Kamis, 18 Juli 2019 |
Hukum

Menuju Kuala Tungkal, BL dan Sidat Senilai 87 M Digagalkan Polda Jambi, Lewat Pelabuhan Tikus,?

Jumat, 12 Juli 2019 14:31:21 wib
Proses penghimpunan di BKIPM Jambi/Foto: Untung Iskandar

JAMBIDAILY HUKUM - Kepolisian Republik Indonesia Daerah (Polda) Jambi berhasil menggagalkan aksi penyelundupan Benih Baby Lobster dan Benih Sidat senilai 87 Miliar lebih menuju luar negeri, rencananya akan dikirim melalui perairan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjung Jabung Barat. Hal itu menimbulkan dugaan melewati pelabuhan Tikus.

“Benih lobster dan benih sidat ini rencananya akan dikirim melalui perairan di Kuala Tungkal, Kabupaten Tanjab Barat, Provinsi Jambi. Benih lobster dan benih sidat ini akan dibebasliarkan di perairan laut Jawa dan untuk tempatnya berkoordinasi dengan BKIPM Jambi," terang Kapolda Jambi Irjen Pol Drs Muchlis, AS, MH saat menggelar konferensi pers di Mapolda Jambi, Jum’at (12/7/19).

Berdasarkan keterangan yang disampaikan bahwa Penggagalan dari Upaya Penyelundupan Benih Lobster dan Benih Sidat tersebut oleh Subdit IV Ditreskrimsus Polda Jambi di Jl. Lintas Jambi-Tungkal tepatnya desa Sungai Toman, Kecamatan Mendahara Ulu Kabupaten Tanjung Jabung Timur, pada Kamis (11/07/2019) malam, sekira Pukul 23.00 wib.

"Untuk pengemudi dan kernet yang membawa kendaraan bermuatan benih lobster dan sidat itu, saat ini masih dalam pengembangan," Tandas Kapolda Jambi.

Badan Karantina Ikan, Pengendalian Mutu, dan Keamanan Hasil Perikanan (BKIPM) Jambi mendata hasil penggagalan tersebut, sebegai berikut:

  • Benih Sidat: 75.000 ekor yang dikemas dalam 30 dan dibagi kedalam 15 box steyrofoam)
  • Benih Lobster sebanyak 570.550 ekor, dengan rincian 542.200 ekor jenis pasir dan 28.350 ekor jenis mutiara, yang dikemas dlm 2.922 kantong plastik dan dibagi kedalam 100 box steyrofoam
  • Nilai SDI yang dapat diselamatkan dari benih lobster Rp. 87 M, dgn rincian, jenis pasir @150.000 : Rp. 81.33 M dan jenis mutiara @150.000 : Rp. 5.67 M.
  • Nilai dari Benih Sidat (dari Harga Buka Lapak Rp.1000,-/ekor) Rp. 75 jt.

Kamis, 11 Juli 2019 sekitar Pukul 23.00 wib, dengan rincian sebagai berikut:

  • Benih Sidat : 75.000 ekor yg dikemas dalam 30 kantong dan dibagi kedalam 15 box steyrofoam)
  • Benih Lobster sebanyak 570.550 ekor, dengan rincian 542.200 ekor jenis pasir dan 28.350 ekor jenis mutiara, yang dikemas dalam 2.922 kantong plastik dan dibagi kedalam 100 box steyrofoam.
  • Nilai SDI yang dapat diselamatkan dari benih lobster Rp. 87 M, dgn rincian, jenis pasir @150.000 : Rp. 81.33 M dan jenis mutiara @150.000 : Rp. 5.67 M.
  • Nilai dari Benih Sidat (dari Harga Buka Lapak Rp.1000,-/ekor) Rp. 75 jt.

 

Sekilas Mengenal Sidat
Sidat adalah belut laut yang berkuping. Sidat atau belut (ordo Anguilliformes) atau yang biasa disebut belut adalah kelompok ikan yang memiliki tubuh berbentuk menyerupai ular. Kebanyakan hidup di laut namun ada pula yang hidup di air tawar.

Ekspor benih sidat melanggar Permendag nomor 44 tahun 2012 tentang barang dilarang ekspor dan Permen KP Nomor 18 tahun 2009 tentang larangan larangan pengeluaran benih sidat (anguilla spp).

Laman bpsplpadang.kkp.go.id, menerangkan bahwa Sebaran Populasi Ikan Sidat itu ada di Provinsi Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Provinsi Aceh (Pulo Aceh, Kab. Aceh Besar) Sidat ditemukan di Alue Raya, Pasie Balu dan Ulee Paya (Pulau Breueh) dan di Alue Reuyeung (Pulau Nasi, Matrik Sebaran di Pantai Barat dan Timur Aceh)

Kalau dilihat Ikan sidat ini bentuknya sekilas mirip dengan belut namun sebenarnya ikan Sidat ini berbeda dengan belut, ikan sidat memiliki sirip dada, sirip punggung, dan Sirip dubur yang sempurna, sehingga orang menduga sirip itu adalah “daun bertelinga? sehingga dinamakan pula „belut bertelinga?. Ikan Sidat tumbuh besar di perairan tawar, setelah dewasa kembali ke laut untuk berpijah. Dalam siklus hidupnya, setelah tumbuh dan berkembang dalam waktu yang panjang di perairan air tawar, ikan sidat dewasa yang lebih dikenal dengan yellow eel berkembang menjadi silver eel (matang gonad) yang akan bermigrasi ke laut untuk memijah. Setelah memijah, induk akan mati. Karena tingginya harga ikan sidat di luar negeri kini ikan sidat mulai di budidayakan.

Indonesia paling sedikit memiliki enam jenis ikan sidat yakni: Anguilla marmorata, Anguilla celebensis, Anguilla ancentralis, Anguilla borneensis, Anguilla bicolor bicolor dan Anguilla bicolor pacifica. Di Jepang, laboratorium penelitian sidat, berusaha untuk menemukan teknik pemijahan secara buatan seperti halnya kita memijahkan ikan mas, lele dan udang.

Ikan sidat yang ditangkap dari alam khususnya Anguilla bicolor termasuk ikan berlemak rendah dan sedang dengan kadar protein yang tinggi. Salah satu penelitian menghasilkan protein berkisar 17,5- 21,5%, air 71,5-75,9%, lemak 3,3-9,5% dan abu 1,0-1,6%.

Ikan  ikan siidat, Anguilla spp merupakan salah satu jenis ikan yang memiliki prospek karena sangat laku di pasar internasional seperti: Jepang, Hongkong, Belanda, Jerman, Italia dan beberapa negara lain; dengan demikian ikan sidat ini memiliki potensi sebagai komoditas ekspor. Di Indonesia, sidat banyak ditemukan di daerah-daerah yang berbatasan dengan laut dalam seperti pantai selatan Pulau Jawa, pantai barat Sumatera, pantai timur Kalimantan, pantai Sulawesi, pantai kepulauan Maluku dan Irian Barat. Dengan banyak peminat maka peluang bisnis Budidaya ikan sidat patut untuk di kembangkan.

Berbeda halnya di negara lain seperti (Jepang, dan negara negara Eropa), di Indonesia sumberdaya sidat belum begitu banyak dimanfaatkan, padahal ikan liar ini baik dalam ukuran benih maupun ukuran konsumsi jumlahnya cukup melimpah. Faktor kegemaran inilah yang menjadi budidaya ikan sidat belum di maksimalkan.

 

 

(Hendry Noesae)

KOMENTAR DISQUS :

Top