Selasa, 25 Juni 2019 |
Hukum

Keluarga Ungkap Nama Korban Penembakan Selandia Baru

Sabtu, 16 Maret 2019 15:01:50 wib
Masjid Al Noor di Christchurch, New Zealand, pada 2014. (Foto: REUTERS/SNPA/Martin Hunter)

JAMBIDAILY INTERNASIONAL - Pihak Australia hingga hingga Sabtu (16/3) belum merilis identitas 49 korban penembakan di dua masjid di Christchurch, Selandia Baru yang terjadi pada Jumat (15/3). Meski begitu, berdasarkan keterangan pihak keluarga, ada satu nama yang diklaim sebagai salah satu korban, yaitu Haji Daoud Nabi.

CNN memberitakan, salah satu anak Daoud Nabi, Yama Nabi, mengabarkan kepada jurnalis di Christchurch bahwa ayahnya tewas dalam insiden tersebut.

Daoud Nabi imigrasi dari Afganishtan ke Selandia Baru bersama dua anak laki-lakinya sebagai pencari suaka pada 1977. Selama tinggal di New Zealand, Daoud Nabi memiliki tiga anak lagi, yakni dua orang anak laki-laki dan seorang anak perempuan.

Yama Nabi mengatakan telat 10 menit untuk salat Jumat di masjid tempat lokasi penembakan. Dia sampai saat penembakan sedang berlangsung. 

Selain Daoud Nabi, sejumlah warga Pakistan juga berada di dalam masjid. Seorang dokter dari Pakistan bernama Khurshid Alam mengatakan saudara laki-laki dia, Naeem Rashid (50), dan keponakan dia, Talha Rashid (21), termasuk di antara mereka yang ditembak.

Alam menyampaikan ia mendapat informasi dari seorang kolega yang mengonfirmasi kematian dari dua anggota keluarga tersebut.

"Dia [kolega Alam] sudah tujuh tahun di Selandia Baru, pekerjaannya mengajar di sebuah universitas. Keponakan saya masih sekolah di sana," kata Alam.

Brenton Tarrant, pria Australia yang melakukan penembakan di dua masjid Selandia Baru dihadirkan di pengadilan pada Sabtu (16/3). Usai menjalani sidang perdana, pelaku berusia 28 tahun tersebut dimasukkan dalam tahanan sampai jadwal pengadilan berikutnya pada 5 April 2019. 

Sementara itu Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern, bersumpah untuk mengetatkan dan menguatkan undang-undang senjata di negara tersebut. Mengutip AFP, Ardern menyampaikan Tarrant memperoleh lisensi senjata kategori A pada November 2017 lalu. 

Sebulan setelahnya dia membeli lima senjata lainnya yang digunakan dalam serangan di Christchurch. Senjata yang digunakan dalam penembakan tersebut dibeli secara legal dari sebuah gudang senjata.

"Kami sedang mengerjakan rangkaian rantai peristiwa yang mengarah pada kepemilikan dan lisensi senjata, undang-undang soal senjata akan kami ubah," ucap Ardern.


(fea)/cnnindonesia.com

KOMENTAR DISQUS :

Top