Minggu, 19 Agustus 2018 |
Wisata & Budaya

Malam ini Blackout Munir Persembahan Teater Payung Hitam di TBJ

Sabtu, 21 April 2018 15:01:11 wib
Blackout Munir/Foto: photo.sindonews.com

JAMBIDAILY SENI, Budaya - Teater Payung Hitam Bandung mempersembahkan "Blackout Munir" Karya/sutradara Rachman Sabur (Sabtu,21/04/2018) Malam ini, Pukul: 19.30 wib di Gedung Arena, Taman Budaya Jambi.

Didin Sirojuddin,S.Sn kepala TBJ UPTD Dinas Kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jambi menuturkan bahwa Pementasan Teater dalam rangkaian PALAMJAMBE tersebut terbuka secara umum dan gratis bagi penonton.

"iya, nanti malam ada teater payung hitam asal Bandung, terbuka secara umum dan TBJ tidak memungut bayaran bagi para penonton," Jelas Didin kepada jambidaily.com.

Blackout Munir berdasarkan penelusuran jambidaily.com melalui jejaring internet pernah dipergelarkan pada Agustus 2017 tahun lalu di Institut Kesenian Jakarta, Kompleks Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Berikut ulasan Jawa Pos dari laman www.pressreader.com (diakses pada Sabtu, 21 April 2018, Sekira Pukul: 14.37 Wib) Ulasan Dibawah ini Telah Tayang di Koran Jawa Pos dengan Judul: "Munir dan Blackout" Tanggal: 13 Agustus 2017, Ditulis Oleh HENDROMASTO PRASETYO

PADA 10 Juli lalu Mahkamah Agung menolak upaya kasasi yang ditempuh Kontras (Komisi untuk Orang Hilang dan Korban Tindak Kekerasan) terkait hilangnya dokumen tim pencari fakta pembunuhan Munir. Di hari yang sama, kasus Munir hadir dalam pertunjukan bertajuk Blackout oleh Teater Payung Hitam (Bandung).

Pertunjukan berdurasi 30 menit di Teater Luwes tersebut menjadi bagian dari PostFest 2017 yang digelar program Pascasarjana Institut Kesenian Jakarta (IKJ) hingga 11 Agustus 2017. Rahman Sabur, sutradara Teater Payung Hitam, menyebut Blackout adalah karya yang didesain untuk terus berkembang. Ia tidak berupa karya yang telah selesai.

Rencananya Blackout dipentaskan lagi di Malang pada 7 September 2017 bertepatan dengan 13 tahun meninggalnya Munir dan 12 Desember 2017 di Bandung dalam peringatan 35 tahun Teater Payung Hitam. Sebagai karya yang terus berkembang, Blackout dengan sendirinya akan terus berubah pada pementasan-pementasan berikutnya.

Menurut Babe –sapaan Rahman Sabur– perubahan Blackout setelah pentas perdananya akan sangat bergantung pada respons Teater Payung Hitam terhadap situasi Indonesia nanti.

Sejak mula Blackout disiapkan sebagai karya yang kontekstual seturut situasi terkini di sekitarnya. Tentu saja selalu ada subjektivitas terkait pilihan situasi macam apa yang akan hadir dalam Blackout. Boleh jadi situasi itu tak akan jauh-jauh dari soal pedihnya ketidakadilan, ketidakberdayaan, dan keterbatasan seperti yang tampak pada banyak karya Teater Payung Hitam selama ini.

Tidak ada yang salah dengan pilihan-pilihan semacam itu. Sebaliknya, pilihan yang sekilas pesimistis melulu tersebut justru menjadi pengingat pentingnya kepekaan dan empati terhadap kenyataan lain di sekitar rupa-rupa kebebasan kini. Pementasan perdana Blackout sudah menunjukkan hal itu. Ia mengingatkan di masa yang konon demokratis kini masih ada ketidakadilan berupa gelapnya kasus pembunuhan terhadap pejuang hak asasi manusia bernama Munir. Bukankah hal yang sama bisa saja terjadi pada siapa pun?

