Senin, 10 Desember 2018 |
Jurnal Publik

Mempertegas Komitmen Dan Optimisme Kemaritiman Pantai Timur Sumatra

Kamis, 05 April 2018 22:19:37 wib

Mempertegas Komitmen Dan Optimisme Kemaritiman Pantai Timur Sumatra (Hasil Seminar Kemaritiman)
Oleh Agus Sumantri SHI, MH* 

JURNAL PUBLIK - Indonesia merupakan negara maritim yang memiliki wilyah perairan laut hampir 70%. Panjang garis pantai indonesia mencapai 81.000 km dengan luasan laut 3,1 juta km2(1) kekayaan tersebut memberikan peluang dalam pengembangan sektor kemaritman dan kelautan tetapi tidak sedikit menyisakan permasalahan klasik diantaranya ilegal fishing, penambangan lepas pantai, belum optimalnya pengelolaan senumberdaya hayati laut, maupun tata kelola pariwisata yang belum berbasis ekologi.

Mengutip teori alfred Thayer Mahan, seorang perwira tinggi angkatan laut amerika serikat, dalam bukunya “the influence of sea power upon history” Mengemukakan teori bahwa sea power merupakan unsur terpenting bagi kemajuan dan kekayaan dan kejayaan suatu negara, yang mana jika kekuatan- kekuatan laut tersebut diberdayakan, maka akan meningalkan kesejahteraan dan keamanan suatu negara. Sebaliknya, jika kekuata- kekauatan laut tersebut diabaikan akan berakibat kerugian bagi suatu negara atau bahkan meruntuhkan negara tersebut.

Seminar kemaritiman yang digagas oleh Komunitas Sosial Alumni Menwa, TNI AL dan Pemerintah kabupaten tanjung jabung barat dengan tema ”potensi patai timur sumatera menjadi poros martim dunia”.

Dengan menghadirkan pembicara salah satunya Agung pamujo dari perum perindo sebagai wakil BUMN Perikanan Mengungkapakan peluang ekspor komoditas perikanan dari kawasan timur sumatera, perindo memiliki kontrak ekspor bernilai ratusan miliar rupiah dengan jenis ikan yang ada disini. karena itu, perum perindo siap ambil peran sebagai offtaker ikan- ikan nelayan pantai timur sumatera”.

Sementara Salman Dianda Anwar dari bossowa “kami dari dunia usaha menyambut baik langkah pemkab tanjung jabung barat yang visioner dan perlu didukung penuh”.

Dr sapta dari KKP menambahkan pembahasan penegembangan pantai timur sumatera sebenarnya sudah dimulai sejak beberapa tahun lalu, apalagi akan dikordinir langsung oelh kemenko maritim”.

Paparan pemateri Ini sedikit memberikan titik terang dalam strarting pengelolaan kemaritiman di wilayah pantai timur sumatra khususnya Tanjung Jabung Barat.

Tanjung jabung barat termasuk dalam wilayah pengelolaan perikanan (WPP) 711, yaitu laut natuna, selat karimata, dan laut china selatan. Yang mana wilyah ini, tergolong dalam perairan yang memiliki potensi ikan sangat besar, maka daerah ini perlu di optimalkan pengelolaan kemaritimannya, mengingat sektor tersebut pun dapat menunjang pertumbuhan ekonomi masyrakat. 

Bupati Tanjung Jabung barat safrial menegaskan bahwa perlu adanya connectivity dengan mengintegrasikan wilayah terdekat serta memperkuat visi, ide dan strategi yang matang untuk memajukan pembangunan sektor kemaritiman.


Pentingnya Laut dalam Perspektif Pembangunan Nasional

Dalam forum Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) Rio+20 di Brasil yang membahas pembangunan berkelanjutan dengan mengedepankan keseimbangan antara upaya meningkatkan pertumbuhan global dan pembangunan berwawasan lingkungan atau dikenal dengan pendekatan ekonomi hijau (Green Economy) di mana laut menjadi bagian integral untuk tujuan pembangunan yang berkelanjutan tersebut (Sustainable Development Goals). Dengan demikian, secara eksplisit telah mengarahkan konsep ekonomi biru sebagai grand design pembangunan kelautan nasional di masa depan (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2012).

