Kamis, 23 November 2017 |
Wisata & Budaya

Mengenal Kesenian Kompangan Jambi

Minggu, 18 Oktober 2015 12:26:26 wib
Atraksi Kompangan (foto:melayuonline.com)

JAMBIDAILY BUDAYA-Siapa yang tak kenal kompangan (Hadra).  Kesenian yang selalu mewarnai setiap perhelatan kegiatan adat di Jambi.

Namun mungkin banyak diantara kita yang belum mengenal apa itu kompangan dan perkembangan kesenian tersebut di Provinsi Jambi khususnya.

Dari penelusuran jambidaily.com, melalui laman http://jiwaterbelenggu.blogspot.co.id, menyebutkan, Hadra yang pertama kali ada di Provinsi Jambi bernama Sambilan, singkatan dari nama-nama pendirinya, Safaidin, Ahmad, Marzuki, Burhanudin, Ibrohim, Jalil, Ahmad Jalil dan Nawawi. Diperkirakan Sambilan lahir tahun 1943.

Sambilan mulai aktif di Kampung Tengah, Seberang Kota Jambi. Pendirinya berasal dari Kampung Tengah, dua dari luar Kampung Tengah. Nawawi dan Jalil. Nawawi berasal dari daerah Sungai Maram dan Jalil dari Kampung Arab Melayu.

Awal pendirian Hadra Sambilan sangat alot. Setelah berdiri, pergerakan mereka pun terseok-seok. Alat-alat musik pertama dibuat dari kulit sapi yang dibentuk bulat menggunakan kayu. Cukup sulit membuat satu rebana (kompangan) di jaman itu.

Hadra mulai dikenal masyarakat setempat sebagai musik tradisional yang Islami. Arak-arakan pengantin mulai menggunakan jasa Hadra. Selain itu, digunakan pula untuk hajatan lain seperti cukuran anak, marhabah, dan menyambut tamu-tamu agung.

Untuk kostum, anggota grup Sambilan mengenakan pakaian ala raja-raja Melayu jaman dulu. Yakni, baju muslim dengan kain songket di selempang dan pinggang. Kepala pemusik menggunakan kain yang digulung seperti topi runcing.

Sekitar tahun 1980-an, seni budaya Hadra sangat diminati masyarakat Jambi. Tapi, memasuki tahun dua ribuan ke atas, peminat Hadra mulai menipis. Masyarakat yang sering memakai jasa grup Hadra kebanyakan dari wilayah Seberang Kota Jambi saja. Sedangkan di wilayah Provinsi Jambi Hadra mulai ditinggalkan.

Berawal dari grup Sambilan, Hadra mulai tersebar ke seluruh kabupaten. Di antaranya, Kabupaten Muaro Jambi, Merangin, Tebo, Bungo, Tanjung Jabung Timur, Tanjung Jabung Barat dan Kabupaten Batanghari. Walaupun di seluruh kabupaten sudah ada Hadra, jumlahnya kian lama kian menyusut.

Sekitar tahun 1999, Hadra kota resmi dibentuk pada saat Festival Hadra digelar oleh Persatuan Pengajian Remaja Al-Hidayah Rt 09 Kelurahan Sungai Putri, Kecamatan Telanaipura. Pada saat itu, Bunyamin Yusuf yang merupakan salah satu guru besar Hadra Provinsi Jambi mempunyai gagasan untuk mempatenkan organisasi Hadra Kota Jambi bersama dengan Kms Halim, Joko Purwoko, Didi, dan beberapa orang lainnya yang peduli terhadap perkembangan Hadra. Mereka akhirnya membuat satu organisasi yang bernama Ikatan Dewan Hadra Anggut (IDHA) Kota Jambi.

Setelah organisasi hadra Kota Jambi berdiri, gairah masyarakat terhadap Hadra pada mulai tinggi lagi. Lambat laun, organisasi serupa mulai bermunculan di Kota Jambi.

Setelah berdirinya Ikatan Dewan Hadra Anggut Kota Jambi, barulah pada tahun 2001 dibentuk Ikatan Dewan Hadra Provinsi Jambi yang dirumuskan oleh beberapa orang. Pendirian dilaksanakan di Museum Perjuangan Rakyat Jambi. Bunyamin Yusuf kembali terpilih sebagai ketua dengan mengayomi 120 grup hadra.

Meski organisasi terus berkembang, namun peminat musik Hadra sudah terlanjur menipis. Apalagi sejak tahun 2007, perkembangan Hadra di Kota Jambi sudah mulai berkurang. Penyebabnya, generasi muda yang telah terpengaruh oleh budaya luar tak lagi tertarik mempelajari kompangan.(*/SUS)


Berbagai sumber

KOMENTAR DISQUS :

Top