Sabtu, 20 Oktober 2018 |
Ekonomi

Kisah Dibalik Peluh Para Penarik Becak Kota Tungkal

Sabtu, 26 Maret 2016 11:17:15 wib
Becak Tungkal (ft gallerysusanthi.blogspot.com/google.co.id)

JAMBIDAILY EKONOMI-Hujan dan panas tidak membuat para penarik becak di kawasan Jalan Ki Hajar Dewantara(Siswa-Red) putus asa. Peluh membasahi tubuh seakan menjadi semangat untuk terus berjuang menafkahi keluarga.

Situasi sulit makin mendera, karena kenaikan sewa kepada para pemilik beca ditengah sepinya penumpang menjadi "pil pahit" untuk terus bersemangat mengumpulkan uang jasa yang hanya Rp 3 hingga 5 ribu per penumpang.

"Mau gimana lagi mas.  anak dan istri harus dihidupkan.  Untuk mendapatkan Rp 20 ribu perhari saja sulit,"ungkap Edo (43), saat dibincangi jambidaily.com, baru ini.

Kesulitan Dia dan penarik becak lainnya saat ini makin bertambah, karena banyaknya tukang ojek dan para warga yang telah memiliki kendaraan pribadi.

Hampir 20 tahunan sudah saya membecak.  Kalau dulunya banyak becak yang menjadi salah satu ikon kota ini.  Saat ini tinggal beberapa becak lagi yang masih aktif.  

“Penghasilan tidak menentu. Kadang-kadang dapat Rp 15 ribu  sampai Rp 30 ribu,” "turut Edo sembari mengelap keringat yang membasahi leher dan mukanya.

Edo hanya bisa pasrah. Ia tidak punya langganan tetap seperti pembecak lainnya. Ia mencari penumpang di Jalan Siswa tepatnya didepan salah satu hotel, menunggu penumpang berasal dari luar kota yang menginap di hotel tersebut.

Demi menghidupi isteri dan kedua anaknya dalam sebuah rumah kontrakan, setiap hari Edo harus keluar rumah pukul 05.00 usai subuh untuk mengadu peruntungan mengejar para ibu-ibu yang belanja ke pasar sebelum mangkal didepan hotel.

“Tapi kadang-kadang kita tidak dapat penumpang.  Sebagian besar ibu-ibu yang belanja di pasar sudah ada langganan atau membawa kendaraan sendiri.  Saat itu terpikir olehnya untuk mencoba pekerjaan lain.  Kalau ada kerja yang lain, mungkin saya pindah kerja yang bisa dapat penghasilan lumayan,”tambahnya.

Dia berharap, Pemerintah melakukan penertiban terhadap mobil-mobil tambang yang masuk kedalam kota yang sebelumnya berhenti di Terminal Pembengis.

"Kalau itu ditertibkan, dapat memberi kami peluang untuk menarik penumpang dari terminal ke pasar atau alamat yang dituju,"harapnya.

Sementara itu, Lay (45 Tahun) tukang becak yang biasa mangkal di Pelabuhan Ampera, mengatakan, menuturkan, penghasilan sebagai penarik becak sekarang ini bervariasi. Bisa juga dapat besar, itupun kalau musim kampanye calon Bupati  tiba,  soalnya becak kita dicatar dengan harga 50 ribu perhari, setelah itu kembali lagi dengan pendapatan 10 sampai 20 ribu per hari.

"Tapi berapapun pendapatan, saya merasa bersyukur saja. Mengingat sekarang ini mencari pekerjaan itu tidak gampang,"ujar Lay.(jambidaily.com/RZA)


Editor:Hery FR

KOMENTAR DISQUS :

Top