Jumat, 17 Agustus 2018 |
Pendidikan & Teknologi

Masih layakkah Kota Jambi jadi Ibukota Provinsi, Seperti apa wajahnya,?

Rabu, 23 Agustus 2017 13:07:19 wib
Bahren Nurdin/Photo: ist/Facebook @Bahren Nurdin Motivator

JAMBIDAILY OPINI/PENDIDIKAN-Bahren Nurdin, MA seorang Akademisi UIN STS dan Pengamat Sosial Jambi, melalui Akun Media Sosial Facebook miliknya, pada, Selasa (23/08) Sekira Pukul 14.08 WIB. Menulis Opini yang berjudul "MENGGAGAS PEMINDAHAN IBU KOTA PROVINSI JAMBI (1)"

Apa kata Bahren, berikut isinya: 

Andai saya bertanya kepada Anda sebagai masyarakat Provinsi Jambi, ‘setujukah jika Ibu Kota Provinsi Jambi dipindah ke Kabupaten Bungo?”. Mmmm…ada yang sewot dan ada yang tersenyum. Sebagian besar masyarakat Kota Jambi dipastikan akan berkata, “tidak!”. Sementara masyaraka Kabupaten Bungo akan angguk-angguk tanda setuju.

Baiklah, gagasan ini tidak berangkat dari isu kedaerahan (geografis). Saya sendiri berasal dari Tebo, Ber-KTP Ma. Jambi dan banyak melakukan aktivitas di Kota Jambi. Jadi cukup fair saya rasa bahwa saya tidak sedang menganggkat isu ini pada perspektif wilayah.

Melalui artikel singkat ini saya ingin mengajak masyarakat Jambi melihat persoalan ini dengan paradigma masa depan (futuristic). Mari kita berbicara tentang masa depan Jambi 10 hingga 50 tahun mendatang. Maka salah satu cara melihat masa depan Jambi itu dimulai dengan membincangkan ibu kota.

Pertanyaanya sederhana, masih layakkah Kota Jambi menjadi Ibu Kota Provinsi Jambi 10 hingga 50 tahun mendatang? Seperti apa wajah Kota Jambi saat itu?

Lihatlah fakta yang sedang terajadi saat ini. Dengan tidak menfikan pembangunan yang dilakukan pemerintah, paling tidak lima tahun terakhir Kota Jambi sudah semakin 'bising' dan ‘sumpek’. Kita ambil contoh masalah paling umum yang terjadi di daerah perkotaan yaitu, macet dan banjir. Rasanya tidak ada yang akan membantah bahwa saat ini kemaceten sudah mengintai di berbagai sudut Kota Jambi. Pada jam-jam tertentu kemacetan makin menggila khususnya di tempat-tempat umum seperti sekolah, universitas, mall, pasar, dan lain-lain.

Begitu juga dengan banjir yang setiap saat menghantui masyarkat Kota Jambi. Pembanguan perumahan yang tidak terkendali dengan baik dan pembuatan drainase yang tidak sesuai dengan pertumbuhan bangungan ditengarai menjadi penyebab banjir yang setiap saat bisa terjadi. Hanya diguyur hujan beberapa jam saja, masyarakat sudah bisa mandi di ‘kolam renang’ gratis.

Belum lagi berbicara persoalan kriminalitas, pengangguran dan kemiskinan penduduk urban yang semakin nyata. Jangan hanya liat data-data statistic di atas meja, tapi lihat dengan mata kepala di lapangan. Pemerintah boleh saja meng-kalaim peningkatan dan penurunan ini dan itu, tapi fakta di lapangan tidak bisa ditutupi.

Bebarapa persoalan ini sesungguhnya hanya sebagian kecil dari sekian banyak hal yang bisa dijadikan pijakan untuk mulai menggagas pemindahan ibu kota provinsi ini ke Kabupaten Bungo? Gagasan ini sekali lagi demi masa depan Jambi. Sebelum semuanya terlambat seperti macet makin menggila, banjir tidak bisa dikendalikan lagi, kriminal dan kemisikinan menghantui setiap manusia yang hidup di kota ini.

Sebelum semuanya terlambat, sudah selayaknya mulai sekarang memikirkan yang terbaik bagi masyarakat. Urbanisasi tentu tidak bisa dihadang begitu saja. Maka hal yang tepat adalah dengan memindahkan ibu kota dari Kota Jambi. Selanjutnya, Kota Jambi bisa dijadikan kota jasa dan industry seperti yang didengungkan oleh pemerintah saat ini.

 

Bagaimana menurut anda, warga Jambi,?


(Hendry Noesase)

KOMENTAR DISQUS :

Top