Senin, 17 Juni 2019 |
Kesehatan & Olahraga

Miris, RS MMC Jambi Diduga Curangi Gaji Karyawan, THR Hanya di 'Angan-angan Belaka'

Senin, 06 Mei 2019 20:55:19 wib
Foto: japos.co

JAMBIDAILY KESEHATAN - Dugaan yang mengejutkan datang dari Rumah Sakit Mayang Medical Centre (RS MMC) di Jalan Ir. H. Juanda No. 56, Simpang III Sipin, Kota Baru, Simpang III Sipin, Kota Baru, Kota Jambi. 

Padahal melalui Website rsmmcjambi.com (Diakses Pukul: 20.56 wib/Senin, 06/05/2019) menerangkan Rumah Sakit yang saat ini mempunyai bangunan gedung dengan luas total ± 4.250,2 m2  memiliki ± 105 tempat tidur tersebut terdapat pelayanan spesialisasi unggulan seperti Pelayanan Bedah Urologi, Bedah Orthopedi, Bedah Umum, dan pelayanan spesialis lainnya serta pelayanan Gawat Darurat, Radiologi, Farmasi, Laboratorium, Kamar Operasi, Ambulance dan Pelayanan Medical Chek Up.

Dibawah naungan PT. Citra Mayang Radifa, Rumah Sakit Mayang Medical Centre Jambi yang didirikan dengan Akte Notaris Ismet Taufik, SH, Nomor 36, tanggal 22 Nopember 2006. Pada awalnya Rumah Sakit Mayang Medical Centre Jambi ini merupakan sebuah klinik Kegawat Daruratan Medik yang berdiri diatas lahan seluas ± 1.003 m2,  dan hanya memiliki 16 Tempat tidur. Didirikan pada tanggal 18 Juli 2005 di kota Jambi berdasarkan Surat Keputusan Walikota Jambi Nomor 517/1.315/DTK/2005 tentang Izin Tempat Usaha yang sebelumnya juga telah memperoleh izin pendirian bangunan dari Dinas Tata Kota melalui Surat Keputusan Walikota Jambi Nomor 511.3/918/S-KB-2004 tertanggal 6 Juli 2004  dan dilanjutkan dengan Izin Penggunaan Bangunan berdasarkan Surat Keputusan WalikotaNomor 640/017/IPB-DTK/2005 pada tanggal 23 Juni 2005 dan Klinik Kegawat Daruratan Medik Mayang Medical Centre Jambi ini mulai beroperasional pada tanggal 8 Agustus 2005.

Kabar negatif diinformasikan laman japos.co (Senin, 06/05/2019) bertajuk "RS MMC Jambi Diduga Curangi Gaji Karyawan, Lebaran Terancam Tidak Terima THR"  bahwa Dugaan tindakan semena-mena yang dilakukan oleh pihak Rumah Sakit Mayang Medical Center (RS MMC), kepada para karyawan mencuat ke permukaan. Dugaan itu muncul ketika salah seorang karyawan RS MMC menceritakan pengalamannya bekerja di RS yang berada di kawasan Mayang Kota Jambi itu. 

Narasumber yang tidak ingin identitasnya disebutkan mengatakan bahwa karyawan yang ada saat ini tidak jelas nasibnya alias di gantung. Parahnya, gaji yang seharusnya mereka terima sesuai standar harus rela di potong tanpa alasan yang jelas. 

“Karyawan digantung sebagian dirumahkan, bahkan yang kontrak tanpa gaji. Yang karyawan tetap digaji separuh gaji pokok. Dulu gaji Rp 2,4 – 2,5 juta, sekarang hanya terima Rp 1,4 juta. 

Mirisnya, pemotongan upah tersebut telah berlangsung sejak awal tahun 2019. Selain itu, saat narasumber mengecek tabungan di salah satu bank, saldo tabungannya tidak ada di rekening. Padahal sejak tahun 2017 upah yang diterima selalu dipotong untuk tabungan karyawan. Hal ini tentunya semakin membuat narasumber semakin merasa terdzolimi oleh pihak RS MMC. 

Narasumber mengatakan, selain dirinya, karyawan lain telah banyak yang mengeluh atas tindakan pihak RS MMC namun takut untuk berbicara. Bahkan hingga mengundurkan diri tanpa gaji dan pesangon yang jelas. 

Saat ini, narasumber berharap ada kebijakan dari pihak RS MMC. Sebab katanya upah yang diterima tidak mencukupi kehidupan keluarganya. Sedangkan selama ini dirinya merasa telah bekerja dengan baik dan penuh tanggung jawab.  

“Maksud kami kalau memang tidak bisa membayar gaji, silahkan pecat kami tapi beri pesangon, jadi gaji kami dibuat itungan UMP tapi sudah termasuk tunjangan. Padahal dari Depnaker gaji UMP itu bersih diluar tunjangan. Ini bulan puasa, dengar-dengar THR payah keluar,” bebernya. 

Selanjutnya, pada Senin (6/5) saat media mendatangi RS MMC tidak ada satupun pihak RS yang bersedia memberikan konfirmasi. Kurang lebih satu jam menunggu, seorang staf Administrasi memberitahu bahwa pimpinan tidak ada ditempat. “Maaf hari ini pimpinan sedang keluar, jadi tidak bisa ditemui,” ujar staf ADM itu.

Sementara itu, hingga jambidaily.com mempublish berita ini, redaksi belum melakukan konfirmasi lebih lanjut kepada manajemen dan pihak-pihak terkait atas dugaan yang tidak mengenakan ini.

 

 

(Hendry Noesae)

KOMENTAR DISQUS :

Top