Selasa, 12 November 2019 |
Wisata & Budaya

Menapaki Pesona Negeri Bersama Asian Agri

Jumat, 12 Agustus 2016 22:47:41 wib
Kegiatan Visit Media Asian Agri

JAMBIDAILY WISATA-Menapaki Pesona Negeri Bersama Asian Agri, itulah salah satu agenda lain dari Kegiatan Visit Media Asian Agri to R&D Bahilang Asian Agri dari tanggal 08 hingga 10 Agustus 2016 lalu.

Kegiatan ini merupakan salah satu upaya Asian Agri ikutmendorong pertumbuhan pariwisata, yang merupakan salah satu program Pemerintah saat ini.

"Asian Agri selalu fokus dan selaras dengan program pemerintah,"ungkap Head Corporate Communication Asian Agri, Maria Sidabutar didampingi Humas Asian Agri Lidya Veronica, yang turut dalam kegiatan tersebut bersama 10 Pimpinan Media-PWI Jambi menapaki Pesona Desa Tomok Pesisir Timur Pulau Samosir Sumatera Utara.

Melayari Danau Toba Menuju Desa Tomok Samosir

Keberadaan Desa Tomok yang dikenal sebagai pintu gerbang Pulau Samosir itu sungguh merupakan salah satu sebuah potret kekayaan destinasi wisata budaya.

Seakan temali mutiara yang indah, untuk mencapai desa tomok, para peserta Visit Media Asian Agri telah dimanja dan kebanggaan yang membuncah atas kekayaan bumi pertiwi.

Sejak melangkahkan kaki ke Kapal Fery "Rini" yang dicarter khusus dari dermaga Inna Hotel Parapat melayari keindahan danau toba selama 1 jam, keindahan alam semata yang terlihat kemana mata memandang lingkar danau toba menuju gerbang Desa Tomok. 

Tak urung momen tersebut menjadi ajang berburu foto bagipara peserta, ditengah ayunan lembut kapal fery yang seakan telah menyatu dengan danau tekto-vulkanik seluas 100 kilometer dan lebar 30 kilometer itu.

Tak terasa 60 menit berlalu, kapal fery merapat didermaga desa dimana bermakam Raja Sidabutar itu.

Mengunjungi Wisata Budaya Desa Tomok, penulis beserta peserta lainnya menelusuri jalan setapak yang dipenuhi berbagai dagangan para UKM menjaja pakaian dan benda-benda etnik khas Batak.

Menari Sigale-gale, Horas..Horas..Horas

Dipandu Johan Sidabutar, para peserta menggunakan selendang ulos dan toga khas Batak, dijelaskan gerakan- gerakan tarian Sigale-gale.

Para peserta yang sangat menikmati tarian Sigale-gale , mengikuti gerakan pemandu, berkeliling diahadapan patung Sigale-gale yang ikut menari mengikuti irama musik khas Batak Toba, yang diakhiri teriakan Horas..Horas..horas sambil mengibas ujung ulos keatas sebagai ucapan persahabatan dan selamat datang di Desa Tomok Samosir Bumi Sidabutar.

Konon tarian Sigale-gale sebagai tarian yang memiliki aroma mistis sebagai obat kerinduan Raja Rahat atas kematian anak tunggalnya yang tampan Pangeran Sigale-gale.

Atas saran seorang Tabib kerajaan, dibuatlah patung kayu yang menyerupai sang pangeran yang kemudian dengan ilmu sang tabib memanggil roh sigale-gale hingga patung tersebut manortor dengan iringan lagu Gondang Mula-mula, Gondang Somba dan Gondang Mangaliat sebagai obat Raja Rahat yang sangat merindukan sang putera gugur di medan perang.

Berkunjung ke Makam Raja Sidabutar

Usai menari Sigale-gale, para peserta dipandu Johan Sidabutar yang merupakan warga setempat, mengunjungi makam raja batak, Raja Sidabutar.

Mengikuti adat setempat, sebelum memasuki areal Makam Raja Sidabutar, para peserta satu persatu memakai kain adat batak (ulos).

"Disini ada makam Tiga Raja beserta kerabatnya,"jelas Johan Sidabutar kepada para peserta yang diwajibkan duduk tertib dihadapan tiga makam raja tersebut.

Secara ringkas dijelaskan Johan, perjalanan sejarah ketiga raja dan perannya dalam peradaban desa tomok.

Ada beberapa filosopi dan sikap terpuji yang harus dijunjung masyarakat Batak dari masing-masing simbol yang ada dari makam raja Sidabutar.

"Pada makam raja pertama yang menggendong anak, menunjukkan suku batak sangat menyayangi anak-anaknya."

Terlihat pada makam ketiga raja, selendang tiga warna, Putih, Merah dan Hitam, yang melambangkan kesucian (Surga-putih), Ketenangan (Bumi-Merah) hitam melambangkan kematian.

Yang menarik pada gerbang belakang makam terlihat ukiran cicak menghadap empat payudara wanita.

"Ini memiliki filosopi, bahwa orang Batak harus bisa hidup seperti cicak, mudah beradaptasi diperantauan dengan menempel dimana-mana. Sementara payudara merupakan simbol bahwa orang batak harus memiliki banyak anak, tidak melupakan ibunya, tidak melupakan isteri dan tanah kelahirannya,"papar pria yang mengaku pernah tinggal di Jambi itu.

Akhiri Kunjungan di Museum Batak Samosir

Masih dipandu Johan, diakhir kegiatan para peserta diajak melihat peradaban masyarakat batak melalui peninggalan benda-benda purbakala, mulai dari bentuk rumah, peralatan tidur, senjata dan benda-benda lain khas Batak Samosir.

Hmmm memang kita negeri yang berbudaya dan dianugerahikeindahan alam yang mempesona...Horas...Horas ..Horas(*)


Penulis    : Hery Fr
Foto        : Doc.humas Asian Agri

KOMENTAR DISQUS :

Top