Laut sebagai anugerah Tuhan Yang Maha Esa harusnya dapat dijadikan sebagai salah satu pilar utama untuk membantu mengakselerasi terwujudnya kemakmuran dan kejayaan bangsa Indonesia. Laut bagi NKRI juga memiliki makna dan fungsi yang sangat strategis, yaitu laut sebagai: (1) wilayah kedaulatan bangsa, (2) lingkungan dan sumberdaya, (3) media kontak sosial, ekonomi, dan budaya, (4) geostrategi, geopolitik, geokultural, dan geoekonomi negara, dan (5) sumber dan media penyebar bencana alam.

Kelautan Indonesia kedepan diharapkan dapat menjadi arus utama mainstream (arus utama) pembangunan nasional dengan memanfaatkan ekosistem perairan laut beserta segenap sumberdaya yang terkandung di dalamnya secara berkelanjutan (on a sustainable basis) untuk kesatuan, kemajuan dan kesejahteraan bangsa. Keinginan tersebut dijabarkan dalam lima tujuan yang harus dicapai, yaitu: (1) Membangun jaringan sarana dan prasarana sebagai perekat semua pulau dan kepulauan Indonesia, (2) Meningkatkan dan menguatkan sumber daya manusia di bidang kelautan yang didukung oleh pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi (3) Menetapkan wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia, aset-aset, dan hal-hal yang terkait dalam kerangka pertahanan negara, (4) Membangun ekonomi kelautan secara terpadu dengan mengoptimalkan pemanfaatan sumber kekayaan laut secara berkelanjutan, dan (5) Mengurangi dampak bencana pesisir dan pencemaran laut (Kementerian Kelautan dan Perikanan, 2012). 

Jika seminar yang dilakukan merupakan satu itikad baik untuk mengembalikan harkat dan martabat sebagai daerah pesisir dengan basis kelautannya maka hanya satu hal yang bisa disarankan yaitu bahwa tata kemaritiman harus berujung pada positif impact for society dalam artian bahwa  penataan harus memberikan dampak positif pada masyrakat khususnya masyrakat yang berada di sekitar wilyah yang akan dikembangkan Tanjung jabung barat sebagai wilayah memiliki potensi laut perlu memperkuat komitmen dalam pengembangan kelautan itu sendiri, demi mewujudkan visi indonesia sebagai poros maritim dunia.
 
Meskipun didalam nawacita sudah terlihat semangat dalam pembangunan sektor kemaritiman hal tersebut pun harus didukung penuh oleh semua steakholder khususnya pemerintah daerah yang menjadi sentra pengembangan. Hal ini merupakan kebijakan strategis, mengingat memang indonesia merupakan negara bahari yang dikelilingi oleh lautan. Seluruh alur pelayaran dunia akan melalui lautan indonesia sebagai jalur strategis sehigga harusnya dapat dimanfaatkan oleh indonesia sebagai pendekatan diplomasi dalam menjadikan indonesia sebagai poros maritim dunia. 

Penegasan safrial mengarah pada optimisme, bahwasanya jika tata kemaritiman dioptimalkan secara baik maka masyrakat akan mendapatkan manfaat, tanjung jabung barat akan maju dan berkembang.

Sebagaimana halnya teori lain yang dikemukakan oleh alferd thayer mahan mengenai persyaratan yang harus dipenuhi untuk membangun kekuatan maritim, yaitu posisi dan kondisi geografis, luas wilyah, jumlah dan karakter penduduk, serta yang paling penting adalah karakter pemerintahnya.

Kini saatnya kita memulai aksi nyata untuk indonesia, membagikan kebahagiaan nyata, mengembalikan kejayaan nusantara dimasa lalu dengan mewujudkan indonesia poros maritim dunia yang menjanjikan kesejahteraan rakyat. Mari kita dukung program bupati safrial dan joko widodo dapat terwujud untuk mengembalikan kejayaan lewat poros maritim dunia.  bangsa indonesia adalah bangsa yang besar, sejak dahulu sudah ditadirkan untuk menjadi negeri dengan kekayaan dilaut dan di darat.mari wujudkan indonesia sebagai macan asia, menjadi poros maritim dunia "jalesveva jayamahe".


*Penulis adalah kasubag Humas Tanjabbarat.

KOMENTAR DISQUS :

Top