Selasa, 22 Mei 2018 |
Nasional

Luar Biasa..Lahan Warga 28 Desa di Merangin Diserobot PT GABC ???

Senin, 13 Juli 2015 17:40:09 wib
ilustrasi penguasaan lahan (copyright citizendaily.net)

JAMBIDAILY BANGKO-Keresahaan masyarakat di 28 desa dalam empat kecamatan di Kabupaten Merangin merasa resah karena dugaan penyerobotan lahan yang dilakukan PT Grand Asia Briliant China (PT GABC) belum ditangani serius oleh Pemkab Merangin dan aparat terkait.

Diketahui sejak tahun 2013 lalu, ternyata lahan milik warga yang seluas 19.200 hektar telah menjadi lahan perkebunana milik PT GABC. Meski selama ini tidak ada aktivitas perusahaan yang notabene akan berinvestasi di bidang perkebunan tersebut.

Mirisnya lagi, warga baru mengetahui jika lokasi lahan pribadi miliknya masuk menjadi lahan perusahaan tersebut setelah adanya pengukuran yang dilakukan oleh perusahaan perkebunan pada 2015.

Tidak itu saja, Surat Keputusan Bupati Merangin dengan Nomor 212/PEREKO & SDA/TAHUN 2013 tentang pemberian izin lokasi pembangunan perkebunan karet pola kemitraan kepada PT Grand Asia Briliant China di Kecamatan Tabir, Tabir Ilir dan Tabir Timur ini ditandatangani Bupati Merangin yang menjabat saat itu pada 3 Mei 2013.

Tetapi sayang, sampai kemarin (12/07) tidak ada satupun aktivitas yang dilakukan perusahaan tersebut. Alhasil, selain dinilai warga perusahaan sudah menyerobot lahan warga, warga juga menolak PT GABC dan meminta pemerintah dan pihak penegak hukum untuk mengusut tuntas kasus dugaan penyerobotan lahan warga ini.

“Sejak awal, kami tidak pernah diberitahu ataupun sosialisasi dari pihak PT itu, ketika akan masuk perusahan perkebunan milik BUMN, ternyata tanah kami sudah masuk dalam areal izin lokasi PT GABC. Jelas kami resah, perkebunan mereka diatas tanah orang lain."

"Kami minta pihak penegak hukum dan Pemerintah mencabut izin PT itu dan menindaklanjuti kasus ini,”tegas salah satu tokoh Masyarakat Kampung Baru, Muhamad Fuadi,"Senin (13/07).

Tidak itu saja, terkait kasus dugaan penyerobotan lahan milik warga ini, para tokoh masyarakat dan warga menilai ada yang tidak beres dalam pemberian izin PT GABC di Merangin.

“Ini kuat dugaan ada yang menyimpang dalam pemberian izin lokasi perusahaan itu, kami minta diusut kasus ini. Kami hanya mempertahankan hak kami, dan kami minta Bupati mencabut izin PT GABC dari lahan kami. Sebab kami tidak pernah menyetujui lahan kami masuk ke lahan perusahan itu.  Seluruh warga yang lahannya diketahui masuk milik PT GABC menolak."

“Tidak ada kata lain, kami sudah menolak. Ini tipu muslihat jual beli izin di Merangin, masyarakat tidak tahu, malah keluar izin. Kita tegakan hak yang kita punya.Kok pemerintah berani keluarkan izin tanpa sosialisasi ke masyarakat. Jika beberapa hari setelah lebaran tidak ada titik terang, kami akan menggelar  demo kepihak-pihak terkait,” tegasnya didampingi sejumlah tokoh masyarakat dari desa lainnya.

Sementara itu, Kades Lubuk Bumbun Syamsul, mengatakan, izin PT GABC menjadi kendala masyarakat saat ada pra investasi dari PTPN. Ketika itu, masyarakat heran ketika pra pengukuran baru tahu jika Lubuk Bumbun masuk dalam lokasi PT GABC tanpa sepengetahuan warga. Gara-gara PT itu warga resah.

“Hal ini sudah kami sampaikan ke Bupati, Bupati sudah mendisposisi pihak terkait. Tapi sampai saat ini belum ada solusi. Dan kami menolak PT GAB. Kami minta cabut izinnya. Suasana sudah keruh kok PT itu baru masuk, selama tiga tahun tidak ada beraktivitas, ini soal menyelamatkan hak masyarakat banyak bukan menjebak atau menjerumuskan orang,” tegasnya.

Hal senada juga diungkapkan Tokoh Masyarakat Desa Ulak Makam Mubarok. Dia menyebutkan saat ini masyarakat Desa Ulak Makam yang tanahnya masuk dalam wilayah izin PT GABC menolak sepenuhnya. Masyarakat takut kebun miliknya diambil perusahaan.

“Itu lahan pribadi masyarakat dan Hutan Rakyat. Masyarakat yang nanam nanti perusahaan yang ambil hasilnya. Kami minta cabut izin lahan PT GABC ini, tidak ada kata lain,” tegasnya.

Hingga berita ini diturunkan belum ada klarifikasi dari Pemkab Merangin dan PT GBAC terkait keresahan warga tersebut.(jambidaily.com/NZR)

KOMENTAR DISQUS :

Top