Jumat, 24 November 2017 |
Wisata & Budaya

Mengintip Tradisi Unik 1 Muharam, Kirab Kebo Bule di Solo

Selasa, 13 Oktober 2015 16:31:32 wib
Kirab Kebo Bule Malam Satu Suro di Solo. (U-Report)

JAMBIDAILY BUDAYA-Berbagai macam tradisi di Nusantara dalam menyambut tahun baru Islam yang ditetapkan pada tanggal 1 Muharam atau lebih dikenal dengan 1 suro.

Salah satu tradisi unik menyambut 1 Muharam yang hingga kini terus dilestarikan adalah Kirab BudayaKebo Bule Kyai Slamet.

Budaya di Kota Solo ini, merupakan warisan dari Kerajaan Islam Kasunanan Surakarta yang merupakan salah satu dari pemisahan Kerajaan Islam Mataram.

Tak heran banyak budaya yang diwarisi dan terus dilestarikan hingga kini, budaya yang mewarnai momen-momen penting dalam islam, seperti dalam penyambutan tahun baru 1 Muharam.

Sebaimana dikutip dari laman Vlog/tempatwisataterindah.com, menyebutkan, Nama Kyai Slamet sebenarnya bukanlah nama dari hewan kerbau bule, namun nama dari pusaka kerajaan yang bersipat ghaib. Kerbau bule inilah yang bertugas menjaga pusaka kerajaan Kasunanan Surakarta tersebut.

Karena hanya sang raja saja yang dapat melihat pusaka tersebut, maka banyak orang menganggap Kebo bule itu sebagai Kyai Slamet.

Sedangkan terkait sejarah Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro, disebutkan, Pada saat Pemerintahan Pakoe Boewono II, sekitar abad ke 17 yaitu saat Kerajaan Mataram masih di Kraton Kartasura, diceritakan bahwa di kerajaan terjadi sebuah pemberontakan yang dilancarkan oleh Pangeran Mangkubumi yang membuat Raja Pakoe Boewono II harus melarikan diri ke Ponorogo.

Di Ponorogo beliau ditampung oleh Bupati Ponorogo dan tinggal di sana untuk beberapa waktu hingga kondisi aman. Pada masa pelariannya di Ponorogo tersebut, Sang Raja Kartasura itu mendapatkan petunjuk gaib atau wangsit bahwa pusaka Kyai Slamet harus ‘direkso’ atau dijaga oleh sepasang ‘kebo bule’ atau kerbau albino jika ingin kerajaan aman dan langgeng.

Atas Kuasa Tuhan yang maha Agung, seolah gayung bersambut, Sang Bupati Ponorogo tiba-tiba ingin menunjukkan bhaktinya kepada rajanya dengan mempersembahkan sepasang ‘kebo bule’ kepada sinuwun.

Kebo bule atau kerbau albino adalah hewan peliharaan yang sangat langka, hanya orang tertentu yang memilikinya.  Maka sinuwun Pakue Boewono II menerima dengan baik ‘pisungsung’ (persembahan) sang bupati dan berterimakasih atas persembahan yang sangat sesuai dengan kebutuhannya. Sinuwun membawa sepasang kerbau bule itu kembali ke Kraton Kartasura setelah pemberontakan usai dan hingga kerajaan berpindah tempat ke Desa Sala dan berganti nama menjadi Kraton Surakarta Hadiningrat.

Dalam peringatan naik takhta Paku Boewono VI, sekaligus pergantian tahun dalam penanggalan Jawa malam 1 Sura, muncul kreativitas menghadirkan sosok kebo bule yang dipercaya sebagai penjelmaan pusaka Kyai Slamet dalam kirab pusaka.

Keunikan Kirab Kebo Bule Malam 1 Suro sebagai event peringatan malam Tahun Baru Islam pada 1 Suro dengan kirab Kebo Bule Kyai Slamet menjadkan satu atraksi budaya yang menarik bagi masyarakat sekitar.

Bahkan pengunjung yang datang tidak hanya dari Kota Solo sendiri namun juga dari berbagai kabupaten disekitarnya.

Selama kirab berlangsung, para abdi dalem yang ikut dalam kirab diwajibkan untuk tidak bicara atau tapa bisu. Di sepanjang perjalanan, banyak warga yang berebut untuk menyentuh kerbau yang dianggap keramat ini. Bahkan ada sebagian masyarakat yang memiliki kepercayaan bahwa kotoran kerbau bule ini dapat memberikan berkah. Oleh karena itu kotoran kebo bule yang keluar di sepanjang perjalanan pun tak hampir selalu ada yang mengambilnya.

Ada banyak cerita menarik berhubungan dngan Kebo Bule Kyai Slamet ini. Konon Kerbau Bule ini dibiarkan bebas berkeliaran di mana saja, bahkan sampai pergi ke luar Kota Solo. Apabila kerbau ini memakan sesuatu, misalnya tanaman pertanian, maka biasanya petani membiarkannya dan tidak mengusirnya.

Petani bahkan merasa senang apabila tanamannya dimakan Keebo Kyai Slamet karena hal itu dapat menjadi keberkahan yang tersendiri. Pada saat Kirab malam 1 Suro, keberlangsungan kirab juga tergantung dari Kebo Bule Kyai Slamet ini. Kalau sudah saatnya kirab dia tidak mau keluar, ya berarti kirab akan dibatalkan. Sering kejadian Kirab Malam 1 Suro sampai mundur karena Kebo Bule ngambek gak mau keluar kandang.

Terlepas dari sudut pandang islam memaknai tahun baru islam sebagai perhitungan dalam peradaban islam, tradisi kirab budaya kebo bule merupakan salah salah satu kekayaan budaya Indonesia.(jambidaily.com/SUS)

Editor: Hery FR / Berbagai sumber

 

KOMENTAR DISQUS :

Top