Rabu, 08 April 2020 |
Suaro Wargo

Melirik Nisbah Mudharabah Dalam Islam

Senin, 12 November 2018 17:17:18 wib
ilustrasi

JAMBIDAILY SUAROWARGO - Seperti yang sudah kita ketahui, dalam Islam tidak mengajarkan adanya sistem bunga  dalam segala jenis usaha, baik dalam aktivitas perdagangan maupun jasa perbankan. Bunga dianggap sebagai bagian dari riba dan haram dalam agama Islam. Dalam menjalankan  aktivitas tersebut, Islam mengenal adanya nisbah atau bagi hasil. Menariknya, sistem nisbah memfokuskan pada bagi hasil yang sama rata antara kedua belah pihak.

Bila ekonomi sedang mengalami penurunan, maka jumlah bagi hasil pun ikut menurun. Begitu pula sebaliknya, ketika perekonomian meningkat maka bagi hasil pun akan ikut meningkat. Nisbah tersebut diatur ke dalam  empat jenis akad/kerja sama, salah satunya akad Mudharabah yang pada akhirnya mengarah pada keuntungan mudharib. 

Berikut akan dibahas mengenai akad Mudharabah dan bagaimana sistem bagi hasilnya

Akad merupakan dasar yang membedakan prinsip syariah dengan prinsip nonsyariah. Akad adalah perjanjian atau kesepakatan antara kedua belah pihak antara pemilik dan pembeli. Salah satu jenis akad yaitu akad Mudharabah. Akad Mudharabah menurut Hakim (2012:104)merupakan kontrak yang melibatkan dua kelompok, yaitu pemilik modal (investor) yang mempercayakan modalnya kepada pengelola (mudharib) untuk digunakan dalam aktivitas perdagangan. Dengan kata lain mudharabah adalah akad yang dilakukan antara pemilik modal (shahibulmal) dengan pengelola (mudharib).

Dalam kerjasama ini, shahibulmal memberikan dana seluruhnya kepada pengelola untuk mengelolanya dan keuntungan dari usaha tersebut dibagi menurut kesepakatan kedua belah pihak di awal. Apabila terjadi kerugian akan ditanggung oleh si pemilik modal (shahibulmal) selama kerugian tersebut bukan akibat kelalaian dari si pengelola. Seandainya si pengelola yang mengakibatkan kerugian tersebut, maka si pengelola yang harus bertanggung jawab atas kerugian tersebut. Hal tersebut sesuai dengan prinsip syariah dimana sistem bagi hasil yang diterapkan melibatkan kepada kedua belah pihak yaitu mereka bersama-sama menanggung resiko yang ada.

Akad Mudharabah menurut PSAK 105 dalam Wasilah (2008:114) dibagi ke dalam 3 jenis yaitu:

Mudharabah Mutlaqah
Mudharabah Mutlaqah adalah bentuk kerjasama dimana pemilik dana memberikan kewenangan penuh kepada pengelola untuk menggunakan dana tersebut dalam usaha yang dianggap baik dan menguntungkan sesuai dengan prinsip syariah Islam. Maksudnya, shahibulmal tidak memberikan batasan usaha, waktu yang diperlukan, strategi pemasaran, dan wilayah usaha yang dilakukan.

Mudharabah Muqayyadah
Mudharabah Muqayyadah adalah bentuk kerjasama dimana pemilik dana (shahibulmal) menentukan syarat dan pembatasan kepada pengelola (mudharib) dalam penggunaan dana tersebut dengan jangka waktu, tempat dan cara, dan jenis usaha tersebut. Dalam aplikasi bank syariah, bentuk kerjasama ini ditawarkan dalam bentuk tabungan dan deposito.

Mudharabah Musytarakah
Mudharabah Musytarakah merupakan gabungan antara akad Mudharabah dan Musyarakah, yaitu tidak hanya pemilik dana yang memberikan modalnya tetapi pengelola dana juga turut menyertakan modalnya dalam kerja sama investasi.

Aturan nisbah ini dilakukan dengan dua pendekatan. Pertama, hasil investasi dibagi antara pengelola dana dan pemilik dana sesuai nisbah yang disepakati, kemudian bagi hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana tersebut dibagi antara pengelola dana  dengan pemilik dana sesuai porsi modal masing-masing. Kedua, hasil investasi dibagi antara pengelola dana dan pemilik dana sesuai porsi modal masing-masing, kemudian  bagi hasil investasi setelah dikurangi untuk pengelola dana tersebut dibagi antara pengelola dana dengan pemilik dana sesuai dengan nisbah yang telah disepakati. Apabila terjadi kerugian, maka kerugian dibagi sesuai porsi modal antara kedua belah pihak.

Kesimpulan
Dapat diambil kesimpulan bahwasannya mudharabah merupakan gabungan dari kerja sama antara investor dengan pihak mudharib (pengelola). Seperti yang kita ketahui dalam setiap menjalani aktivitas bisnis tujuan utamanya adalah untuk mendapatkan keuntungan sama seperti mudharabah. Keuntungsan  hanya diperuntukkan untuk kedua pihak yang bekerja sama yaitu pihak investor dan pihak mudharib,keuntungan yang diketahui secara jelas.Dan dalam mudharabah diperbolehkan membagi hasil keuntungan dengan persentase yang telah disepakati investor dan pengelola,sedangkan batasan persentase keuntungan tidak ada batasannya.

Dan diharapkan kerja sama antara investor dan mudharib (pengelola) dapat berjalan dengan baik supaya tidak terjadi kelalaian dan kesalahan yang disengaja, dan penyembunyian keuntungan oleh pihak nasabah bila nasabah tidak jujur.

 


...

Ditulis Oleh:
- Lycia Aprilia S
- Lilik Alfia
- Tika Suratmi
- Handi Wijaya

Mahasiswa Akuntansi/Fakultas Ekonomi dan Bisnis
Universitas Negeri Jambi
 

 

 
 
*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top