Jumat, 25 Mei 2018 |
Suaro Wargo

Melisa: Sejarah Ikhsaniyyah yang Merupakan Masjid Tertua di kota Jambi

Kamis, 17 Mei 2018 21:49:17 wib
Masjid Ikhsaniyyah/Foto: id.wikipedia.org

JAMBIDAILY SUARO WARGO - Jambi pernah menjadi salah satu pusat Kesultanan Melayu Islam di Sumatera. Masjid Jami' Al-Ikhsaniyah menjadi salah satu bukti kejayaan Islam di Jambi. Masjid tertua di Jambi ini sempat dianggap keramat karena tradisi sumpahnya.

Masjid yang juga dikenal dengan nama Masjid Batu ini terletak di kawasan paling bersejarah di Jambi. Lokasinya berada di Jalan KH Ibrahim, RT 05, Kelurahan Olak Kemang, Kecamatan Danau Teluk, Seberang Kota Jambi. Untuk menuju bangunan suci bercat putih ini, pengunjung terlebih dahulu harus menyeberangi sungai terpanjang di Sumatera, yaitu Sungai Batanghari.

Masjid ini didirikan pada tahun 1880 oleh seorang habib bernama Sayyid Idrus bin Hasan Al-Jufri. Sayyid Idrus adalah sultan atau raja yang berkuasa di daerah itu pada dekade akhir abad ke-19 dengan gelar Pangeran Wiro Kusumo. Masjid Batu ini didirikan Sayyid Idrus untuk memenuhi fungsi tempat ibadah bagi masyarakat seberang kota Jambi.

Bangunan dalam masjid dipenuhi dengan hiasan kaligrafi berbagai rupa. Mimbar asli berdiri anggun di sisi kanan mihrab. Sementara beduk peninggalan terdahulu berada di bagian belakang ruang sholat. Ciri mencolok dari masjid ini adalah banyaknya jendela-jendela yang berpasangan mengelilingi masjid. Hanya tembok mihrab yang tak berjendela.

Masjid ini juga terkenal dengan tradisi sumpah. Sekitar tahun 60-an, masjid Ikhsaniyyah merupakan tempat orang menyelesaikan sengketa. Jika ada orang berselisih perihal kepemilikan tanah, tuduhan mencuri, dan lain sebagainya orang akan membawa perkara itu ke masjid dan mengambil sumpah dengan disaksikan para pendudk dan pemuka agama. Menurut Habib Salim, pengurus masjid, bahwa diyakini masjid memiliki keramat tersendiri karena jika ada yang berani bersumpah palsu di dalamnya, maka dia akan mengalami balak/Musibah atau hal lainnya. Sehingga pada masa itu Masjid Batu amat masyhur dan tak ada seorang pun yang berani mengambil risiko bersumpah palsu di dalamnya. Banyak orang-orang yang berdusta, yang awalnya berani bersumpah di dalamnya. Namun, setelah sampai mereka tak berani dan mengakui perbuatannya. Jika ada yang bersalah dan tak mengakui perbuatannya sampai diambil sumpahnya, orang itu akan menggelepar tak sadarkan diri. Dan jika ia sudah sadar biasanya orang yang bersalah itu akan mengakui perbuatannya.Namun sayang, tradisi itu sudah hilang sama sekali. Tak ada lagi orang yang menjadikan masjid itu sebagai sarana mempertemukan kebenaran dan mencari keadilan. Tradisi sumpah itu mulai terlupakan, hanya kalangan tua saja yang mengetahui kisah tersebut.

Pada tahun-tahun awal abad ke-20, perkembangan Islam di Jambi maju pesat. Hal ini seiring dengan majunya pendidikan yang ditandai dengan berdirinya empat pesantren utama, yaitu Pesantren Nurul Iman, Pesantren Saadad Daarain, Pesantren Jauharain, dan Pesantren Nurul Islam. Keadaan ini membuat kesadaran keislaman penduduk semakin mengkristal dan menjadikan kawasan seberang kota Jambi banyak didatangi orang dari berbagai daerah untuk belajar.

Keadaan ini tentu saja berpengaruh bagi Masjid Batu. Makin lama jamaah masjid itu semakin penuh hingga akhirnya tak lagi mampu menampung jamaah yang terus membludak, terlebih pada Sholat Jum’at. Maka tokoh-tokoh masyarakat lalu menggelar musyawarah dan bermufakat untuk memperbaharui masjid. Disepakati dana pembangunan masjid dikumpulkan dari sedekah dan infaq masyarakat sampai akhirnya terkumpul dana yang cukup untuk memugar masjid. Saat itu tahun menunjukkan angka 1935. Karena berada di bawah kekuasaan kolonial Belanda, para tokoh masyarakat meminta izin kepada Belanda. Lalu masuklah permohonan pemugaran masjid ke pemerintah Belanda yang ada di Jambi dengan menceritakan latar belakang dan sejarah berdirinya masjid.

Hal tersebut membuat Belanda tahu bahwa Masjid Batu merupakan peninggalan Sayyid Idrus yaitu salah seorang sultan Jambi yang bergelar Pangeran Wiro Kusumo. Karena menganggap bahwa masjid tersebut bernilai sejarah sebagai masjid sultan, tahun 1937 pihak kolonial mengambil alih pembangunan masjid. Dana pun turun dari pihak kolonial dan pembangunan sepenuhnya berada dalam pengendalian Belanda. Padahal awalnya para tokoh masyarakat hanya perlu izin karena dana sudah tersedia. Jadilah dana dari masyarakat itu tidak terpakai yang akhirnya digunakan untuk membuat pagar mengelilingi masjid. (*)

 

...

Ditulis Oleh

Nama: Melisa
Universitas Islam negeri Sulthan tahaha Saifuddin Jambi
Fakultas: ekonomi dan bisnis Islam
Jurusan: ekonomi syariah

 

 

*isi/sumber/referensi dari Artikel sepenuhnya menjadi tanggung jawab Penulis

KOMENTAR DISQUS :

Top