Senin, 17 Juni 2019 |
Wisata & Budaya

Menyelusuri Jejak Rumah Rakit di Sungai Batanghari

Kamis, 08 Oktober 2015 13:30:26 wib
Keindahan rumah rakit tempo dulu (google.co.id)

JAMBIDAILY WISATA-Meski jumlahnya terus berkurang, namun keberadaan rumah rakit (rumah apung-red) di pinggiran sungai Batanghari masih menyisakan kejayaan dan menjadi icon tersendiri bagi tukang ketek wisata yang mangkal di kawasaan wisata Ancol Kota Jambi.

Hal ini dirasakan langsung oleh jambidaily.com bersama beberapa rekan media lainnya, saat berkesempatan melihat kemegahan jembatan gentala arasy sambil menikmati jagung bakar, Rabu sore (07/10).

Ditengah menikmati rasa jagung bakar dengan berbagai rasa, tiba-tiba, seorang pria parubaya yang kemudian diketahui bernama A Yani (42), menawarkan awak media untuk menjelajah sungai batanghari dan melihat rumah rakit.

"Bang, kalau mau kami antar nengok (melihat-red) rumah rakit diseberang,"tawar yang ayah dua anak itu dengan membanderol jasa Rp 30 ribu untuk pulang pergi.

Entah karena jiwa petualangan sebagai awak media, atau memang keberadaan rumah rakit itu sendiri menjadi magnet tersendiri sebagai icon wisata sungai batanghari.

Berbagai khayal terbersit di benak jambidaily.com, saat mendengar rumah rakit Batanghari.    Terbayang keteguhan para penguninya dalam mempertahankan hidup ditengah liukkan ombak disaat kapal melintas pada sungai yang tercatat sebagai sungai terpanjang di Sumatera ini.

Tak terasa gemulai ombak kecil membawa jambidaily.com bersama awak media lainnya, menelusuri pinggiran sungai yang kini diwarnai dengan kemegahan jembatan gentala arasy yang konon merupakan miniatur dari jembatan Ohio Amerika yang dipadukan dengan ornamen khas melayu Jambi.

Setelah berjalan hingga 150 meter dari pangkalan, tampak dari kejauhan beberapa rumah rakit terlihat mengikuti gelombang ombak. Dan tak sabar rasanya ingin menemui salah satu warga yang menempati salah satu rumah dari yang tersisa lima rumah rakit lagi.

Namun sayang, ketika akan berhenti ke salah satu rumah yang direferensi A Yani, sang pemilik tidak ditempat karena sedang mencari nafkah yang juga sebagai pelaku jasa angkut ketek juga.  Entah karena enggan kehilangan waktu atau memang kondisinya seperti itu, sang tukang ketek enggan berlabuh.

"Kito dak enak bang, karena umumnya mereka enggan dipublikasikan dan diwawancara,"jelas A Yani, sambil menyelusuri rumah-rumah tersebut dengan memperlambat keteknya.

Namun beruntung, sebagai pria yang telah malang melintang sebagai penarik ketek puluhan tahun, pria humoris itu dapat sedikit menceritakan tentang jejak rumah rakit.

Diceritakan A. Yani, keberadaan rumah rakit itu telah berlangsung sejak 30 tahun lalu dan pada waktu itu seakan menjadi perkampungan warga pendatang asal Palembang dan sekitarnya.

"Seingat sayo, sudah puluhan tahun dulu bang, dan waktu itu sangat rame.  Namun sekarang banyak warga di rumah rakit pindah ke darat,"jelasnya.

Diakuinya, jejak keberadaan rumah rakit, hingga kini masih menjadi icon yang cukup menarik untuk ditawarkan ke para pelancong lokal.

"Kami biasa menawarkan jasa wisata batanghari ke rumah rakit, candi muara jambi dan ke pelabuhan talang duku,"pungkasnya, seakan meng-akhiri rasa penasaran para awak media.

Satu hal yang pasti, keberadaan rumah rakit di Sungai Batanghari telah memberi berkah bagi para penarik ketek.

Dan yang tak kalah menariknya, wisata sungai menelusuri Sungai Batanghari dapat menjadi salah satu alternatif wisata warga Kota Jambi dan sekitarnya dan menjadi magnet yang luar biasa bagi wisatawan nusantara dan asing.  Meski saat ini keindahan sungai tercemar kabut asap.(jambidaily.com/*)

Penulis: Hery FR/berbagai sumber

KOMENTAR DISQUS :

Top