Blackout dibuka dengan rekaman suara Suciwati yang menyampaikan perkembangan tak berarti kasus pembunuhan terhadap suaminya, Munir. Melalui sebuah pengeras suara, Suciwati mengingatkan para penonton Blackout bahwa hingga kini fakta di balik tewasnya Munir masih jauh dari terang. Di sela pemutaran rekaman itu, muncul seorang pemain yang membawa sebatang lilin menyala. Ia bergerak mengitari panggung mengandalkan lidah api mungil seolah mencari sesuatu.

Blackout kemudian disambung dengan kemunculan pemain lain yang berdiri di belakang sebuah drum besi. Ia tampak sibuk membersihkan sepasang sepatu butut berdebu. Lalu, muncul lagi pemain dengan mata tertutup kain serupa Themis, dewi keadilan, yang kerap diasosiasikan sebagai simbol tegaknya hukum. Sosok bermata tertutup itu berjalan tertatih sebelum lunglai setelah dua tangannya dicengkeram kuat oleh lelaki pengelap sepatu.

Cengkeraman kuat itu memudahkannya mengatur gerakan pemain bermata tertutup. Mulai menggerakkannya mengikuti langkah, mencampakkannya ke dalam drum, hingga menyampirkannya pada sebuah bingkai foto di sisi kanan panggung yang tergantung di atas serakan berkas-berkas dokumen. Di sela adegan tersebut, si lelaki pembawa lilin kembali muncul dengan gerak tubuh yang sama, mencaricari sesuatu. Di sepanjang adegan tersebut, muncul rekaman suara almarhum Munir saat menjelaskan kasus penculikan 98.

Pada bagian ini, rasanya tak sulit membaca metafora tubuh-tubuh dalam Blackout. Lelaki pemegang lilin bisa ditafsirkan sebagai para pencari keadilan di tengah kegelapan. Lalu, pemain bermata tertutup adalah keadilan yang gelap, sementara lelaki pengelap sepatu butut dan satu sosok berkostum sama lainnya adalah ’’kekuatan’’ yang membersihkan jejak (kasus) dengan kemampuan mencengkeram hukum, lalu memain-mainkannya sekehendak hati.

Ketiganya sangat terhubung dengan situasi terkini di sekitar kasus pembunuhan Munir. Bukankah para pencari keadilan kasus ini masih terus berupaya sekuat tenaga dalam keterbatasannya? Bukankah hukum yang mestinya tegak demi keadilan justru terkesan dibiarkan lunglai tanpa daya? Tanpa perlu drama kata-kata, Blackout edisi perdana dengan jelas merefleksikan perkembangan kasus pembunuhan aktivis HAM yang sempat menyedot perhatian dunia internasional itu.

Bisa saja tafsir atas metafora tubuh-tubuh dalam Blackout di atas salah. Bisa pula tubuh-tubuh dalam Blackout dianggap terlalu verbal. Namun, sebagai sebuah lakon yang diolah dalam jalan teater tubuh, Blackout senyatanya menyuguhkan ketegangan dan kejutan oleh sebab gerak tubuh para pemain pada setiap adegannya. Seperti ketegangan menunggu jawaban terang kasus pembunuhan Munir dan munculnya kejutan berupa gagalnya kasasi mencari dokumen TPF di Mahkamah Agung.

Sebagai sebuah karya yang belum selesai, Blackout edisi selanjutnya patut untuk terus diikuti. Semoga Blackout berikutnya tetap kontekstual dan mampu menjadi refleksi yang menggugah tanpa harus dijejali riuh kata-kata. (*) Ditulis oleh Hendromasto Prasetyo, pemerhati seni budaya, tinggal di Jakarta.

 

(Hendry Noesae)

 


Berita Terkait:
Selain Workshop Teater yang Hadirkan Iman Soleh, Ada Juga Lomba Mural di TBJ
Malam Ini Pameran Seni Rupa PALAMJAMBE dibuka
Ayooo ke TBJ Ada PALAMJAMBE, Teater AiR dan Sekintang Dayo

KOMENTAR DISQUS :

Top