Senin, 19 November 2018 |
Wisata & Budaya

Mengenal Ekpresi dan Kebebasan Jiwa Dalam Budaya Krinok Jambi

Kamis, 22 Oktober 2015 22:28:27 wib
Seni Krinok (ft Kemendikbud.go.id)

JAMBIDAILY BUDAYA-Ekpresi kebebasan jiwa dalam lantun tutur, itulah salah satu ciri khas budaya Krinok Jambi yang menjadi asset budaya dan salah satu Warisan Budaya Takbenda Indonesia.

Sangat disayangkan, Kekayaan budaya yang telah ditetapkan sebagai Warisan Budaya Takbenda Indonesia oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI pada tanggal 16 Desember 2013 lalu itu, seakan kurang populer di sebagian masyarakat.

Baca Juga: Mengenal Kesenian Kompangan Jambi

Mengutip dari laman tourismjambi.info, menyebutkan, Krinok merupakan tutur kata yang dilantunkan dengan irama dan diiringi melodi dengan cengkok yang khas.

Pada awalnya Krinok ditutur atau dilantunkan sebagai pelampiasan perasaan atau ekspresi emosi penutur itu sendiri tanpa iringan musik atau melodi apapun sehingga lirik atau kata-kata yang diungkapkan bersifat bebas sesuai suasana hati penutur pada saat itu yang dituturkan dalam bentuk pantun dalam nada tinggi.

Seiring dengan perkembangan zaman, tradisi lisan masyarakat Melayu Kuno ini menjadi sebuah pertunjukkan yang diiringi dengan biola, gong, gendang dan kulintang kayu dan menjadi musik latar dalam pertunjukan Tari Pauh yang ditampilkan pada saat Beralek Gedang atau Baselang dalam masyarakat adat Kabupaten Bungo.

Krinok merupakan salah satu seni vokal tradisi yang dimiliki masyarakat Melayu di Kecamatan Rantau Pandan Kabupaten Muara Bungo.

Sementara itu, ulasan tentang krinok sendiri ditulis secara rinci oleh salah satu pencinta budaya krinok Febri Febriyandi YS yang dituangkan dalam laman febriyandiys.blogspot.co.id, dengan pandangan Krinok dari Seni Vokal ke Seni Pertunjukkan.

Sedangkan salah satu seniman Jambi, Ja'far Rassu, sebagaimana dikutip dari laman budaya-indonesia.org, mengatkan, Dia menduga cikal bakal krinok sebagai sebuah seni suara telah ada jauh sebelum masuknya agama Budha ke wilayah Jambi. Pada masa itu seni vokal digunakan untuk pembacaan mantra atau do’a tertentu, inilah yang kemudian berkembang menjadi kesenian krinok.

Terlepas dari semuanya tentang krinok, budaya yang merupakan kekayaan Jambi dan Nusantara ini wajib kita jaga dan lestarikan.(*/SUS)


Berbagai Sumber

 

 

KOMENTAR DISQUS :

Top