Senin, 16 September 2019 |

Mitos Hujan yang Bisa Dijelaskan Secara Ilmiah

Minggu, 10 Mei 2015 05:59:37 wib

JAMBIDAILY IPTEK-Beberapa Mitos Tentang Hujan Yang Bisa Dijelaskan Secara Ilmiah - Tidak hanya masyarakat Indonesia, masyarakat dari negara lain pun masih banyak yang meyakini tentang tahayul, mitos atau hal-hal yang sejenisnya. Salah satunya adalah mitos-mitos tentang keadaan cuaca di hari tertentu.

Masyarakat yang masih meyakini hal-hal seperti itu biasanya menetukan hujan atau cerahnya cuaca berdasarkan keadaan lingkungan sekitar. Namun, selain mitos-mitos yang masih diragukan ternyata ada juga dari beberapa mitos yang menyebar itu benar dan bisa dijelaskan secara ilmiah.

Beberapa Mitos Tentang Hujan Yang Bisa Dijelaskan Secara Ilmiah

1. Kebenaran pawang hujan di luar negeri

Di Indonesia, negara kita tercinta ini, pawang hujan masih identik dengan hal-hal yang berbau mistis,  walaupun begitu tapi tetap saja jasa para dukun pawang hujan masih laris manis dan sering di pakai untuk acara-acara penting di ruangan terbuka, misalnya saja untuk acara pernikahan seseorang, keluarga biasanya menyewa jasa dukun pawang hujan itu agar bisa membuat acara pesta pernikahan menjadi ramai tanpa adanya kendala hujan.

Masyarakat meyakini dukun tersebut bisa memindahkan hujan ke tempat lain bahkan lebih saktinya lagi bisa menahan turunnya hujan! Biasanya para dukun yang dianggap sakti itu melakukan ritual tertentu seperti meletakan sapu terbalik, menusuk bawang dan cabai yang dianggapnya hal seperti itu mampu untuk memindahkan hujan bahkan menahannya.

Ritual-ritual seperti itu sama sekali tidak bisa dijelaskan kebenarannya secara ilmiah, karena penurut para ahli huja tidak bisa dipindahkan, namun hujan bisa direkayasa.

Di Indoensia sendiri rekayasa hujan pernah beberapa kali dilakukan, misalnya saja ketika gunung merapi meletus, para ilmuwan sengaja mempercepat turunnya hujan demi menahan laju lava yang turun ke desa-desa.

Rekayasa hujan juga pernah dilakukan saat bencana kebakaran riau untuk menghentikan asap yang sudah sangat menyebar demi menyelamatkan masyarakat. Rekayasa hujan ilmiah seperti ini dilakukan dengan cara menaburkan butiran garam di atas awan untuk memancing hujan turun membasahi bumi, tapi cara ini masih membutuhkan biaya yang besar sehingga sangat jarang dilakukan di Indonesia, namun rekayasa hujan ini sama sekali jauh dari praktek-prakterk mistis, para ilmuwan bukan memindahkan hujan tapi bisa mempercepat hujan datang.

Di luar negeri, rekayasa hujan sering dilakukan saat mempersiapkan perayaan besar seperti olimpiade, piala dunia dan lain sebagainya, hujan sengaja diturunkan beberapa hari dari sebelum acara diadakan sehingga pada saat acara dilangsungkan awan mendung yang diatas stadion atau tempat acara sudah habis dan hujan tidak akan turun lagi. Bahkan di perancis ada perusahaan bernama Oliver's Travel yang sengaja menyediakan jasa pawang hujan seperti ini.

Tidak tanggung-tanggung, bayaran yang mereka patok untuk satu hari acara adalah sebesar £100,000 atau hampir 2 miliyar rupiah, waw.. tapi dengan harga fantastis ini oliver's travel menjamin 100% tidak akan turun hujan pada saat acara penting itu berlangsung. Dilansir dari www.dailymail.co.uk, merekalah yang menjadi pawang hujan ketika olimpiade beijing 2008, konser Paul McCartney dan pernikahan akbar pangeran  William bersama Kate Middleton.
 
2. Hujan saat perayaan imlek di Indonesia

Masyarakat tionghoa di Indonesia meyakini saat mereka merayakan imlek akan terjadi hujan besar, semakin besar hujan turun semakin besar pula berkah yang akan didapat, itu keyakinan dari sebagian orang. Hujan selalu turun saat perayaan imlek bukanlah mitos, karena jika diteliti hampir disetiap imlek di Indonesia hujan memang selalu saja turun, namum permasalahannya apakah imlek yang menyebabkan hujan turun? Di tempat asalnya sendiri imlek merupakan acara sakral bagi mereka yang menganut ajaran tridharma, imlek dirayakan atas ungkapan sukur datangnya musim semi yang penuh pengharapan untuk menggantikan musim dingin.

