Selasa, 22 Mei 2018 |
Nasional

Minyak Dunia US$70/Barel, Harga Premium Bisa Rp8.925/Liter

Kamis, 25 Januari 2018 14:47:13 wib
Ilustrasi/Pengisian bahan bakar minyak (BBM)/Foto : REUTERS/Beawiharta

JAMBIDAILY NASIONAL - Harga minyak mentah dunia yang terus merangkak naik dinilai akan mempengaruhi kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nasional secara keekonomian. Alasannya, Indonesia masih menjadi negara Net Importir BBM.

Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance atau INDEF, Eko Listiyanto mengatakan, harga minyak mentah jenis Brent kembali menembus level tertinggi di US$70 per barel setelah selama ini masih berada di kisaran US$50 per barel atau di bawahnya. Hal ini harus diwaspadai pemerintah.

"Ini pertama kalinya harga minyak Brent mencapai US$70 per barel. Salah satu pemantiknya kami duga adalah proyeksi global IMF untuk ekonomi 2018," kata Eko di kantornya, Jakarta Selatan, Kamis 25 Januari 2018. 

Dengan demikian imbasnya, harga jual BBM dalam negeri secara keekonomian pun akan semakin tinggi. Berdasarkan pemantauan INDEF di laman resmi Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas), harga keekonomian BBM pun mengalami kenaikan drastis.

"Ini dengan nilai tukar rupiah rata-rata kemarin di Web BPH Migas. ada perhitungan harga BBM, ada formula nilai tukar dan asumsi harga minyak dunia. Kemarin dengan kurs Rp13.200 per dolar AS, Brent US$70 per barel, harusnya keekonomian premium Rp8.925, minyak tanah Rp7.592, solar Rp9.058, secara keekonomian semuanya sudah di atas," kata dia. 

Menurut dia, pemerintah pun harus segera mengambil keputusan terkait harga minyak dalam negeri sebab konsumsi BBM juga terus mengalami peningkatan. Asumsi anggaran subsidi energi dalam APBN pun dinilai harus disesuaikan dan pemerintah secepatnya perlu memutuskan sikap yang terbaik dalam menetapkan harga BBM.

"Kalau ini data harga BBM di SPBU dan berlaku 16-31 Januari 2018. Pertamax harga Rp8.600, premium seharusnya Rp8.900 dijual Rp6.550 per liter jadi ada gap, ini membengkak," ujarnya.

Pemerintah menurutnya harus segera menyikapi hal ini meski secara APBN kenaikan harga minyak menguntungkan negara dari sisi Penerimaan Negara.

"Kesimpulannya harga minyak melambung, APBN untung, tapi masyarakat akan buntung. Sehingga nantinya akan banyak variabel faktor yang hambat upaya akselerasi ekonomi, dan target 5,4 persen semakin berat," tambah dia.


(VIVA.co.id)

KOMENTAR DISQUS :

Top