Sabtu, 25 Januari 2020 |
Wisata & Budaya

Lubuk Larangan, Budaya Pelestarian Sungai di Jambi

Selasa, 02 Juni 2015 17:29:33 wib
ilustrasi.google.co.id

JAMBIDAILY BUDAYA-Budaya pembuatan lubuk larangan yang saat ini masih dilakukan di sejumlah daerah Kabupaten dalam Provinsi Jambi, perlu terus digalakkan sebagai upaya pelestarian sungai ditengah berbagai ancaman pencemaran.

Dengan budaya penetapan lubuk larangan, akan terjaga kebersihan dan kesehatan sungai serta lingkungan setempat.

"Kepatuhan masyarakat dari sisi adat dalam melestarikan lubuk larangan, Itu luar biasa  dan perlu terus dilestarikan,"ungkap Gubernur Jambi, H.Hasan Basri Agus (HBA), meng-apresiasi dan menghimbau masyarakat Desa Tanjung Gagak untuk terus melestarikan lubuk larangan, saat Pembukaan Panen Raya Lubuk Larangan Lubuk Rengas Tanggo Seliku di Desa Tanjung Gagak, Kecamatan Bathin VIII, Kabupaten Sarolangun, Senin (01/06) sore.

Gubernur menyatakan, lubuk larangan paling banyak di Provinsi Jambi adalah di Kabupaten Merangin dan Bungo, dan pemerintah sangat mendukung keberadaan lubuk larangan, untuk kepentingan ekonomi dan lingkungan hidup bagi masyarat.

"Pemerintah bukan hanya sekedar memanen, tapi juga menebar bibit ikan. Mudah-mudahan hasil ikannya banyak," ujar gubernur.

Bupati Sarolangun, H.Cek Endra, dalam sambutannya menyatakan, masyarakat Desa Tanjung Gagak kompak, untuk menjaga lubuk larangan, dan tidak ada yang panen duluan.

"Mudah-mudahan dengan pelestarian lubuk larangan, kita bisa melawan PETI. Mudah-mudahan panen hari ini memotivasi kita untuk melestarikan sungai," ujar Cek Endra.

Kepala Desa Tanjung Gagak, Ahmad, dalam laporannya menyampaikan, Lubuk Larangan Lubuk Rengas Tanggo Seliku ditetapkan pada 21 Oktober 2011, dengan penaburan bibit pertama 20 ribu ekor, bermacam-macam ikan.

Ahmad mengatakan, pembinaan dari pemerintah terhadap lubuk larangam yaitu kawasan konservasi yang lokasinya berdampingan dengan lubuk larangan.

"Sampai tahun 2015 sudah ditebarkan 65 ribu bibit ikan," kata Ahmad.

Ahmad menuturkan, larangan dalam lubuk larangan ini, selain peraturan pemerintah ada aturan adat. "Selain itu, ada pos jaga, patroli, dan shelter di seberang Sungai Tembesi," ujar Ahmad.

Ahmad juga mengatakan bahwa lubuk larangan Lubuk Rengas Tanggo Seliku sudah beberapa kali meraih penghargaan, baik dalam lomba tingkat Kabupaten Sarolangun maupun dalam lomba tingkat Provinsi Jambi.

Ahmad mengungkapkan, dari tahun 2013, lubuk larangan tersebut belum pernah dipanen, dan Hasil panen tahun Juni 2014 ini diprediksi kurang lebih 1 ton.

Setelah penyampaian sambutan-sambutan, Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Provinsi Jambi, H.Saifuddin menunjukkan ikan yang didapat pertama yang ditangkap dari lubuk larangan tersebut, dengan berat 8,5 Kg.

Menurut penjelasan Saifuddin, ikan tersebut belum ada namanya, dan stafnya juga tidak mengetahui ikan apa ikan itu, maka Saifuddin minta ditetapkan nama ikan tersebut.

Dengan kesepakatan para tokoh yang hadir, maka ikan tersebut dinamai ikan HBA. Ikan HBA itu kemudian dilelang dengan harga akhir Rp4 juta, yang dimenangkan oleh Hilal, anggota DPRD Provinsi Jambi Dapil Sarolangun dari Partai PDI P. Uang hasil lelang ikan tersebut diserahkan kepada kelompok pengelola lubuk larangan.

Turut hadir dalam acara tersebut, Wakil Bupati Sarolangun, H.Pahrul Rozi, Sekda Kabupaten Sarolangun, Anggota DPRD Provinsi Jambi Dapil Sarolangun, Nasri Umar, serta para undangan lainnya.(jambidaily.com/HMS/MUS)

 

Editor: Hery FR

KOMENTAR DISQUS :

Top