Masyarakat tionghoa yang tersebar di seluruh dunia juga menyebarkan ajaran ini termasuk yang tinggal di Indonesia, sedangkan upacara Imlek di Indonesia selalu saja bertepatan dengan musim hujan, sehingga tidak heran donk jika imlek disini selalu saja diwarnai dengan munculnya angin dan hujan besar. Menurut pantauan BMKG, pada akhir januari hingga februari hujan memang akan turun diseluruh Indonesia, jadi jelas dengan alasan itu benar-benar tidak mengherankan jika setiap imlek terjadi hujan.
 
3. Jangan menggunakan Hp saat petir

Petir terjadi ketika dua awan yang berbeda muatan bertemu dan menghasilkan aliran listrik, biasanya ketika petir itu terjadi disaat keadaan hujan dan angin yang bertiup kencang.

Para orang tua sering melarang anak-anaknya agar tidak menggunakan Hp ketika petir, pertanyaannya adalah apakah benar Hp  bisa menjadikan kita tersambar petir? Hp mengalirkan gelombang elektromagnetik jika dalam keadaan aktif, gelombang ini juga bisa menjadi penghantar listrik. Ketika ada petir gelombang elektromagnetik bisa memancing aliran listrik pada petir dan bisa menyambar pengguna Hp, pada tegangan tertentu yang dihasilkan bahkan bisa mengakibatkan hal fatal dan kematian bagi korban. Jadi sebaiknya untuk berjaga-jaga memang lebih baik jangan menggunakan Hp saat petir, terutama ketika petir sedang menyambar kencang-kencangannya.
 
4. Jangkrik yang dianggap bisa memperkirakan hujan akan turun

Jangkrik merupakan salah satu serangga yang sering di buru oleh anak-anak usil untuk bermain, kebiasannya bersembunyi di semak-semak membuat jangkrik tidak bisa ditemukan dengan mudah jika tidak bersuara, namun inilah yang dianggap mengasikan bagi anak-anak itu. Di beberapa daerah suara jangkrik ini juga dianggap bisa menjadi indikator cuaca, jika jangkrik bersuara nyaring maka cuaca akan cerah, hal ini bukanlah mitos.

Penjelasnnya adalah suara jangkrik terjadi akibat gesekan antara sayap luar dari serangga itu, semakin tinggi kecepatannya semakin nyaring pula suaranya, sedangkan suhu udara di sekitar dapat mempengaruhi kecepatan sayap jangkrik, pada suhu 18-32 derajat celcius sayap jangkrik bisa bergerak sangat cepat dan pada suhu inilah pula jangkrik bersuara nyaring, pada suhu tersebut cuaca biasanya cerah dan tidak turun hujan.
 
5. Sapi yang dianggap bisa memperkirakan hujan akan turun

Selain jangkrik hewan yang juga bisa dianggap sebagai penanda cuaca adalah sapi, keyakinan  ini muncul di daerah pertanian dan peternakan. Jika sapi tiba-tiba berbaring maka mereka menganggap hujan akan turun, apakah hal itu benar? Menurut penelitian, kulit sapi memiliki tubuh yang sangat sensitif terhadap cuaca panas dan dingin, hal itulah yang menyebabkan sapi cenderung berdiri saat tubuhnya kepanasan, gunanya agar seluruh tubuh mendapatkan udara segar untuk menormalkan kembali suhu tubuhnya, sebaliknya jika suhu mulai dingin sapi akan cenderung berbaring untuk menghangatkan tubuh.

Kulit manusia tidak  sepeka sapi (siapa juga yang mau disamakan dengan sapi, hehe) sehigga kadang manusia tidak menyadari hal ini, namun memang benar ketika hujan turun suhu udara juga akan menurun, saat itulah sapi menyadari hal ini dan akan cenderung berbaring untuk menghangatkan tubuhnya.

Itulah beberapa mitos tentang hujan yang sering terjadi di sekeliling kita, ternyata ada beberapa mitos tentang hujan yang memang benar, bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari dan yang paling penting bisa dijelaskan secara ilmiah. Semoga informasi artikel ini bermanfaat.(Vlog)

KOMENTAR DISQUS :

Top