiknya pertumbuhan perekonomian Jambi berimbas terhadap peningkatan jumlah penduduk yang bekerja yaitu dari 1,62 juta orang di Agustus 2016 menjadi 1,66 juta orang di Agustus 2017. ​

Sejalan dengan hal tersebut jumlah pengangguran juga mengalami penurunan dari 67,7 ribu orang pada Agustus 2016 menjadi 66,8 ribu orang pada Agustus 2017, sehingga tingkat pengangguran terbuka turun menjadi 3,9% dari sebelumnya 4% pada Agustus 2016. Nilai Tukar Petani (NTP) pada Triwulan III-2017 sebesar 99,88 atau meningkat 1,15 bps dibandingkan Juni 2017 sebesar 98,74. ​

Hal tersebut disebabkan oleh terjadinya kenaikan indeks yang diterima petani (1,81%) yang relatif lebih besar dibandingkan kenaikan indeks yang harus dibayar petani (0,65%), sejalan dengan terjaganya tingkat inflasi di level rendah dan stabil. Peningkatan NTP di bulan September 2017 dibandingkan Juni 2017 didorong oleh meningkatnya beberapa sub kelompok NTP, diantaranya adalah NTP petani hortikultura dan perkebunan rakyat. Sementara NTP petani tanaman pangan, peternakan dan perikanan mengalami penurunan. ​

Penyaluran rastra mencapai sebesar 4.889 ton, relatif menurun bila dibandingkan triwulan yang sama pada tahun sebelumnya (45,79% (yoy)). Menurunnya penyaluran rastra selama triwulan III-2017 disebabkan karena tingginya realisasi penyaluran rastra pada triwulan sebelumnya yang mencapai 14.601 ton, secara keseluruhan penyaluran rastra yang dilakukan oleh Perum Bulog Divre Jambi sudah berjalan dengan cukup baik. ​

VII. PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH ​

Laju pertumbuhan tahunan Provinsi Jambi pada Triwulan I-2018 diperkirakan berada pada kisaran 4,47% - 4,87% (yoy), lebih rendah dibandingkan perkiraan Triwulan IV-2017 sebesar 4,74 - 5,14% (yoy). Sementara proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun 2018 secara keseluruhan diperkirakan akan berada pada kisaran 4,64% - 5,04% (yoy) lebih tinggi dibandingkan perkiraan pertumbuhan tahun 2017 (4,37% - 4,77%, yoy). ​

Pertumbuhan ekonomi diperkirakan bersumber dari pertumbuhan sektor pertambangan dan penggalian, sektor pertanian, kehutanan dan perikanan serta sektor industri pengolahan. Sektor lain yang diperkirakan tumbuh dan menyumbangkan andil bagi pertumbuhan ekonomi Jambi adalah sektor informasi dan komunikasi. Pertumbuhan pada sektor utama tersebut didorong oleh optimisme perekonomian global setelah mencermati perkembangan terkini terkait lebih cepatnya pemulihan ekonomi Amerika Serikat, Eropa dan Jepang serta pertumbuhan Tiongkok yang mampu tumbuh lebih baik dibandingkan konsensus internasional. Dari sisi domestik, ketersediaan bahan baku serta cukup kondusifnya cuaca dapat membantu produksi komoditas ekspor utama provinsi Jambi. Dari sisi pengeluaran, konsumsi rumah tangga dan ekspor masih menjadi penopang pertumbuhan ekonomi daerah di Triwulan I-2018. ​

Pertumbuhan ekonomi tahun 2018 secara keseluruhan masih disumbangkan oleh pertumbuhan konsumsi rumah tangga dan pemerintah serta ekspor yang bersumber dari meningkatnya kinerja sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan, sektor pertambangan dan penggalian serta sektor industri pengolahan. Investasi juga diperkirakan tumbuh lebih tinggi dibandingkan tahun 2017. ​

Potensi risiko yang bersifat downside risk terhadap pertumbuhan ekonomi seperti kebijakan proteksionis dari negara importir utama, kebijakan normalisasi dan peningkatan FFR oleh The Fed, serta lebih rendahnya perkiraan pertumbuhan ekonomi mitra dagang utama dapat berdampak pada kinerja ekspor dan iklim investasi di Provinsi Jambi.Di samping itu terdapat risiko yang bersifat upside risk yang dapat mendorong pertumbuhan ekonomi lebih tinggi dibandingkan proyeksi seperti lebih cepatnya pemulihan ekonomi India sebagai negara importir utama produk jambi serta potensi depresiasi mata uang Ringgit dan Yen yang digunakan dalam perdagangan CPO dan karet. ​

Inflasi Provinsi Jambi pada Triwulan I-2018 diperkirakan berada pada kisaran 1,89% - 2,29% (yoy), di bawah kisaran target inflasi nasional 2018 sebesar 3,5 ±1% (yoy). Inflasi pada Triwulan I-2018 utamanya disebabkan meningkatnya harga komoditas bahan makanan bergejolak (volatile food) setelah selesainya masa panen komoditas bahan makanan utama, meningkatnya harga administered price setelah kepastian penetapan kenaikan cukai rokok oleh pemerintah di tahun 2018, serta meningkatnya komoditas inti (core) akibat penyesuaian gaji dan pendapatan masyarakat pasca penetapan UMR tahun 2018 oleh pemerintah daerah. ​

Inflasi Provinsi Jambi pada tahun 2018 secara keseluruhan diperkirakan berada pada kisaran 3,42%-3,82% (yoy), lebih tinggi dibandingkan perkiraan inflasi tahun 2017 (1,21%-1,61% yoy). Inflasi tahun 2018 utamanya didorong kenaikan harga beberapa komoditas volatile food seperti daging ayam ras, cabai merah, bawang merah, komoditas administered price seperti rokok dan tarif angkutan udara, kenaikan harga komoditas inti seperti barang-barang kebutuhan rumah tangga (consumer goods) dan biaya pendidikan. ​

Ke depan, beberapa potensi risiko yang dapat menyebabkan tekanan inflasi yang lebih tinggi dari prakiraan (upside risk) antara lain menurunnya pasokan terutama yang didatangkan dari luar daerah, anomali cuaca yang dapat mengganggu hasil panen dan distribusinya ke pusat perdagangan, serta potensi peningkatan harga bahan bakar rumah tangga akibat perkiraan harga minyak dunia yang terus meningkat. Namun demikian, bertambahnya sentra produksi komoditas penyumbang inflasi berpotensi meningkatkan pasokan sehingga dapat menekan laju inflasi di bawah prakiraan (downside risk)./Rilis BI


Sumber Lengkap bisa dilihat melalui tautan ini: Kajian Ekonomi Regional

KOMENTAR DISQUS :

Top